
Jinu masih duduk di sofa nya, baru saja ia beranjak untuk menerima paket soju yang ia pesan dari kurir. Jennie juga masih disana, ia tak punya ide. Gadis itu benar benar merasa bersalah karna berkat ulahnya, Jinu dan keluarganya harus terseret ke dalam masalahnya.
Glek!
Jinu meneguk soju itu, ia melirik ke arah Jennie yang masih memasang tampang tolol nya.
"Yakk!"
Jinu menjetikkan jarinya si depan wajah Jennie, gadis itu menoleh dengan wajah memelasnya.
Sialan, kucing ini..
Besit Jinu.
"Yak Kattie? Are you okay?"
"Kenapa kau memanggilku Kattie?"
Tanya Jennie, dulu ia tak sempat bertanya soal panggilan yang Jinu sematkan untuknya saat mengenalkan gadis itu pada temannya di galeri seni.
"Itu karna kau mirip kucing"
Jawab Jinu yang kemudian kembali meneguk soju di genggamannya.
"Kucing?"
Jennie memiringkan kepalanya, kemudian merogoh saku celana nya dimana ia sering menyimpan cermin kecil disana. Tapi sayangnya benda itu tak ada, mungkin ada di celana lain.
"Aku punya dua kucing, nama nya Rei dan Bei.. Tapi sekarang kucing itu dirawat oleh kakak ipar Joohyun, karna aku terlalu sibuk mengurusi pekerjaanku sebagai seniman"
Pria itu masih asyik meneguk soju nya. Seketika Jennie teringat pada anjing anjingnya.
"Aku juga punya dua anjing, namanya Kai dan Kuma.."
"Aku tak tanya.."
Jawab Jinu cepat. Jennie melirik sinis ke arah pria di sampingnya.
Harusnya tadi aku juga menjawab seperti ini saat dia menceritakan kucing kucingnya
Pikir Jennie.
Suasana kembali hening, hingga membuat rasa tak enak hati Jennie kembali muncul.
"Oh ya, aku minta maaf.. Gara gara aku, kau dan seluruh keluarga mu malah jadi kerepotan"
Ucap Jennie merendah.
"Ya, seharusnya kita tak pernah bertemu.."
Deg!
Jantung Jennie berdegub kencang saat itu juga. Sebegitu menyusahkannya dirinya, hingga Jinu bahkan menyesali pertemuan mereka.
"Ma-maaf.."
Bibirnya bergetar, ia menunduk dan meremas ujung kaos yang melilit tubuhnya.
"Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur.. Lebih baik jangan dibahas lagi, ini membuatku kesal.."
Ucap Jinu. Gadis di sampingnya mengangguk, tanpa mengeluarkan suara. Entah mengapa kini Jinu jadi merasa tak enak.
"Kenapa kita terlihat menyedihkan?. Ayolah lupakan soal ini, Bagaimana jika kita bertarung?."
Ucap pria itu lagi. Jennie menoleh kaget.
"Bertarung?"
Jinu mengangguk. Jennie pikir pria ini sudah gila.
"Lihat, aku beli banyak.."
Pria itu mengangkat dua botol soju utuh yang ia ambil dari kotak yang diantarkan oleh kurir tadi.
"Apa maksudmu?"
"Ayo taruhan, siapa yang tak mabuk sampai titik terakhir adalah pemenangnya.."
Jennie mengerutkan dahinya, haruskah ia melakukan pertarungan bodoh ini?
Tanya Jennie.
"Terserah"
Jawab Jinu.
"Tunggu dulu, apa yang kau mau jika kau menang?"
Gadis itu harus meminta imbalan yang adil.
"Aku akan menyuruhmu mengepel seluruh lantai di rumah ini.. Bagaimana?"
Tawar Jinu.
"Baiklah, siapa takut.. Kalau aku menang, kau harus mau jadi budakku selama 1 hari, bagaimana?"
"Setuju"
Keduanya menyetujui hal itu dan berjabat tangan.
"Tunggu, aku punya aturan.."
Ucap Jinu saat Jennie hampir meneguk soju itu.
"Apa itu?"
Tanya Jennie.
"Kalau aku minum seteguk, kau juga seteguk.. Dua teguk, kau pun juga dua teguk.. Dan jika tiga botol, kau juga harus menghabiskan tiga botol.."
Jelas Jinu.
"Baiklah, siapa takut!"
Jawab Jennie.
Keduanya memulai pertarungan itu. Anggap saja mereka sedang pesta minuman saat ini.
Setelah beberapa waktu, Jennie menghentikan tegukannya, kepalanya terasa berat saat ini. Berbeda dengan Jinu yang nampak masih sadar.
Sial. Aku mabuk.
Batinnya.
Tapi aku tak boleh kalah!
Pikirnya lagi. Baru saja ia akan meneguk sisa soju yang ada, namun kepalanya sudah tak kuat lagi menahan pusing.
"Aku belum mabuk, sungguh.."
Ceracau nya. Jinu tertawa mengejek, ia tahu bahwa Jennie sudah mabuk berat.
"Kau kalah Kattie.."
Jawabnya, tidakkah ia sadar bahwa ia sendiri pun juga sudah mabuk.
"Diam kau brengsek, nama ku Jennie, hiks, bukan Kattie.."
"Kau kucing kecil-"
"Kau anjing tak tahu diri, dasar Doggie.."
Mereka malah beradu mulut. Jennie mengambil bantal sofa dan hendak memukulkannya pada Jinu. Namun tenaga nya seakan terkuras habis.
"Eits.. Tidak kena.."
Ejek Jinu.
"Yakk brengsek kau.."
Jennie mencoba berdiri kemudian melompat ke arah Jinu.
"ARGHHHH!"
Pekik Jinu.
...♡♡♡...