
Seharian mereka berkeliling untuk mencari apartment murah yang mungkin akan menampung Jennie sementara. Naas nya selain dipecat, gadis itu juga diusir dari apartment yang ia tinggali sebelumnya. Hal itu dilakukan oleh pihak agensi demi mengganti rugi hutang semasa training dulu.
"Heu--------"
Gadis itu masih menangis. Bahkan Jinu sudah bosan mendengarkan nya. Pria itu terlalu cuek dan tak tahu bagaimana cara memperlakukan gadis yang tengah menangis, karena ia sendiri pun belum pernah berpacaran.
"Diam dan bawa koper koper itu keluar, kita sudah sampai.."
Ucapnya sesaat setelah menghentikan mobilnya. Jennie mengusap mata nya, gadis itu melihat ke arah jendela mobil. Ia terdiam sesaat lalu mengalihkan wajahnya ke arah Jinu.
"K-kau mengusirku? Kau tidak mau membantu ku?"
Jinu mengarahkan jari telunjuknya ke arah spedometer di mobil nya.
"Jarum ini tadinya berada di huruf F, tapi sekarang di huruf E.. Kau tahu berapa won yang harus aku habiskan untuk membeli bahan bakar satu tangki penuh?"
Jennie melirik takut ke arah Jinu. Ia jadi makin menyusahkan kini.
"Aku janji akan mengganti uang bensin nya jika sudah mendapatkan pekerjaan.."
Jawabnya pelan.
"Tsk.. Kau bilang kau punya sedikit uang.. Mana?"
Jinu menjulurkan tangan ke arah Jennie.
"K-kau tega.. Uang ini akan ku pakai untuk menyewa apartment.. Kalau tidak ada uang, aku akan tidur dimana?"
Ucap Jennie memelas. Jinu mendengus kesal. Ia juga bingung, kenapa ia harus berada di dalam situasi ini bersama Jennie? Kenal saja tidak.
"Terserah, aku tidak peduli.."
Namun sedetik kemudian ia melirik ke arah Jennie yang masih diam di tempat duduknya sambil memeluk tas kopernya.
"Tsk.."
Jinu berdecak. Bagaimana bisa makhluk di sampingnya ini nampak begitu kasihan, padalah sebelumnya Jinu hanya dapat memandang wajah angkuhnya di televisi.
"Bagaimana jika aku bekerja pada mu?"
Jinu menoleh kaget sesaat setelah Jennie melontarkan perkataan itu.
"Memang nya kau bisa apa?"
"Aku bisa memasak, bersih-bersih, mencucikan baju mu dan pekerjaan lainnya seperti berkebun dan membawakan barang barang belanjaan mu.."
Jawab Jennie antusias. Hal itu hanya dijawab dengan senyuman sinis oleh Jinu.
"Kau tak percaya? Aku bersumpah.. Aku adalah putri seorang pekerja keras di New Zealand.."
Ujar Jennie lagi.
"Aku bisa mengerjakan semuanya sendiri.."
"Tapi- tapi.. Setidaknya ijinkan aku bekerja padamu dan mengerjakan semuanya.. Anggap saja ini sebagai bantuan untukku.. Ku mohon, kasihanilah gadis yang tak punya siapa pun ini .."
Jennie memohon sambil meraih tangan Jinu dan menggenggamnya dengan erat. Pria itu menghembuskan nafas panjang. Sejujurnya ia juga tidak tega meninggalkan Jennie seorang diri di saat saat seperti ini. Mengingat sebelumnya juga ada seorang sasaeng yang berusaha membunuhnya.
"Baiklah.."
"Terima kasih, kau adalah malaikat ku.."
Ucapnya.
...♡♡♡...
"Saya sudah menyelesaikannya nona Cho.. Sekarang, bagaimana kalau kita bicarakan soal investasi itu?"
Gadis bersurai panjang itu tersenyum sinis. Hari ini ia diundang untuk menghadiri rapat penting dengan CEO I.C.E Entertainment, Park Jinyoung. Ia mengambil sebuah pena yang disediakan disana, kemudian menuliskan sebuah nominal yang cukup besar. Gadis itu adalah putri pemilik rumah mode Bleuuberry.
"Jadi, aku dapatkan peran itu? Bagaimana dengan Jennie Kim? Kau sudah pecat dia kan?"
Tanya nya pada CEO Park.
"Baru saja aku memecatnya.. Tenang saja kau akan mendapatkan peran itu, aku juga sangat berterima kasih padamu atas investasi ini.."
Jawab nya.
"Sebaiknya tahun ini, aku mendapatkan penghargaan sebagai Aktris pendatang baru terbaik.. Apa kau juga bisa mengusahakan nya?"
"Tentu saja.."
CEO Park mengangguk. Gadis itu berdiri dari tempat duduknya, urusannya sudah selesai kan?
"Sebaiknya aku beristirahat yang cukup, karna besok lusa aku harus menjalani shooting untuk drama itu.."
Ucap nya.
"Benar Nona Cho.. Kau harus menjaga kondisi mu, dan yang terpenting jangan membiarkan netter mengkritik akting mu.. Intinya kau harus belajar.."
Gadis itu melirik kesal.
"Kau pikir akting Jennie Kim lebih bagus dari ku begitu? Asal kau tahu saja, ya.. Aku belajar casting di seluruh dunia.. Dibandingkan Jennie Kim, aku jauh lebih berpengalaman.."
"Bukan begitu maksudku Nona Cho.. Aku hanya mengingatkan mu saja.."
Seharusnya CEO Park segera menutup mulutnya. Gadis itu masih nampat tidak senang.
"Oh ya.. Pihak kami sudah melepas poster Jennie Kim dan akan segera menggantinya dengan poster mu.. 2x lipat lebih besar.."
Sambung CEO Park untuk mencoba mencairkan suasana.
"Aku mau posterku dibuat 3x lipat lebih besar.."
Jawab gadis itu.
"Tentu saja Nona Cho.."
"Oh ya satu lagi.. Jangan bersikap sehormat itu padaku di depan orang orang.. Itu akan membuat mereka curiga, cukup panggil nama ku saja, tuan Park.."
"Baiklah Miyeon-ssi.."
Jawab CEO Park.
"Bukan begitu pak tua.. Panggil Cho Miyeon, sama seperti kau memanggil Jennie Kim.."
Pria separuh baya itu mengangguk. Miyeon kemudian berlalu keluar dari ruangan CEO.