
Jennie masih bergulat di ruangan sempit itu. Ia masih sibuk menata barang barangnya.
"Sial, aku tak cukup ruang.. Atau karna barang barangku yang terlalu banyak?"
Ia memiringkan kepalanya, kemudian menghembuskan nafas panjang. Ia lelah. Sudah lama ia tak melakukan pekerjaan ini. Gadis itu beranjak dari ruangannya dan berniat menemui Jinu. Barangkali pria itu bersedia meminjamkan ruangan lain untuk menyimpan barang barang Jennie.
Ia berjalan menuju kamar Jinu, namun tidak mendapatinya di sana. Kemudian Jennie berkeliling untuk mencarinya. Sampailah ia di teras belakang, disana ada sebuah ruangan dengan dinding kaca sehingga apa yang ada di dalamnya bisa terlihat dari luar. Tempat itu seperti galeri seni yang kecil, disana Jinu dengan sibuk dengan sebuah kuas dan kanvas. Pria itu sedang membuat goresan goresan di atas kanvas itu. Ia nampak begitu serius saat ini.
"Apa yang kau buat itu? Akar serabut?"
Tanya Jennie yang sudah berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya. Jinu melirik horor ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan disitu?"
Tanya Jinu, pria itu menatap tajam ke arah Jennie.
"Me-melihat mu melukis-"
Bahkan Jennie lupa pada alasannya mencari Jinu karena terlalu gugup, jadi ia menjawab sekenanya.
"Memangnya kau sudah membersihkan kamarmu?"
Tanya Jinu yang secara ajaib mengingatkan Jennie pada tujuan awalnya mencari Jinu.
"Oh iya soal itu.. Anu- barang barangku terlalu banyak, bisakah kau meminjamkan ku 1 ruangan lagi untuk menyimpannya?"
"Tidak.."
Jawab Jinu tanpa ragu.
"Atau setidaknya berikan aku ruangan lain, jadi aku tak usah meminjam ruangan lagi.."
Mohon Jennie.
"Sudah ku bilang tak ada kamar lagi"
Jawab Jinu yang masih fokus menggoreskan cat air di kanvas.
"Atau pinjamkan sebagian kamar mu-"
Jennie membulatkan matanya ketika menyadari bahwa Jinu sudah berdiri di depannya. Bahkan jarak mereka begitu dekat saat ini. Apa ini aman?
"B-baiklah.. Kau ini terlalu sensi.."
Jennie berbalik dan berniat meninggalkan galeri kecil itu, begitu juga Jinu yang kini kembali berkutat di depan kanvas nya.
"Boleh aku bertanya, kenapa kau menggambar akar serabut?"
Pekik Jennie. Gadis itu begitu menyebalkan, tapi Jinu tak akan mempedulikan pendapat orang awam seperti Jennie.
"Aishh.. Ini rambut!"
Jawab Jinu.
"Rambut bagian mana?"
Ejek Jennie, namun hal ambigu lah yang segera memenuhi otak Jinu.
"A-apa?"
Sadar bahwa ucapannya salah, Jennie segera meluruskan.
"Mak-maksudku itu mirip rambut ketiak"
Ucap Jennie terbata.
"Jadi kau tidak pernah mencukur ketiak mu?"
Tanya Jinu yang segera menyimpulkan asumsi nya tentang rambut ketiak Jennie.
"YAAAKKK.. SEMBARANGAN.. Bukan begitu, aishh lupakan sajaa.."
Jennie berlari meninggalkan tempat itu. Wajahnya memerah karna malu, entah mengapa ia selalu kalah bicara dengan pria itu.
Dan bodohnya Jennie yang sering salah ucap.
***
Jennie terdiam dan duduk di bangku sebuah kereta bawah tanah. Ia tahu bahwa ia tak seharusnya keluar dan pergi kesana kemari, tapi demi Kai dan Kuma, ia rela mengambil segala resiko yang mungkin akan ia terima jika ada kamera wartawan yang memergoki nya. Ia tak begitu bodoh juga, tentu nya ia terlihat tak terlalu menonjol saat ini karena memakai pakaian seadanya. Sebuah jersey kebesaran membalut tubuhnya yang mungil, tanpa menggunakan tambahan celana panjang. Tak lupa masker yang menutupi wajanya, gadis itu hanya berusaha untuk tak mengenakan pakaian bermerk nya saat ini dan memilih untuk meminjam pakaian milik Jinu. Setelah selesai dengan misi nya, ia janji akan mengembalikan pakaian Jinu ke almari nya lagi.