Lovely Stranger

Lovely Stranger
Rencana Perjodohan?



"Ah iya.. Bagaimana, apa kandunganmu sehat? Syukurlah.."


Sandara sibuk bercakap di telepon dan meninggalkan pekerjaannya sejenak. Hyuna tak hentinya tersenyum menatap sahabatnya itu.


"Wah.. Senang sekali ya, kau akan jadi nenek.."


Ucapnya, yang ditanggapi dengan tatapan kesal dari Sandara. Ia menyudahi teleponnya dengan sang menantu dan melanjutkan apa yang ia kerjakan sebelumnya.


Bleuuberry.


Rumah mode milik keluarga Cho itu memang melakukan kerjasama bisnis dengan dirinya dan menjadikan Sandara sebagai desainer baru disana.


"Yakk.. Maksudku, aku sangat senang karna kau akan mendapatkan cucu.. Aku bahkan membayangkan kalau saja Miyeon menikah dan memberikanku cucu yang lucu, pasti itu akan sangat menyenangkan.."


Lanjut Hyuna yang mencoba meluruskan kesalah pahaman itu.


"Oh.. Begitu ya?"


Jawab Sandara yang hanya melirik ke arah Hyuna sejenak.


"Oh ya, kau ingat kan soal apa yang kita bicarakan sebelumnya?"


Tanya Hyuna yang sekali lagi menghentikan apa yang sedang Sandara kerjakan.


"Soal apa?"


Tanya nya balik.


"Aishh.. Kau lupa? Bukankah kita sudah sepakat untuk mengenalkan Miyeon dengan putra keduamu?"


Sandara tertawa pelan. Memang harus berapa kali ia mengatakan bahwa putranya sudah memiliki seseorang?


"Ah itu.. Entahlah, aku belum mengatakan apapun pada Kim Jinu dan lagi pula sepertinya dia sedang dekat dengan seseorang.. Oh ya, bagaimana jika Miyeon kita kenalkan pada putra bungsu ku? Ya, walaupun dia sedikit bandel tapi dia penyayang kok.."


Jelas Sandara. Hyuna menaikkan salah satu alis nya, sekali lagi ia benar masih mengingat pesan Miyeon agar mengenalkannya pada Kim Jinu bukan orang lain sekalipun itu adalah adiknya.


Dia bersama Jennie Kim! Pokoknya aku harus bisa merebut milik Jennie Kim!


Perkataan sang putri masih terngiang di telinga Hyuna. Ia begitu ingat tentang Jennie Kim, sosok yang memang sudah menjadi rival Miyeon sejak menjadi siswi pelatihan dulu.


"Soal itu, sepertinya putri ku lebih tertarik pada Kim Jinu.."


Ucap Hyuna.


...♡♡♡...


Jinu kelabakan mencari obat alergi yang biasa ia taruh di laci kamarnya, benda itu tak ada mungkin saja habis atau Jinu yang lupa menaruhnya dimana.


"Yakk.. Kalau kau alergi kucing, mengapa kau memelihara mereka? Oh.. Jadi ini alasannya mengapa dua kucing botak ini kau serahkan pada kakak ipar mu?"


Tanya Jennie yang saat ini memangku Rei dan Bei.


"Yakk.. Jangan sembarangan ya! Kucing itu seekor harganya 3 juta won.."


Sahut Jinu yang masih sibuk mencari. Namun beberapa saat kemudian ia menyerah.


"Pasti sudah habis.. Letakkan mereka di sofa, ayo kita pergi ke apotek!"


Ucap Jinu sembari menarik lengan Jennie.


Deg deg deg!


Dada Jennie hampir saja meledak, bersentuhan langsung dengan Jinu setelah kejadian semalam membuatnya merasa sangat aneh.


"Ayo!"


Ajak Jinu sekali lagi sambil menatap heran ke arah Jennie.


"Kau ini kenapa? Kenapa wajahmu merah?"


Tanya Jinu.


"Ti-tidak a-apa.."


Jawab Jennie terbata.


"Astaga.. Jangan jangan-"


Jinu menggantung kalimatnya.


Apa dia ingat sesuatu? Apa dia ingat apa yang telah terjadi semalam?


Batin Jennie yang membuat jantungnya makin berdebar tak karuan.


"Apa kau terkena penyakit gagap?"


Lanjut Jinu setelah beberapa saat berpikir.


Ga-gagap?


"YAKK!! MENGAPA KAU TIDAK PAHAM JUGA?!"


Kesal Jennie kemudian, hal itu hanya dibalas dengan tatapan penuh tanya oleh Jinu.


Tanya Jinu yang sekaligus membuat Jennie makin kesal.


"YAKK.. APA KAU BENAR BENAR LUPA? BAGAIMANA KAU BISA SEMUDAH ITU LUPA?"


"Lupa? Soal apa?"


"APA KAU LUPA DENGAN APA YANG TERJADI SEMALAM? KENAPA KAU BEGITU MENYEBALKAN!"


Jennie mengibaskan tangan Jinu, gadis itu bergegas dan hendak menuju kamarnya. Namun Jinu kembali meraih lengan Jennie, hingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya.


"Jennie Kim-"


Panggil Jinu. Gadis itu menoleh.


"Tolong ceritakan apa yang sudah terjadi!"


Pinta Jinu.


"TIDAK MAU!"


Jawab Jennie yang kemudian masuk ke kamarnya.


Jinu hanya menggaruk garuk kepalanya karna bingung. Pria itu mengurungkan niatnya untuk pergi ke apotek membeli obat alergi. Ia kembali terduduk di sofa dan mencari kucing kucingnya.


"Rei? Bei? Kalian dimana?"


Panggil Jinu. Pria itu melihat ke kolong meja, dua kucingnya ternyata sedang berada disana sedang memainkan karpet bulu yang menjadi alas tempat itu.


"Yaakk.. Kenapa kalian berduaan di kolong meja?.."


Jinu terkikik pelan. Tiba tiba sekelebat ingatan melintas di otaknya.


Pria itu terdiam di tempat nya dan masih menengok ke kolong meja. Seperdetik kemudian ia terperanjat hingga membuat kepala nya terantuk meja.


Brakk..


"Arghhh.."


Jinu mengaduh dan mengusap kepala bagian belakangnya.


"Sial!"


Umpatnya. Ia buru buru menuju kamar Jennie untuk meminta maaf atas kejadian yang terjadi semalam, namun belum sempat ia mengetuk pintu, Jennie sudah muncul di depannya karna ingin keluar.


Gasp!


Keduanya terdiam saat posisi mereka begitu dekat.


Jennie mundur satu langkah dari tempatnya agar sedikit lebih jauh dari Jinu.


"Ma-mau apa kau?"


"Maafkan aku.."


Sahut Jinu tiba tiba. Jennie mendongak ke arah pria di depannya, dengan raut penuh tanya.


"Aku mengingat sesuatu yang terjadi di kolong meja- dan- a-anu.."


Lanjut Jinu, namun ia nampak sungkan untuk mengatakan apa yang ia ingat.


"Apa?"


Tanya Jennie.


"A-aku tak sengaja.. Sungguh.."


Ucap Jinu tak jelas. Jennie hanya menunduk, sebenarnya ia merasa makin canggung saat ini.


"I-itu.. Tidak apa apa-"


"Benarkah?"


Jinu mengguncang pelan kedua lengan Jennie. Gadis itu mengangguk, kemudian kembali menunduk. Otaknya segera dikelabuti oleh pikiran pikiran mesum yang pekat.


Bagaimana jika dia mau mengajakku berciuman lagi? Bagaimana jika dia menginginkan hal yang lebih? Bagaimana jika dia meminta keperawananku?


Batin Jennie yang mulai resah.


"Syukurlah.. Aku kira kau akan marah padaku karna aku tak sengaja membuatmu mabuk dan tertidur di kolong meja.."


Ucap Jinu dengan lega.


Kolong meja? Maksudnya apa? Apa dia masih belum ingat?


Batin Jennie kesal.


"YAAKK!! DASAR DOGGIE PIKUNNN!!!"


...♡♡♡...