Lovely Stranger

Lovely Stranger
Kakak Ipar



Jennie membelalakkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang ia lakukan semalam.


Dasar tak punya malu!


Rutuknya pada diri sendiri. Naasnya ia lupa dengan hal berikutnya yang mereka lakukan.


Semoga tak separah yang ku pikirkan..


Pikir Jennie. Gadis itu melepaskan diri dari dekapan Jinu dengan pelan. Ia tak mau membangunkan Jinu saat ini, tentu ia akan semakin malu.


Ia mencoba bersikap biasa, mandi dan memasak seperti pagi pagi sebelumnya. Dilihatnya Jinu berjalan masuk ke dapur sembari menggaruk garuk kepalanya.


Gasp..


Mendadak tubuh Jennie menjadi kaku, karena gugup menatap Jinu yang nampak bersikap -biasa biasa- saja.


Glek glek glek..


Pria itu meneguk air mineral yang baru saja ia ambil dari kulkas. Jinu menatap ke arah Jennie yang menunjukkan gelagat aneh, pria itu memiringkan kepalanya.


"Kau kenapa?"


Tanya nya.


"Ti-tidak apa apa.."


Jawab Jennie terbata. Jinu justru berjalan mendekat ke arah Jennie, membuat gadis itu berjalan mundur dan makin gugup saja.


"Kau ini kenapa?"


Tanya Jinu sekali lagi.


"Ke-kenapa -apanya -maksudmu?"


Tanya Jennie balik.


"Kenapa kau sangat aneh?"


"Ka-kau yang aneh.. Ke-kenapa kau nempel nempel padaku?.."


Protes Jennie. Pria di depannya melangkah mundur. Benar juga ya, mengapa ia berdiri sedekat itu pada Jennie?.


"Aku mandi dulu, jadi sebaiknya sudah ada makanan di atas meja setelah aku selesai mandi.."


Pinta Jinu yang kemudian berjalan keluar dari dapur.


Jennie menatap bayang bayang Jinu yang mulai menjauh, di dalam hati, ia merasa begitu dongkol pada pria itu.


"Apa apaan dia? Apa dia sama sekali tidak ingat dengan kejadian semalam!"


Gerutu Jennie sembari menyiapkan masakannya di atas meja.


"Mengapa dia bersikap biasa biasa saja? Apa dia tak merasa gugup sama sekali? Ah.. Atau dia sudah sering mencolek colek wanita, makanya dia hanya merasa biasa saja.. Aishhh.."


Lanjut Jennie. Gadis itu duduk di meja makan setelah selesai. Sesekali ia masih mengingat hal yang terjadi antara dia dan Jinu tadi malam.


"Aishh.. Apa yang ku pikirkan?!"


Jennie menggosok gosok pipinya yang memanas.


"Kim Jinu sialan!"


Umpatnya.


"Apa katamu?"


Tanya Jinu yang tiba tiba muncul.


"Ti-tidak apa- kyaaa!"


Jerit Jennie saat mendapati Jinu hanya mengenakan sebuah baju handuk saja sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Yakk.. Mengapa berteriak? Aku tidak telanjang.."


"Yakk.. Mengapa tak pakai baju dulu saja, bukannya malah datang dengan baju handuk seperti itu!"


"Aishh.. Aku sudah lapar, setelah makan aku akan pakai baju.."


Jawab Jinu sembari menarik bangku di meja makannya. Jennie menggeleng keheranan. Mengapa semakin hari, Jinu semakin bersikap seolah Jennie adalah orang terdekatnya dan tak mempermasalahkan apapun yang dilakukan oleh Jinu?.


Ning Nong!!


Bel rumah Jinu berbunyi. Mereka menoleh ke arah pintu masuk bersamaan, kemudian saling menatap untuk beberapa saat.


"Bukakan pintu!"


Pinta Jinu.


"Ba-bagaimana bisa begitu? Kau bilang aku tak boleh membuka pintu sembarangan, bagaimana jika--"


"Aishh.. Itu sudah tidak berlaku, lagi pula semua keluarga ku sudah tahu kalau kau tinggal disini"


Potong Jinu. Mau tak mau, Jennie akhirnya menuruti perintah Jinu. Gadis itu berjalan ke arah pintu dan membukakannya.


Ceklek..


Jennie terdiam untuk sesaat ketika mendapati seorang wanita cantik sudah berdiri di depannya. Ia membawa sebuah kandang berisikan 2 ekor kucing jenis sphynx.


"Apa kau Jennie Jennie itu?"


Tanya wanita muda yang perutnya sudah mulai membuncit itu, Jennie hanya mengangguk.


"Dimana Juju?"


Tanya nya lagi.


"Juju?"


"Ah.. Maksudku Jinu.."


"Dia ada di dalam.. Astaga, kenapa aku tak mempersilahkan mu untuk masuk, silahkan duduk dulu.. Aku akan memanggilkannya."


Jawab Jennie. Wanita di depannya mengangguk, kemudian duduk di sofa sembari mengeluarkan kedua kucing itu.


"Tunggu, bisa kau pegangkan mereka sebentar? Aku harus mencek apakah makanan mereka sudah ku taruh di tas atau belum"


Ucap wanita itu. Jennie hanya mengangguk sambil menerima 2 kucing itu.


Kucing botak ini tidak keren..


Batin Jennie. Kulitnya merasa risih karena bersentuhan langsung dengan kulit kucing tanpa bulu itu.


"Ah sudah ada, oh ya aku buru buru dan suami ku sedang menunggu di mobil.. Jadi aku serahkan mereka padamu saja ya.."


Ucap wanita itu.


"A-apa? Tu-tunggu.. Kau belum memberitahu kau ini siapa? Dan mengapa kau menitipkan kucing kucing ini disini?"


Tanya Jennie.


"Astaga.. Aku lupa memperkenalkan diri, aku Bae Joohyun.. kakak ipar Jinu.."


Jawab wanita bernama Joohyun itu.


"Oh.. Kalau begitu, berarti ini Rei dan Bei? Jinu-oppa menceritakan mereka padaku.."


Ucap Jennie.


"Sayang mengapa lama sekali, dimana Kim Jinu?"


Tanya seorang pria yang baru saja masuk.


A-apa dia kakak Kim Jinu?


Tanya Jennie dalam hati. Pria itu menatap ke arah Jennie untuk sesaat kemudian berjalan masuk ke dalam.


"Dia kakak Jinu, namanya Kim Jumyeon.."


Ucap Joohyun. Jennie hanya mengangguk angguk.


Sementara itu Jumyeon yang hendak menuju kamar Jinu kini berbelok ke arah dapur karna melihat sang adik sedang menyantap makanan dengan lahap disana.


Brakk..


Jinu terperanjat saat Jumyeon tiba tiba datang dan menggebrak meja makannya. Jinu mendongak ke arah sang kakak masih dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Yakk.. Enak sekali ya kau, sudah diijinkan tinggal bersama dengan kekasihmu oleh Ayah dan Ibu.."


Protes Jumyeon.


"Memangnya kenapa? Aku tak membuatnya hamil.."


Balas Jinu.


"APA KATAMU?"


Tanya Jumyeon kesal, pria itu hendak memukul sang adik namun Jinu menghindar dengan cepat. Setelahnya terjadilah adegan kejar kejaran di sekitar meja makan.


"YAKK.. BERHENTI KALIAN!!"


Pekik Joohyun yang seketika mampu menghentikan hal kekanakan itu.


"Jennie, kau lihat sendiri kan mengapa aku tak bisa membiarkan mereka bertemu berdua saja? Inilah yang akan terjadi.."


Jelas Joohyun pada gadis yang dikenal sebagai kekasih Kim Jinu itu. Jennie hanya tertawa pelan menanggapi hal itu.


"Ayo kita berangkat, kita sudah terlambat"


Pinta Joohyun.


"Awas ya, urusan kita belum selesai,"


Bisik Jumyeon pada Jinu yang hanya dibalas dengan uluran lidah saja.


"YAKK.. pakai bajumu, dasar memalukan!"


Ejek Jumyeon sebelum benar benar memutuskan untuk pergi mengekor pada sang istri.


...♡♡♡...