Lovely Stranger

Lovely Stranger
Cengeng



Jennie masih mendorong troli yang penuh dengan belanjaan itu, ia dan Jinu masih berkeliling di kawasan parkir. Sialnya, Jennie tak tahu jika penyakit lupa Jinu sudah benar benar akut. Ya, dia lupa menaruh mobilnya di sebelah mana. Begitu pun Jennie yang turun di depan swalayan dan menunggu Jinu di lobby, tentu ia tak tahu dimana pria itu memarkirkan mobilnya.


"Huhh.."


Jennie mendengus kesal, pria di sampingnya segera melirik dengan sorot mata yang horor.


"Ke-kenapa?"


Gadis bersurai panjang itu terbata.


"Pasti kau memaki ku di dalam hati kan? Ayo.. Mengaku saja!"


"Aku tidak memaki mu.."


Bukan main, pria ini benar benar sensi.


"Huh.. Lalu kenapa kau mendengus barusan? Kau mau menyalahkan ku, karena aku lupa memarkir mobil ku di mana.. Benar, kan?"


Tak ada bedanya dengan pertemuan awal mereka yang penuh dengan pertengkaran kecil.


"Aku tidak menyalahkan mu, aku mendengus karna aku lelah, kaki ku sakit.. Lihat, bahkan mereka sudah gemetaran!"


Jennie menunjuk ke arah kakinya.


"Mana? Tidak bergetar, jangan bohong ya--"


"Aishhh.. Kau cerewet sekali! Apa kaki mu tidak lelah? Kita sudah setengah jam berjalan mengitari tempat ini.."


Jinu mengacak rambutnya dengan kesal. Keduanya kemudian terdiam untuk sesaat, masih dengan mengedarkan pandangan mereka untuk mencari mobil Jinu.


"Kenapa kau sangat menyebalkan? kenapa kau selalu memarahi ku? kenapa kau lupa memarkir mobil mu dimana? kenapa kau menyuruh ku mendorong troli ini? kenapa kau mengajak ku berbelanja? kenapa kau tak pesan jasa antar seperti biasanya saja? Kenapa kau---"


"Ssttt.. Kenapa kau sangat berisik?"


Potong Jinu.


"Kenapa kau---"


"Kenapa ha?"


Sungut Jinu. Namun, hal itu tak ditanggapi oleh Jennie. Gadis itu masih terfokus pada dua orang yang kini sedang berjalan menuju ke arah sebuah mobil.


"Kau melihat apa? Hantu?"


Jinu yang penasaran pun menoleh, dan mengarahkan pandangannya pada apa yang dilihat oleh Jennie.


"Tunggu, aku pernah melihatnya di TV.. Ahh.. Apa dia Rapper Bobby, dan Cho Miyeon?"


Jennie terdiam, tanpa ia sadari air mata mulai mengalir. Belum lama ini ia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Bobby, dan Jennie begitu tak percaya saat melihat pria yang ia sukai nampak mesra dengan gadis lain. Pria itu pasti tak benar-benar menginginkan Jennie.


Jemari Jinu segera berselancar menyeka air mata gadis di depan nya. Jennie mendongakkan wajah nya, untuk sesaat ia menghapus segala pemikiran buruk Jinu yang baru saja ia keluhkan.


"Dasar cengeng.."


Cibir Jinu. Jennie menunduk, rona merah segera memenuhi wajah nya. Bahkan baru 3 hari dirinya mengenal Jinu, tapi pria itu sudah melihat nya menangis berkali kali. Tak heran jika Jinu menyebut nya cengeng.


"Aku tidak cengeng.."


Dalih nya sambil memalingkan wajah. Jinu menepuk nepuk pundak Jennie dengan pelan, kemudian ia meraih tangan Jennie. Ia menggandeng tangan Jennie, sembari mengambil alih troli yang sedari tadi didorong oleh gadis itu.


"Ayo jalan lagi.."


Ujarnya. Mereka baru saja melangkah beberapa meter dari tempat nya berdiri tadi, namun Jinu menghentikan langkah nya.


"Kenapa berhenti?"


Tanya Jennie.


"Astaga.. Ternyata ada disini.."


Ujar Jinu ketika mendapati mobilnya berada tepat di sebelah pintu keluar.