
Aktris Kim Jisoo dikabarkan berkencan dengan Rapper Mino.
Jisoo membulatkan matanya ketika melihat berita di situs Fann hari ini. Bagaimana bisa orang orang menerbitkan berita semacam ini?
Tak berapa lama setelah itu, sang manajer memasuki ruangan milik Jisoo dengan wajah paniknya.
"Kenapa?"
Tanya Jisoo tak kalah panik.
"Nam CEO ingin bertemu dengan mu.."
Jawab sang manajer. Jisoo mengacak rambutnya dengan kasar. Ia yakin bahwa sang CEO pasti akan menanyakan soal hal ini.
Buru buru ia pergi ke kantor agensi yang hanya terletak tak jauh dari apartment nya. Gadis itu melangkah ragu menuju ke ruangan CEO, ia terkejut ketika membuka pintu ruangan tersebut dan mendapati Mino sudah duduk disana bersama Nam CEO.
"Pa-pagi.."
Sapa Jisoo. Raut raut serius itu begitu kental terpatri di wajah kedua sahabat itu.
"Masuk.."
Pinta Nam CEO. Jisoo masuk dan duduk di samping Mino, ia siap untuk disidang.
"Bukankah sudah ku bilang, jaga hubungan kalian, jangan sampai ketahuan.."
Ucap pria bernama lengkap Nam Taehyun itu.
"Kenapa harus mempedulikan artikel bodoh itu? Tak ada bukti spesifik ataupun foto yang mereka sertakan, anggap saja artikel itu tak berguna.."
Jawab Mino cuek. Pria itu memang sudah kelewat akrab dengan Taehyun.
"Tapi bagaimana jika orang orang terus berspekulasi tentang berita kencan kalian?"
Tanya Taehyun ragu. Jisoo hanya dapat diam, ia tak tahu harus menjawab apa.
"Abaikan saja.. Kami tak mau mengumumkan apapun, apalagi mengaku bahwa kami tak punya hubungan apa apa.."
Jawab Mino.
"Aishhh.. Ini membuatku pusing.."
CEO muda itu memijat pelipisnya. Ia sudah bersusah payah membesarkan agensi kecilnya dengan hanya mengandalkan satu aktris yaitu Jisoo dan satu rapper yaitu Mino. Ia tak ingin kesuksesannya saat ini hancur hanya karna skandal dua artisnya.
"Tak usah ambil pusing.. Orang orang akan tetap menaruh kepercayaannya pada kami ataupun The South, kau tak perlu khawatir.."
Ucap Mino sekedar menenangkan Taehyun.
...♡♡♡...
Setibanya di rumah, Jinu tak langsung mandi ataupun makan. Ia memutuskan untuk melanjutkan lukisan yang ia buat tempo hari. Perlahan tangannya mulai menggerakkan kuas itu, dan merubah rambut hitam yang ia buat sebelumnya menjadi berwarna coklat. Sama seperti rambut Song Yuqi. Jinu mulai memberikannya goresan melengkung lengkung sehingga menimbuklan kesan ikal. Ia mulai membuat wajahnya. Perlahan ia menyempurnakan lukisan itu dengan mata, hidung, bibir dan alis yang tegas. Tak membutuhkan waktu lama, Jinu menyelesaikan wajah dalam lukisan itu hanya dalam waktu satu jam.
"Selesai sudah akar serabut ku.."
Ia menepuk nepukkan tangannya, kemudian menaruh kuas yang ia gunakan di atas palet. Seperdetik kemudian, Jinu terperanjat menadapati hasil lukisannya yang berbeda dengan ekspetasi.
"Ba-bagaimana bisa menjadi wajah Jennie?"
Pria itu bertanya tanya. Pasti gara gara akar serabut.
...
...
Jinu menyingkirkan lukisan itu ke sudut. Entah mengapa ia jadi mendadak kesal. Pria itu berjalan ke dapur, tenggorokannya kering, dan ingin meneguk minuman dingin. Setelah menuntaskan rasa hausnya, Jinu berniat untuk kembali melukis, namun ia menghentikan langkahnya di ruangan tengah.
"Hey, apa yang kau lakukan?"
"Aku mencoba menelpon Kim Jisoo, tapi dia tak mengangkatnya.."
Jawab Jennie.
"Astaga, tak bisakah kau telepon dengan ponsel mu lewat aplikasi chatting? Aku tak mau tagihan telepon ku melonjak.."
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku menjual ponselku?"
Jinu memiringkan kepalanya. Benar saja, pria itu memiliki penyakit lupa yang akut.
"Aishh.. Tak usah banyak bertingkah, ayo ku antar ke I.C.E Ent.. Biarkan aku yang bicara dengan Park Jinyoung!"
Ucap Jinu, gadis di depannya membulatkan mata.
"B-benarkah.. Kau mau bicara apa?"
"Tau usah banyak bertanya!"
...♡♡♡...
Mereka berangkat ke I.C.E Ent pada saat itu juga. Jinu sudah kelewat sebal dengan masalah yang menimpa Jennie. Pria itu sadar jika menghidupi anak orang ternyata merepotkan juga, belum lagi dengan tagihan telepon yang meningkat sekitar 3% dari sebelumnya. Tidak, pria ini bukannya pelit. Ia hanya sangat efisien dan menyadari bahwa membiayai kebutuhan Jennie bukanlah kewajibannya.
Brakk!!
Jinu memukul meja resepsionis hingga membuat staff disana terperanjat.
"Ngantuk kan? Huh, makan gaji buta"
Cibir nya. Staff perempuan itu masih menganga, ia mengamati wajah Jinu yang jujur saja membuatnya tak bisa marah apalagi memaki ke arahnya.
"A-ada yang bisa saya bantu?"
Tanya nya sopan.
"Aku mau bertemu dengan Park Jinyoung!"
Jawab Jinu.
"Oh.. Pasti kau calon trainer kan? Baiklah, kebetulan CEO sedang ada di tempat saat ini.."
Jennie yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya di balik masker dan topi pun terkejut dengan respon staff agensi.
Untung saja dia tampan.. Jadi staff akan langsung berpikir bahwa dia adalah calon trainer..
Pikir Jennie. Gadis itu berjalan menguntit di belakang Jinu, dan bersyukur karna ia sama sekali tak dicurigai.
"Silahkan masuk"
Ucap si staff ramah. Jinu memasuki ruangan itu bersama Jennie, Park Jinyoung sedang duduk di meja kerja nya saat ini.
"Tuan Park, ada calon trainer yang ingin bertemu dengan anda.."
Ucap staff perempuan itu.
"Ya, silahkan duduk.."
Ucap Park Jinyoung mempersilahkan. Jinu duduk dengan Jennie di sofa, si staff kemudian meninggalkan ruangan.
"Ada yang bisa ku bantu, anak tampan?"
Tanya CEO I.C.E Ent itu dengan ramah. Jinu memasang raut masam nya, kemudian mulai menatap tajam ke arah pria separuh baya di depannya.
"Aku kesini untuk membicarakan soal kasus Jennie Kim"
Jawab Jinu. Setelahnya, Jennie membuka masker yang menutupi wajahnya sedari tadi. Park Jinyoung terdiam, dan cukup terkejut saat ini.