
Sesampainya di dalam, Jennie disambut dengan hangat oleh para kru. Ia diberikan tempat duduk dan minuman dingin sebelum melakukan adegan. Si manajer membawa beberapa lembar naskah yang kemudian ia sodorkan pada Jennie.
"Ini naskahmu."
Jennie mengangguk sembari menyesap jus dingin yang ada di atas meja. "Rasakan ... Kesegaran buah asli. Um ... Baiklah, aku paham," lirihnya ketika membaca naskah tersebut.
"Wow! Coba lihat siapa yang datang untuk iklan komersial?"
Jennie menoleh, ia terperanjat dari bangkunya sembari menatap tajam pada gadis yang baru saja masuk ke kafe itu.
"Apa yang kaulakukan di sini?!" tanya Jennie seolah ia tak berkenan dengan keberadaan gadis itu. Ya, siapa lagi gadis yang dimaksud? Tentu saja Cho Miyeon.
Gadis bersurai panjang itu melipat tangannya di depan dada. Ia memandangi Jennie dengan remeh. "Apa kabar 'Tukang Buat Skandal'?"
Demi apapun, Jennie ingin sekali memukul wajah Miyeon saat ini juga.
"Aku mau shooting. Kau tidak lihat, apa kau buta?" balas Jennie. Gadis cantik di depannya menghela nafas kesal. Namun, ia tetap mencoba bersikap elegan.
"Jadi, apa kau senang karna sudah terbebas dari skandal itu? Oh ya ... Bukankah mungkin saja suatu saat kau akan mengulangi skandal yang sama?"
Jennie meraih tas nya. Ia tenteng kembali naskah yang diletakkan di meja. Tak lupa ia membawa minuman dingin yang tadi diberikan padanya. Gadis itu lebih memilih berpindah tempat, daripada harus beradu mulut dengan orang seperti Miyeon.
"Silahkan duduk, Tuan Putri! Hamba akan pindah tempat." Jennie berlalu dari hadapan Miyeon. Tak puas dengan respon Jennie, Miyeon mencoba kembali menyulut, "Hebat sekali 'gadis penggoda' sepertimu bisa mendapatkan komersial setelah skandal yang penuh kontroversi."
Jennie menghentikan langkahnya, ia berjalan kembali ke arah Miyeon. "Tak bisakah kau menutup mulutmu?"
"Aku hanya mengatakan fakta bahwa kau adalah gadis penggoda!"
Makin kesal dengan ucapan Miyeon, tiba-tiba Jennie menarin surai panjang gadis di depannya.
"AKHH...." Miyeon mengaduh.
"KATAKAN SEKALI LAGI, MAKA AKU AKAN MEMBUATMU BOTAK!" marah Jennie. Gadis di depannya tak mau kalah, ia meraih rambut Jennie dan balas menjambaknya. "Akh—" Jennie turut mengaduh.
"BERANINYA KAU MENJAMBAKKU!"
"BERANINYA KAU MENCARI MASALAH DENGANKU!"
Kedua gadis itu berargumen, masih dengan tangan yang mencengkeram kuat rambut lawan. Sementara itu, para kru yang menyadari adanya keributan kini berhambur ke arah mereka untuk memisah.
...♡♡♡...
"Aku tak percaya kau menghubungiku, padahal sebelumnya kau bahkan tak pernah mengangkat telepon dariku," ucap Mino yang saat ini sibuk memotong kukunya. Hari ini ia mendapatkan kunjungan tak terduga di studio.
"Ini, minumlah!"
Pria itu meraih botol di depannya. Dibukanya tutup botol tersebut, lalu ia teguk. Glek!
"Aku tidak tahu kalau kau sudah sejauh itu," ujar Mino. Pria di depannya tadi bercerita tentang status hubungannya.
"Hanya kau yang tahu," pria itu menyahut, "jadi, jangan beri tahu orang lain," lanjutnya.
Mino membulatkan mata. "Kenapa, bukankah kau mencintainya?"
Pria tersebut tersenyum miris. "Kurasa begitu, tapi aku tak mau menghancurkan karirnya."
"Apa maksudmu, menghancurkan karir?" tanya Mino.
Pria itu memijat pelipisnya. "Bukankah seorang aktris akan hancur karirnya jika benar-benar menjalin hubungan?" tanyanya.
"Entahlah, aku tak berpikiran begitu."
"Aku mencintai Jennie Kim, tapi gadis itu punya karir yang bagus. Senang mendengar soal hubungan media play itu dari mu, tapi, aku punya pemikiran lain," lanjut pria itu. Mino nampak antusias menantikan kalimat yang mungkin akan keluar dari mulut pria di depannya.
"Aku akan menjauh darinya—"
"PECUNDANG!" potong Mino. Pria berkulit tan itu berdiri sambil menatap tajam orang di depannya.
"Kau pria lembek! Tak bisakah kau memperjuangkan Jennie?!" lanjut Mino
Pria itu menggeleng.
"APA MAKSUDMU KIM JINU?!" Mino mencengkeram krah jaket Jinu, hingga membuat pria itu hampir tercekik.
"Jennie tidak mungkin mencintai pria sepertiku," jawabnya.
"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
Jinu tersenyum miris. "Kaupikir siapa aku? Apa aku pantas untuknya?" tanya Jinu. Bukan masalah pantas dan tidaknya, mencintai tak harus menunggu kata pantas. Jinu pun tahu akan hal itu. Tapi ia adalah pengecut dengan trauma yang berkepanjangan. Bahkan ia masih ingat bagaimana tragisnya kisah yang belum sempat terjalin dengan gadis yang pernah ia sukai dulu.
"Mulai sekarang, aku akan bersikap bahwa aku adalah orang lain. Aku akan bersikap seolah-olah aku tak pernah bertemu dengan Jennie Kim."
...♡♡♡...