Lovely Stranger

Lovely Stranger
Pria Tampan di Pameran Seni



Hari ini setelah kunjungan mendadak dari ayah Jinu, pria itu harus pergi ke sebuah pameran seni. Karna Jennie tak ingin kesepian sendiri di rumah, maka ia memutuskan untuk ikut dengan Jinu.


"Perhatikan jalanmu, jangan sentuh apapun, jangan sampaikan pendapatmu jika tak ingin malu, banyak karya mahal yang akan luntur jika kau sentuh dengan jari.. Oh ya.. Jangan selalu menguntitku, ingat kau sedang jadi ninja.."


Cerocos Jinu memberikan petuah pada Jennie. Gadis itu memberikannya pose hormat.


"SIAP BOS!"


Jawabnya, Jennie menaikkan masker sampai ke wajah untuk menyembunyikan identitas nya. Mereka turun dan berjalan menyusuri lorong galeri seni itu.


"Berpisah disini, temui aku 2 jam lagi di mobil.."


Ucap Jinu yang kini mempercepat langkahnya.


"UM.."


Jennie mengangguk paham. Gadis itu berbelok ke stan lain dan melihat lihat.


Ia mengarahkan pandangannya pada sebuah lukisan indah bergambar singa. Jennie melangkah menuju stan lukisan itu, tak hentinya ia terkagum kagum.


"Whoaahh.. Andai saja aku bisa melukis.."


Gumamnya.


"Kalau kau tak bisa melukis, lalu apa yang kau lakukan disini?"


Bisik seorang pria yang kini berdiri di sampingnya. Jennie terkejut dan heran mengapa gumaman nya yang pelan bisa terdengar.


Ta-tampan


Satu kata itu langsung saja menyerbu otak Jennie. Ditambah dengan tutur kata yang halus dan sopan, ini benar benar nilai plus untuk pria itu.


"Mmm.. Maksudku, aku tak bisa menggambar sebagus itu.."


"Melukis maksudmu?"


Pria itu membenarkan perkataan Jennie.


"I-iya.. Itu maksudku.."


Jennie terkekeh.


"JAY, Bisa kemari sebentar?!"


Seseorang memanggil pria itu, ia menoleh dan mengangguk.


"Sampai jumpa.."


Bisiknya pelan di telinga Jennie.


Hiiwhhh..


Bulu roma Jennie berdiri dengan tegak.


"Astaga, pria itu bahaya sekali.."


Ia kembali bergumam kemudian melihat ke sekeliling dan memastikan gumaman nya tak kembali terdengar.


Ia  kembali melangkah ke stan lain dan melihat Jinu sedang berbincang dengan seorang gadis. Jennie terdiam, ia memiringkan kepalanya. Rambut ikal berwarna coklat milik gadis yang ada disana mengingatkan Jennie pada sesuatu.


"Jangan bilang kalau si galak kemarin mencoba melukis gadis itu-"


Gumam Jennie. Ia masih mengamati dua orang yang sedang berbincang itu dengan seksama, dan muncul rasa kesal di hatinya.


"Bagaimana bisa ia bersikap seramah itu pada orang lain? Kenapa tidak padaku?"


Gadis cantik itu kembali bergumam. Ia tahu mungkin ini adalah dampak dari skandal yang menimpanya saat ini.


"Mana bisa orang orang bersikap baik pada gadis yang sedang terlibat skandal perselingkuhan?"


Jennie membenarkan sikap Jinu yang kurang baik terhadapnya. Ia tersenyum sesaat ketika mendengarkan tawa renyah Jinu. Ia baru sadar bahwa mungkin saja pria itu adalah sosok yang hangat, tapi tidak padanya.


"Hoooammmmmmm.. Tempat ini membosankan"


Jennie menguap, gadis itu kembali berlalu karna ia haus. Jinu memberikannya lima ribu won untuk jaga jaga jika Jennie berada dalam situasi begini. Gadis bersurai panjang itu berjalan menyusuri lorong galeri untuk mencari stan minuman, namun hal yang ia lakukan tersebut berbuah nihil.


Kesalnya sembari menendang tempat sampah yang ada di sudut.


"Kalau kau mencari penjual minuman, mereka ada di luar"


Ucap seorang pria yang datang dari arah belakang Jennie. Gadis itu menoleh sembari membetulkan maskernya agar kembali menutupi wajahnya.


"Ohh.. Terima kasih"


Jennie membungkukkan badannya, kemudian kembali bertemu pandang dengan pria yang tinggi badannya hanya sejajar dengan dirinya.


Bukankah dia pria yang tadi?


Besit Jennie dalam hatinya.


"Mau ku antar, aku juga akan membeli minuman"


Tawarnya dengan ramah.


"Baik.. Terima kasih"


Gadis itu kembali membungkukkan badannya. Pria yang berdiri di depannya kini tertawa kecil, ia berjalan mendahului dan Jennie mengekor di belakangnya. Sesampainya di lokasi, pria itu memesan 2 jus jeruk dan memberikannya pada Jennie satu.


"Tenang, aku yang traktir"


Ujarnya sembari tersenyum.


"Whoooaaaa.. Benarkah? Sekali lagi terima kasih"


Baru sekitar 5 menit mereka berbincang, namun Jennie sudah mengucapkan 'terima kasih' sebanyak 3 kali.


"Tapi aku minta imbalan"


Ucap pria itu lagi, Jennie membulatkan matanya karena terkejut.


"I-Imbalan?"


Pria di depannya terkekeh.


"Tenang saja, aku hanya ingin tahu siapa nama mu"


Jawabnya sembari tertawa kecil.


Aduhh.. Jinu-oppa tak mengatakan aku harus bagaimana jika ada pria yang mengajakku berkenalan


Jennie kebingungan. 


"Eungh- i-itu.."


Ia terbata, tak mungkin juga kan ia mengaku sebagai Jennie Kim.


"Dia Kattie"


Jawab seorang pria yang kini berjalan mendekat. Jennie melirik ke sumber suara, dan merasa lega karna pria yang bersama nya ke pameran ini telah datang menyelamatkannya.


Jinu-oppa benar benar mirip pahlawan bertopeng


Batin Jennie.


"Kau mengenalnya?"


Tanya Jay.


"Dia temanku, jadi jangan ganggu dia.."


Jawab Jinu ketus, Jennie melirik sebal ke arahnya. Mengapa pria ini bisa baik pada orang lain dan mendadak berubah ketika bersama Jennie? Jay tersenyum sinis,  Jennie bisa menilai jika mungkin saja mereka tak akur.


"Kau berhutang padaku, karna aku sudah menraktirnya jus!"


Tutup Jay yang kini berlalu pergi.


...♡♡♡...