
Mesin mobil sedan berwarna hitam itu berderu memecah heningnya malam. Pria dengan jas pink itu membawa Jennie, entah akan pergi kemana. Beberapa menit setelah peristiwa menegangkan itu, mereka berhenti di sebuah rumah bergaya klasik dengan gerbang yang terbuat dari kayu. Jennie membulatkan matanya menatap ke sekeliling bangunan yang begitu estetik itu. Orang ini mungkin kaya, atau ini hanya rumah milik orang tuanya. Ia turun dan membukakan pintu untuk Jennie. Gadis itu mendongak menatap wajah pria penyelamatnya itu, sedetik kemudian ia meneguk salivanya. Bagaimana ia baru sadar jika pria ini sangat tampan, bahkan seperti seorang peri yang hidup di dunia nyata.
"Turun.. "
Pintanya yang kemudian berjalan mendahului. Jennie merapikan pakaiannya yang super seksi. Sepertinya bukan ide yang bagus ketika ia harus lari keluar apartment dengan pakaian minim seperti ini. Tapi siapa peduli, ia tak sempat berganti pakaian ketika tahu ada orang tak dikenal yang berada di dalam apartment nya dan mengacak acak ruangan itu. Tapi kini, ia mendadak takut. Bagaimana jika pria ini akan memakannya di dalam sana? Ayolah. Meskipun ia tampan, Jennie tak akan sembarangan memberikan hartanya yang paling berharga itu. Karna inilah yang selalu ia jaga sejak dulu. Keperawanan sangat penting baginya. Pria berjas pink itu menoleh ke belakang ketika mengetahui Jennie nampak ragu untuk berjalan mengikutinya.
"Kenapa? Tenang saja, aku bukan pria mesum.."
Pria itu memandang sekilas penampilan Jennie dan meneguk saliva nya.
Ayolah kau kuat__
Teriaknya berorasi di dalam hati.
"Ngomong ngomong, kenapa pakaianmu? "
Jennie menengok kembali penampilannya yang super terbuka itu. Wajahnya memerah, ia merasa konyol saat ini.
"A.. Aku baru saja selesai syuting.. Dan belum sempat berganti baju.. "
Jawabnya.
"Sial.. Lain kali jangan berpenampilan seperti itu, kau bisa membangkitan **** manapun yang tertidur pulas.. "
Jennie membulatkan matanya. Apakah ia telah membangkitkan **** pria ini?
"A, aku tak bermaksud-"
"Ah tidak usah dibahas lagi.. Cepat masuk.. "
Ujar pria itu. Jennie hanya menguntitnya dari belakang.
"Oh ya oppa.. Boleh aku tahu siapa nama mu? "
Tanya nya. Tak lucu kan jika Jennie tak tahu nama orang yang telah menyelamatkan nyawanya?
Jawab pria itu cuek.
"Wahh.. Nama kita hampir sama ya, Kim Jinu- Kim Jennie.. "
Jennie tertawa kecil. Namun hal itu tak mendapatkan tanggapan dari Jinu.
"Sementara kau bisa tidur di kamarku.. Aku akan tidur di kamar tamu.. "
Ucap nya ketika telah sampai mengantarkan Jennie di kamarnya. Jennie mengangguk paham, pria itu berlalu begitu saja dari hadapan Jennie.
...♡♡♡...
Paginya Jinu mengantar Jennie untuk pergi ke kantor agensi. Pria itu masih menunggu di lobby, karna ia cukup khawatir jika harus meninggalkan Jennie seorang diri. Bisa saja kan sasaeng yang kemarin masih mengintainya. Pria itu menoleh ke arah samping ketika Jennie keluar dari kantor CEO dengan mata sembabnya.
"ANDA TAK BISA SEPERTI INI!! bagaimana dengan kontrak eksklusif itu..?"
Samar Jinu mendengar pekikan Jennie. Pria itu memiringkan kepalanya. Sudah bisa ia tebak bahwa Jennie pasti dipecat secara tidak hormat karna skandal itu. Gadis dengan tinggi badan 163cm itu berjalan, setengah berlari menuju ke arah Jinu.
"Oppa... "
Rengeknya. Jinu berdiri dari tempat duduknya, dan tanpa ia perkirakan Jennie mulai mendekatkan tubuhnya sambil merentangkan tangannya.
"No.. Don't touch me.. "
Ujar Jinu sambil menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Jennie.
"Ta, tapi oppa.. Aku butuh pelukan.. "
Gadis itu masih merengek, sedangkan Jinu mulai menggiring langkah Jennie dan menuju ke salah satu tiang penyangga di ruangan itu.
"Peluk ini saja.. "
...♡♡♡...