
Jinu melompat dari sofa kemudian menarik rambut 'tamu kurang ajar' itu dengan keras.
"YAKK, hyung!!! Sakit." Pria tersebut mengaduh.
"Siapa yang menyuruhmu langsung masuk?!" protes Jinu. Pria muda yang tak lain adalah sang adik itu meringis. "Aku sudah menekan bel, mengetuk pintu, tapi hyung tak menjawab. Ya sudah aku masuk saja," jawabnya.
"Yaa .. Itu artinya aku sedang sibuk," omel Jinu.
"Sudah-sudah ... Kurasa aku harus pulang sekarang," potong Jennie yang berusaha melerai perkelahian kakak adik itu.
Jinu menoleh. "Kuantar," jawabnya.
"Tidak usah, aku sudah mengirim pesan pada Jisoo. Dia sudah ada di perjalanan," tolak Jennie.
...♡♡♡...
Jisoo melongo mendengarkan cerita Jennie barusan. Mereka saat ini sedang dalam perjalanan pulang. Jennie duduk di bangku belakang, sedangkan Jisoo berada di samping Mino yang mengemudi.
"Ya ampun, aku tak tahu kalau adik Jinu oppa begitu menyebalkan."
"Ah, tidak juga. Dia baik, hanya saja dia agak sembrono. Kau tahu 'kan maksudku?" jelas Jennie diikuti dengan anggukan oleh Jisoo.
"Untung saja adikku Danah tidak pernah masuk sembarangan. Bisa gawat juga 'kan," sela Mino. Jisoo melotot ke arah sang kekasih.
"Kami tidak ngobrol denganmu, oppa," protes Jisoo.
"Kalian mengobrol di depanku. Tidak salah 'kan kalau aku ikut menyela? Memangnya aku ini apa? Obat nyamuk, huh?" gerutu Mino. Jennie tertawa dibuat oleh sepasang kekasih di depannya.
"Kalian berdua lucu. Aku tak sabar menantikan pengumuman hubungan kalian," goda Jennie.
Mino dan Jisoo tertegun. "Eung ... Kami tak berencana seperti itu dalam waktu dekat ini," jawab Jisoo.
"Kenapa?"
"Ya ... Kau tahu 'kan, kami sama-sama hidup di dunia entertain. Mengumumkan hubungan di saat yang tidak tepat akan menghancurkan karir kami. Dan lagi, aku baru saja menyelesaikan syuting dramaku yang sebentar lagi juga akan tayang di televisi."
"Jisoo benar," sahut Mino menyetujui pendapat sang kekasih.
Jennie menaikkan salah satu alisnya. "Kenapa kalian begitu takut soal itu? Jika penggemar kalian benar-benar tulus, pasti mereka akan menerima kenyataan itu. Ingat, kehidupan pribadi kalian adalah hak kalian. Berhentilah takut ditinggalkan penggemar, seharusnya kalian lebih takut jika kehilangan orang yang dicintai."
Mino dan Jisoo melirik satu sama lain. "Jennie benar. Aku tak perlu takut soal itu. Jika aku kehilangan penggemarku, maka aku akan berhenti menjadi rapper. Aku bisa memproduksi musik di balik layar, kurasa itu adalah ide yang bagus," jawab Mino yang saat ini juga terfokus pada jalanan di depannya.
Jisoo menunduk untuk merenung sesaat. "Benar," ucapnya kemudian.
"Lagipula, bukankah Mino oppa baru saja membuka bisnis cafe? Itu akan menjadi option bagus juga, jika sewaktu-waktu kalian tidak membutuhkan dunia keartisan lagi," ucap Jennie.
Sepasang kekasih di depannya nampak mengaminkan.
...♡♡♡...
"Soal Bomi noona." Jaewon memulai percakapan. Jinu menghela napas pelan, ia nampak tak tertarik dengan topik itu.
"Mengapa kau membicarakannya? Aku bahkan sudah memiliki Jennie, dan telah membuang jauh-jauh perasaanku pada orang itu."
Jika sedang serius begini, Jinu nampak menakutkan. Bahkan Jaewon nampak takut kini. Ya. Meskipun begitu, Jinu tetaplah kakaknya. Wajar jika seorang adik takut pada kakak.
"Aku bukan ingin memisahkanmu dengan Jennie Kim. Aku hanya bicara soal maksud Bomi noona yang ingin menemuimu ... Ia ingin minta maaf," jelas Jaewon.
Jinu tersenyum sinis. "Cih ... Apa ia tak tahu jika permasalahannya sudah basi? Mengapa ia baru meminta maaf sekarang?"
Jaewon mengendikkan bahunya. "Mana aku tahu?"
"Dan kau, sejak kapan kau pulang dari Amerika? Mengapa tak mengabariku?" protes Jinu.
Jaewon merebahkan punggungnya pada sandaran sofa, kemudian meraih remote televisi dan menyalakannya. "Tadi siang. Aku bahkan langsung menuju rumahmu setelah dari bandara. Saat aku turun dari taksi, aku sudah melihat Bomi noona berada di depan gerbang rumahmu. Ia bilang, ia sudah berdiri cukup lama di sana karna ragu apakah harus menemuimu atau tidak."
"Ya-ya ... Oh ya, hyung. Tadi ketika aku pulang, aku melihat beberapa pengacara datang--"
"Pengacara?" potong Jinu. Jaewon mengangguk. "Mereka mencari ayah dan ibu. Kata Jumyeon hyung, mereka membicarakan sebuah kasus yang penting," lanjut Jaewon.
Jinu memiringkan kepala. "Kasus apa itu?"
"Entahlah, Jumyeon hyung juga tak tahu soal itu. Ia hanya bilang kalau itu adalah urusan ayah dan ibu, kita tak boleh ikut campur."
Jinu nampak berpikir. Ia mulai khawatir. "Apa ayah dan ibu sedang terkena kasus?"
Jaewon menggeleng tak tahu.
"Oh ya, hyung. Sejauh mana hubunganmu dengan Jennie Kim?" Begitu cepatnya Jaewon mengganti topik pembicaraan.
"Banyak hal yang terjadi saat kau kembali ke Amerika."
Jaewon menatap antusias pada sang kakak.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" protes Jinu.
"Ayolah, hyung. Aku begitu penasaran dengan kisah cintamu, akh!" ——Jaewon mengaduh sesaat setelah Jinu memukul kepalanya, "sakit tahu," protesnya.
Jinu mulai bercerita, "Kami mengalami banyak hal yang sulit. Drama mengerikan itu cepat sekali berlalu. Yang jelas, aku sudah memperjuangkan seseorang yang kucinta. Jadi, aku tak akan pernah melepasnya lagi. Aku janji tak akan goyah, meski ada banyak penghalang."
"Aku tak mengerti apa yang terjadi. Tapi hyung nampak begitu puas dengan pencapaianmu kali ini." Jaewon berkomentar.
Sang kakak tersenyum. Ia teringat pada wajah Jennie Kim.
"Jennie berbeda dengan Bomi. Dia tak pernah memanfaatkanku," —Jinu menghela napas, "meski ia tinggal di sini, ia membayar semua dengan pekerjaannya. Ya, walaupun ia banyak mengeluh, tapi ia selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Ia memasak makanan yang enak untukku, meski aku sering memarahinya. Ah ... Entahlah ... Menurutku Jennie Kim adalah gadis yang sangat menarik bagiku. Meski awalnya aku tak suka padanya karna tampang sombong yang sering muncul di televisi, tapi nyatanya, dia gadis yang baik dan jujur."
Jaewon terkejut dengan apa yang diceritakan oleh sang kakak. "Matamu terlihat berbinar-binar saat menceritakannya," godanya.
"Ya ... Dia membuatku merasa semakin bahagia," jawab Jinu. Ia tak tersinggung kali ini dengan godaan Jaewon. Karna yang dibilang sang adik adalah benar adanya.
...♡♡♡...
Staff 'P' dari I.C.E Entertainment menyebutkan bahwa Jennie Kim sama sekali tak bersalah.
Judul artikel itu dimuat di berbagai situs, sehingga menimbulkan beragam komentar dari kalangan netizen. Kebanyakan dari mereka menyatakan dukungannya pada Jennie Kim, untuk mengungkap dalang pembuat skandal itu.
Meski di sisi lain, Jennie sama sekali tak tahu siapakah yang bertindak sejauh ini untuk dirinya. Ia hanya percaya bahwa kebenaran akan terungkap pada akhirnya. Hanya menunggu saja saat yang tepat.
Cho Hyuna nampak frustasi. Reputasinya kini terancam. Kasus itu telah dinaikkan ke meja hijau secara diam-diam.
"Aku akan membayar berapa pun pada pengacara yang bisa memenangkan kasus ini," ucapnya pada CEO I.C.E Entertainment —Park Jinyoung.
Pria separuh baya itu mengangguk saja, ia menggigit bibir bawahnya karna resah. Tentu Hyuna tak tahu bahwa dirinya telah mengambil langkah lebih dulu. Ini ia lakukan karna dirinya tak mau menanggung pasal berlapis yang dijanjikan oleh keluara Kim.
"Apakah kau tahu siapa staff yang berkoar di media? Apa ia dibayar oleh Sandara?" tanya Hyuna.
"Entahlah, sepertinya ia bukan bagian dari agensi ini lagi. Mungkin dia mantan staff," jawab Park Jinyoung.
Hyuna memijat pelipisnya, keringat dingin nampak meluncur dari sana. "Kasus ini sepele, bagaimana kalau kita lakukan media play untuk menutupi ini?" tanya Hyuna.
Park Jinyoung tersentak. "Me-media play?" tanyanya memastikan.
Hyuna mengangguk, "Pikirkan berita heboh apa yang bisa menutupi kasus ini?"
"Aku tak ahli membuat berita heboh. Aku serahkan saja padamu," jawab Park Jinyeong. Hyuna mendengus kesal.
"Baiklah. Jika kau menyerahkannya padaku, maka kau harus mengikuti alur permainannya!" tegas Hyuna.
...♡♡♡...