
"Aku juga bingung mengapa begini, tapi aku yakin kalau ternyata," Jinu memotong kalimatnya, "—aku menyukaimu."
Jennie masih mematung, tanpa ia sadari keringat mengucur dari pelipisnya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia menerima pernyataan begini. Hanya saja, entah mengapa kesannya berbeda. Jinu melakukannya dengan cara yang berbeda, dan sukses membuat Jennie berbunga-bunga. Tak karuan senangnya. Karna tanpa Jennie sadari, rupanya ia juga menyukai Kim Jinu —Doggie menyebalkan— ini.
"Maukah kau menjadi pacarku?"
APA? PACAR? Pekik Jennie dalam hati. Sebegitu girangnya Jennie, bahkan ia langsung saja mengangguk berulang-ulang.
"Serius?" Tanya Jinu. Gadis di depannya mengangguk lagi. Meski tampangnya terlihat tertekan, namun Jinu merasa senang.
"Baguslah, itu artinya kau bukan Kattie bodoh yang berani menolak pria setampan aku," Jinu terkekeh.
BODOH. Batin Jennie yang tak sanggup mentoleran lagi ke-narsis-an Jinu. Pria di depannya tertawa pelan, kemudian membelai rambut Jennie.
"Selamat sudah menjadi pacarku!"
Panci mana panci? Batin Jennie. Namun meski begitu pipinya tetap memerah. Ia ikut tertawa, kali ini adalah moment jadian yang paling aneh yang pernah ada.
Chup!
Jennie terdiam sembari membulatkan matanya. Bibir dingin Jinu mendarat di bibirnya dengan sempurna. Sadar, tanpa efek alkohol seperti sebelumnya. Gadis itu tak memberontak, apalagi kali ini terasa begitu manis dan penuh dengan perasaan. Inikah yang dinamakan 'lakukan dengan cinta'? Jennie memejamkan matanya dan mulai menikmati perlakuan Jinu. Pria itu berubah menjadi sosok yang hangat, dan pacar yang menggairahkan. Jantung Jennie berdegup dengan kencangnya, apalagi saat Jinu mulai menarik diri Jennie dan menggiringkan untuk duduk di pangkuannya.
Chup. Pria itu mengakhiri aksinya dan menatap wajah Jennie. Mata teduhnya menenggelamkan Jennie saat itu, tanpa disadari tubuh mereka menempel begitu lekat. Bahkan Jennie bisa merasakan debaran jantung Jinu. Prianya tersenyum kemudian mengecup sekilas dahi Jennie. Gadis itu menampakkan raut sedih setelahnya.
"Kenapa?"
"Kau begitu pandai membuatku jatuh cinta, dan lihat apa yang kaulakukan? Kau menyerap kepandaianku dengan kecupan di dahi barusan," ujar Jennie.
"Benarkah kepandaianmu berkurang? sepertinya aku harus melakukannya lagi agar kau semakin bodoh," goda Jinu yang kembali melayangkan kecupan di dahi Jennie.
"Yakk.. jangan membuat aku jadi bodoh."
...♡♡♡...
Mino masih berusaha menghubungi Jinu, tapi hal yang sama terjadi lagi sejak kemarin. Ah. Tidak. Bahkan Jinu tak pernah menjawab teleponnya sejak awal.
"Bagaimana?" Tanya Jisoo. Mino mendengus, "Tidak diangkat lagi."
Pria itu menggeleng, "Tidak mau, pokoknya tidak boleh.. bisa-bisa dia menghubungimu terus."
Begitulah Mino yang terlalu paranoid. Jisoo memutar bola matanya malas.
"Tsk! Bagaimana bisa aku bertindak jika begini?" Taehyun memijat pelipisnya. Ketiganya saat ini berada di kantor agensi, mereka masih bingung harus dengan cara apa membantu Jennie membersihkan namanya. Sementara Jennie —yang meminta bantuan— pun sejak saat itu justru tak ada kabar dan sulit dihubungi. Ia menjual ponselnya, dan memberikan nomor Kim Jinu jika sewaktu-waktu mereka ingin menghubungi. Namun, rupanya hal itu percuma karna Jinu tak akan mau mengangkat telepon dari nomor tak dikenal.
"Bagaimana kalau umumkan saja besok, bukankah Jennie yang meminta bantuan sendiri ? aku jamin dia pasti setuju," ujar Jisoo.
"Tapi, bagaimana jika dia tak setuju dengan cara ini?" Taehyun nampak masih ragu.
"Lalu, kita harus bagaimana? Banyak diam tidak akan menyelesaikan masalah," jawab Mino. Pria CEO yang lebih muda darinya itu mengangguk paham.
"Baiklah jika begitu, aku akan menghubungi media dan menyatakannya sendiri tanpa Jennie."
"Tapi, bagaimana dengan foto yang dirilis dispetch belakangan ini? apa mereka akan percaya dengan pernyataanmu?" Tanya Jisoo yang ingat dengan berita yang dirilis oleh media baru-baru ini.
Taehyun kembali berpikir, "Lalu, siapa kira-kira pria itu? Apa dia Kim Jinu?"
"Entahlah," Jisoo menggelang tak tahu.
...♡♡♡...
Jennie terbangun di pagi harinya. Ia tersenyum, mengingat hal yang terjadi semalam. Benar. Sekarang ia mendapatkan gelar baru, yakni, 'pacar Kim Jinu'. Pipinya masih memerah, gadis itu beranjak dan mulai berkaca.
"Kadar kecantikanku naik 50 persen, sekarang menjadi 200 persen," gadis itu terkikik. Ia melirik ke arah jam dan terkejut, "Astaga, sudah jam 8?"
Jennie berlari ke dapur untuk menyiapkan makanan. Tak seperti biasa, Jinu tak marah-marah saat Jennie bangun kesiangan. Apa karna sekarang Jennie adalah pacarnya?
Gadis itu menghentikan langkahnya diambang pintu dan mendapati Jinu sudah duduk di meja makan sambil mengoleskan selai pada selembar roti.
"Kau sudah bangun?"
Bahkan sapaan Jinu di pagi hari sanggup menggetarkan Jennie.
Seksi sekali. Batin Jennie.