
Jennie berlari menelusuri jalanan ramai di depan balai pelatihan militer. Baru saja tadi pagi Jaewon menghubunginya dan berkata bahwa Jinu akan memulai wajib militer hari ini. Jaewon bilang, karna sibuk mengurus persiapan membuat Jinu tak sempat mengabari Jennie.
"YAKK!!! KIM JINU!!!" pekik Jennie sesaat setelah dapat mengejar laju kaki Jinu yang cepat. Pria itu berhenti dan menoleh ke belakang. Ia dapati Jennie dengan raut muka yang nampak marah.
"Jennie," jawabnya dengan suara lirih. Perlahan Jennie mendekat dan berdiri tepat di depan Jinu. Matanya mulai berkaca-kaca seolah mengisyaratkan kekecewaannya pada sang kekasih.
PLAKKK!!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jinu diikuti air mata yang mulai mengalir di pipi Jennie. Pria yang ditampar kini hanya tersenyum menatap wajah sang kekasih.
"Teganya kau..." Perkataan Jennie terputus ketika ia berusaha menahan air matanya, "kau anggap aku apa? KENAPA TIDAK MENGABARIKU TERLEBIH DULU!" marahnya.
Jinu kembali tersenyum, pria itu menyeka air mata Jennie.
"Maaf, aku tak sempat. Jadi aku menyuruh Jaewon untuk mengabarimu," jawab Jinu.
"Tak sempat? Kita bahkan sering bertemu sebelum ini, aku bahkan tak tahu kalau kau diam-diam mendaftar wajib militer di belakangku! Kenapa kau—"
"Aku sudah mendaftar dua tahun yang lalu," potong Jinu.
"Apa?"
"Saat itu kita belum saling mengenal, dan aku sempat meminta pihak pelatihan untuk menunda wajib militerku. Aku tak mungkin menundanya lagi kali ini," jelas Jinu.
Gadis di depannya hanya terdiam, ia masih menunduk enggan menatap wajah Jinu. Semarah itukah? Tentu saja, bagaimana ia bisa ditinggal sang kekasih tanpa ijin. Apa yang terjadi jika ia tak segera mengetahui kabar dari Jaewon dan tak sempat menemui Jinu? Gadis itu mungkin akan bersedih dan kehilangan semangatnya.
"Maafkan aku, Jennie. Kuharap kau bisa mengerti."
Jennie mengangguk, masih dengan raut kecewa ia berbalik dan mencoba berjalan menjauh dari Jinu. Namun, ia kembali berhenti ia berbalik menatap Jinu yang masih tersenyum memandangnya. Jennie tak bisa pergi begitu saja, ia harus memberikan pelajaran pada Jinu. Ingin rasanya ia memukul Jinu sepuasnya agar rasa kesalnya tercurahkan. Dan, ya, Jennie kembali berlari ke arah Jinu dan memukul dada Jinu berulang-ulang.
"Sudah pergi sana! Jangan berharap kalau aku akan merindukanmu!"
"Baiklah... tapi aku akan selalu merindukanmu, Jennie Kim."
"Aku tidak akan mengijinkanmu merindukanku!"
"Aku bahkan tak memerlukan ijin untuk merindukanmu."
"Kau tidak boleh!"
"Sekeras apa kau melarangku, aku akan tetap merindukanmu."
Jennie menatap pria di depannya dengan air mata yang sudah tumpah dan membasahi pipinya.
"Aku membencimu!" ucap gadis itu dengan bibir bergetar.
"Aku mencintaimu," jawab Jinu cepat. Jennie menarik kerah baju Jinu dan tanpa ijin melayangkan kecupan singkat di bibir si pria.
Chu~
"Kembalilah dengan sehat!" pinta Jennie kemudian. Jinu kembali tersenyum, ia mengangguk. Pria itu mulai memeluk tubuh Jennie dengan erat. Namun, mereka tak bisa lama-lama berpelukan. Jinu harus segera masuk ke tempat pelatihan.
"Sampai jumpa lagi," pamit Jinu yang kemudian melepaskan pelukannya. Pria itu berjalan menuju gerbang tempat pelatihan dan melambaikan tangannya pada Jennie. Gadis itu membalas lambain tangan itu dengan tenaga seadanya.
"Cepatlah kembali! Aku mencintaimu, Kim Jinu."
...***...
"Jennie!" panggil Miyeon yang kini berjalan mendekati Jennie. Gadis itu nampak lain kini, ia terlihat lebih bahagia menjalani karirnya sebagai penyanyi saat ini. Gadis itu datang bersama dengan Yoon. Mereka memang semakin dekat, atau bahkan mungkin memiliki hubungan istimewa.
"Hai, Miyeon. Apa kabar?" balas Jennie.
"Aku baik, bagaimana denganmu?"
"Ya, aku juga baik."
"Kudengar kau baru saja menyelesaikan syuting drama terbaru, bagaimana rasanya?" tanya Miyeon.
"Aku merasa sangat lega ketika berhasil menyelesaikan syuting itu, aku harap drama kali ini mendapatkan rating yang bagus," jawan Jennie.
"Banyak penggemar yang membicarakan soal dramamu, sepertinya itu akan berpengaruh pada rating. Good luck!"
Jennie tersenyum. "Terima kasih, Miyeon. Oh ya, aku dengar kau juga mengisi salah satu soundtrack di drama kolosal yang baru saja selesai diproduksi?"
"Ah itu, benar. Aku sangat senang karna menemukan hal yang bisa kulakukan dengan baik." Miyeon tersenyum. Ia memegang salah satu pundak Jennie. "Semua itu berkatmu, terima kasih."
Jennie tersenyum. Ia ikut senang dengan perubahan Miyeon. Namun, sebenarnya bukan hanya dirinya penyebab dari perubahan Miyeon melainkan juga Yoon.
"Kapan kau dan Yoon akan menyusul Mino dan Jisoo?" goda Jennie. Gadis di depannya tiba-tiba jadi gugup.
"Ahh... I-itu... A-aku. Hei, lihat! Pengantin akan melemparkan bunga!" Miyeon mengalihkan pembicaraan. Jennie tertawa kecil saat itu.
Mereka berjalan mendekat ke arah pengantin, di sana para tamu juga sudah berkerumun untuk bisa menangkap bunga yang dilempar sang pengantin. Semua tamu mulai berhitung.
"SATU...
DUA...
TIGA!!!" seru mereka bersamaan diikuti bunga yang mulai melayang. Tanpa terduga, bunga itu mendarat di pelukan Jennie. Gadis itu terkejut, bahkan ia tak berusaha menangkapnya.
"Wah... Selamat!"
Jennie mendengar ucapan-ucapan itu dari beberapa orang. Ia tersenyum, mungkin setelah ini ia akan mendapatkan keberuntungan.
...***...
Jennie berdiri di depan sebuah rumah bergaya klasik. Tempat itu dulunya sering ia kunjungi. Namun, belakangan ini ia tak lagi ke sana. Ada banyak kenangan yang tercipta di sana hingga membuat Jennie merasa bersedih ketika mengingatnya. Ingin rasanya ia kembali di awal waktu itu untuk menikmati momen yang sebelumnya ia lewati tanpa rasa khawatir. Memang tak dapat dirasakan bahwa waktu berjalan begitu cepat. Gadis itu berdiri di sana karna sebuah janji. Namun, bukankah janji tercipta untuk diingkari?
Jennie merasa bodoh saat ini. Tepat seminggu semenjak waktu yang dijanjikan, pria itu tak datang menemuinya. Mereka tak bisa berhubungan karna ketatnya pengawasan di camp militer. Ia berbalik seperti kemarin dan akan meninggalkan tempat itu dengan tangan hampa. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendapati seseorang yang sudah ia tunggu dua tahun ini kini berdiri di depannya. Pria itu tersenyum.
"Maaf aku terlambat," ucap pria di depannya. Tanpa ba bi bu, Jennie segera berlari meraih tubuh sang kekasih dan memeluknya dengan erat. Ia mulai terisak.
"Apa kau tetap merindukanku meski aku tak mengijinkanmu?" tanya Jennie.
"Iya, setiap hari aku memikirkanmu." Pria itu membalas pelukan Jennie dan makin mengeratkannya.
"Jangan pergi lagi, Jinu-oppa."
"Tak akan!"