Lovely Stranger

Lovely Stranger
Kesaksian



Sepucuk surat sudah ada di tangan Hyuna. Wanita itu dibuatnya makin geram. Sandara, kawan lama sekaligus mantan rekan bisnisnya kini berniat menabuh genderang perang. Hyuna meremas surat itu kemudian membuangnya ke tempat sampah. Tak mau ia peduli pada surat panggilan persidangan tersebut. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari perisai media play yang telah ia rencanakan bersama Park Jinyoung.


Namun, sayangnya ia masih tak punya ide. Haruskah ia mengorbankan reputasi sang putri demi menyelamatkan karirnya sendiri? Ah. Hyuna hampir saja gila.


"Tidak mau!" Miyeon menggeleng pada tawaran sang ibu sebelumnya, "ibu mau menghancurkanku, ya? Pokoknya aku tidak mau melakukan media play?" lanjut Miyeon.


"Lalu harus bagaimana? Kalau kasus itu meledak, kau tahu 'kan bukan hanya ibu yang akan hancur tapi kau juga!"


Miyeon menopang dagunya sembari menggerutu. Tiba-tiba Miyeon teringat sesuatu.


"Aku tahu! Ada orang lain yang bisa kita korbankan."


Hyuna melirik ke arah sang putri. "Apa maksudmu? Siapa yang akan kita korbankan?" Ia bertanya.


"Tenang saja, bu. Kali ini biarkan Cho Miyeon yang bekerja menanganinya!" jawab Miyeon penuh ambisi. Kemudian gadis cantik itu keluar dari kantor Bleuuberry. Ia meminta diantarkan oleh Manager Shin menuju ke sebuah kantor berita terkenal di Korea, Dispetch. Sudah sejak lama Miyeon menyimpan nama pasangan yang akan ia jadikan tameng di masa seperti ini.


...♡♡♡...


"Aku sudah melakukan kesaksian di depan media."


Seunghyun menatap tajam sang kawan lama. Ia menaikkan salah satu alisnya. "Kaupikir kesaksianmu berarti? Menggunakan nama staff yang disamarkan tidak membuatmu bisa bebas dari masalah ini."


"Aku tak mungkin terang-terangan menusuk Hyuna dari belakang."


Seunghyun tertawa bosan. Ia mengangguk paham. "Ya-ya ... Usaha yang bagus Park Jinyoung. Panggil media dan lakukan kesaksian lagi! Karna aku ingin nama kekasih putraku segera bersih. Kau mengerti 'kan?"


Pria separuh baya tersebut mengangguk.


Seunghyun beranjak dari tempat duduknya, kemudian mempersilahkan Park Jinyoung untuk pergi.


"Jarang-jarang 'kan, aku mengundang tikus ke rumah," gumamnya.


...♡♡♡...


"Apa yang kau lakukan di situ?" tanyanya setelah turun dari mobil. Yang dipanggil menoleh, ia tersenyum menatap raut Jinu yang masam.


"Aku kira kau ada di rumah, syukurlah kau mau turun dan menemuiku," jawab gadis bersurai hitam tersebut.


"Apa maumu?"


Gadis itu ——Yoon Bomi—— terkesiap. Ia menghela napas panjang untuk berusaha rileks dan menghilangkan kegugupannya.


"Aku ingin minta maaf."


"Tidak perlu," jawab Jinu cepat. Bomi mendongak menatap pria yang lebih tinggi darinya itu dengan tatapan kaget.


"Tidak ada yang perlu minta maaf atau dimaafkan. Semua itu sudah berlalu, apalagi kau telat mengucapkannya," lanjut Jinu.


Gadis di depannya nampak hancur, ia tak menyangka jika Jinu akan menjawabnya seperti ini.


"Aku tahu aku salah."


"Baguslah," Jinu kembali memotong, "jangan ulangi lagi!"


"Aku tak akan pernah mengulangi itu, dan aku ingin kau—"


"Kau sudah bahagia lebih dulu, jadi ijinkan aku untuk bahagia juga."


Bomi terdiam, ia tak bisa berkata-kata.


"Pergi yang jauh. Jangan pernah kembali ... Seperti apa yang pernah kau tuliskan di suratmu dulu," ucap Jinu yang kemudian memutuskan untuk kembali masuk ke mobil dan pulang.


...♡♡♡...