
Sementara itu, sebenarnya malam ini Jinu mempunya janji dengan rekan sesama senimannya. Song Yuqi. Pria itu harus membatalkan janjinya dengan Yuqi karna acaranya begitu bertepatan. Jinu hanya tak ingin kena marah sang ibu yang galaknya menyerupai singa itu.
"Hallo," ucapnya ragu. Sesaat setelah Yuqi menjawab, Jinu segera beralasan untuk membatalkan pertemuan mereka.
"Ah, maaf ya, Yuqi.. ini benar-benar mendadak." Ucap Jinu sekilas. Setelah itu Jinu segera menyudahi teleponnya, karna ia juga harus segera bersiap. "Kita bisa bertemu setelah ini. Aku akan tentukan waktunya, okay? Sampai jumpa," ucap Jinu yang kemudian buru-buru menutup teleponnya.
...-...
Yuqi menatap sebuah bungkusan berukuran sedang yang sudah ia siapkan, gadis itu tersenyum meskipun merasa agak kecewa.
"Aku sudah lama menantikan hari ini, tapi ternyata semuanya harus batal," gumamnya. Gadis itu kembali meratapi nasibnya, "Tapi tak apa, aku bisa menyerahkan ini di pameran seni besok lusa."
Kemudian Yuqi kembali menyimpan bungkusan itu di dalam almarinya.
...-...
"Ini," Jinu menyodorkan sebuah gaun berwarna merah pada Jennie. Gaun itu adalah milik sang ibu di kala masih muda dulu.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" Tanya Jennie.
"Itu milik ibuku," jawab Jinu cepat yang kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Jennie. Gadis itu kemudian berganti pakaian dan menyelesaikan riasannya.
Setelah beberapa menit menunggu, Jennie akhirnya keluar dari kamarnya dengan dandanan yang sempurna.
"Ayo berangkat," ucap Jennie.
"Ya," Jinu masih belum menoleh karena harus memasukkan Rei dan Bei ke kandangnya, "Bawa Rei dan Bei sekalian, lalu serahkan pada Joohyun-noona," lanjut Jinu. Pria itu kemudian hanya dapat diam ketika menatap Jennie. Gadis itu benar-benar nampak luar biasa malam ini.
"Apa kau —Kattie menyebalkan— itu?" Tanya Jinu.
"Yakk ..!! apa dandananku terlihat aneh?" Tanya Jennie.
Tentu saja tidak. Bahkan Jennie nampak begitu sempurna malam ini.
"Fiuhhh.. syukurlah jika begitu," ucap Jennie. Mereka kemudian pergi bersama dengan mobil Jinu. Tanpa mereka ketahui, sebuah kamera menangkap kebersamaan mereka.
...♡♡♡...
Tak henti-hentinya Sandara menatap kagum pada Jennie. Gadis yang ia ketahui sebagai kekasih putranya itu terlihat begitu cantik malam ini.
"Bukankah ini gaunku?" Tanya Sandara pada Jinu, "Iya Bu," jawab Jinu cepat. Jennie merasa malu kalau saja Sandara tak berkenan jika ia memakai gaun lamanya, padahal nyatanya Sandara sangat menyukainya.
"Ukurannya pas sekali, dan kau terlihat sangat cantik malam ini," puji Sandara.
Wajah Jennie seketika memerah, mengapa pujian Sandara kini terasa begitu berkesan bagi Jennie?
"Terima kasih," jawabnya sembari tersenyum.
"Oh ya, bagaimana hubungan kalian, apa kalian sudah semakin mantap?" Tanya Sandara. Jinu dan Jennie kini saling menatap satu sama lain, mereka pun bingung harus menjawab bagaimana.
"Eung-- itu,"
"Bagaimana jika segera mengumumkan hubungan kalian, demi membersihkan nama baik Jennie!" Potong Sandara sebelum Jinu meneruskan jawabannya.
"Ibu, sepertinya itu--"
"Ide yang bagus!" Kini giliran Jaewon yang memotong perkataan Jinu.
"Ya benar, resmikan saja hubungan mereka sebelum Jinu membuatnya hamil," sungut Jumyeon yang langsung saja disambut dengan tatapan tajam dari Jinu.
"Yakk.. Jumyeon, tak sopan berbicara seperti itu di depan Jennie," ucap Sandara. Sementara itu, gejolak benar-benar meluap di hati Jennie.
'Mengapa jadi rumit seperti ini?' gumamnya dalam hati.
...♡♡♡...