Lovely Stranger

Lovely Stranger
Putri Teman Sandara



Miyeon memotong daging steak di depannya, kemudian memakannya dengan elegan. Malam ini, ia menemani sang ibu untuk bertemu dengan rekan kerjanya yang baru saja datang dari Paris.


"Cho Miyeon sangat cantik, jadi kau baru saja menyelesaikan drama televisi mu ya?"


Tanya wanita di depannya dengan ramah.


"Iya tante, anda harus menonton drama ku.. Jalan cerita nya sangat menarik.."


Jawab Miyeon. Wanita di depannya mengangguk mengiyakan.


"Oh ya, bukankah kau memiliki 3 anak laki laki? Kira kira apakah salah satu dari mereka akan tertarik pada Miyeon?"


Tanya Cho Hyuna.


"Oh itu, anak pertama ku baru saja menikah.. Ku rasa anak kedua ku sudah lebih dari siap, usia Jumyeon dan Jinu hanya berselisih 1 tahun.."


Jelas wanita itu, yang tak lain adalah Sandara Park.


"Wah, ternyata kau sudah akan menjadi nenek ya.."


Goda Cho Hyuna.


"Astaga, aku masih belum pantas menjadi nenek.. Tapi, ya, mau bagaimana lagi.. Diam diam Jumyeon sudah menabung benih duluan, aishh.. padahal dia putra ku yang paling tidak banyak tingkah.."


Menyadari perubahan raut wajah Hyuna, Sandara tertawa aneh. Harusnya ia tak melakukan sesi curhat disini, apalagi jika Hyuna tahu bahwa dua putranya yang lain sering membuat masalah.


"Ah, maksudku.. itu adalah tanda keseriusan dari putra sulungku.. itu tidak akan terjadi pada putra kedua dan ketiga ku.. Tapi jika itu terjadi, aku bersumpah akan memukuli mereka dengan tanganku sendiri.."


Lanjut Sandara.


"Ah iya, aku memakluminya.. selagi kenakalan itu masih berada di dalam batasnya.. Aku pun juga akan memukul Miyeon dengan benda itu jika ia ketahuan sudah tak perawan.."


Ucap Hyuna sambil melirik ke arah pajangan tanduk rusa yang tertempel di atas perapian restauran klasik itu.


Miyeon meneguk saliva nya. Sang ibu memang benar benar ganas.


"Oh ya, bagaimana jika kita kenalkan Miyeon dengan putra kedua mu? Apa kau setuju?"


Tanya Hyuna.


"Ah entahlah.. Putra ku sedang dekat dengan seseorang.."


Jawab Sandara yang ingat bahwa putranya sedang memacari Jennie Kim.


"Mereka baru dekat, belum akan menikah kan? Kita atur dulu saja pertemuannya.. Siapa tahu anak kita berjodoh.."


Ucap Hyuna.


"Ya.. Kurasa itu bisa diatur.."


Jawab Sandara yang tak enak hati pada rekan bisnisnya ini.


...♡♡♡...


Jennie mengerjapkan matanya, sebuah selimut melilit tubuhnya saat ini. Ia menatap ke arah sekitar. Pemandangan karpet bulu di ruangan tengah dan kaki meja menyambutnya. Ia terdiam sesaat untuk mencari kesadarannya. Tadi malam ia minum sangat banyak, bahkan lupa bahwa ia sedang bertarung dengan Jinu. Ia pun tak tahu siapa yang menang.


Habislah aku kalau aku yang kalah..


Pikir Jennie.


Ia mencoba bangun, namun ia menyadari ada sesuatu yang aneh saat ini. Sepasang tangan mengunci tubuhnya. Seolah tangan itu adalah tali tambang dan melilitnya begitu kuat.


Tak bisa bergerak


Batinnya. Jennie mendongakkan wajahnya dan menatap siapa kah pelakunya. Seketika tubuhnya memanas, pipinya memerah layaknya kepiting rebus.


Ritme detak jantungnya meningkat bahkan sepuluh kali lipat, seperti habis lari marathon.


A-apa yang harus kulakukan?


Gadis itu bergulat dengan pikirannya. Mengapa posisi tubuhnya begini. Sekelebat kejadian melintas di otaknya.


Oh tidak!


Flashback.


"ARGHHH!!"


Pekik Jinu saat Jennie mendarat di atas tubuhnya.


"Dasar Doggie menyebalkan.."


Marah Jennie yang masih menyerang Jinu dengan tenaga seadanya. Pria itu menghentikan pergerakan Jennie dengan cara memegang kedua tangan Jennie.


"Berhenti nona Kattie.."


Tanpa sengaja Jinu menarik tangan Jennie, hingga tubuh Jennie melekat kepadanya.


Gasp!!


Ini gila, posisi mereka sangat dekat dan begitu menguntungkan untuk Jinu. Wajah Jennie memerah, ia berhenti menyerang.


"Kau cantik..chuuuu"


Ucap Jinu yang kemudian melayangkan kecupan singkat di bibir Jennie.


"A-apa aku mimpi?"


Tanya Jennie dengan bodohnya.


"Iya, aku juga mimpi.."


Jawab Jinu tak kalah tololnya.


Seperdetik kemudian sepasang bibir itu kembali tertaut. Jinu mengeratkan pelukannya pada Jennie, gadis itu bodoh dan tenggelam dalam asumsi mimpi yang ia pikirkan.


Mereka berguling dari sofa hingga jatuh ke karpet, kini posisi Jennie berada di bawah Jinu.


"Mau lakukan lebih?"


Goda Jinu.


"Anghh oppa.."


Ucap Jennie manja sambil memukul pelan dada Jinu.


Flashback end.


Jennie membelalakkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang ia lakukan semalam.


Dasar tak punya malu!


Rutuknya pada diri sendiri. Naasnya ia lupa dengan hal berikutnya yang mereka lakukan.


Semoga tak separah yang ku pikirkan..


Pikir Jennie. Gadis itu melepaskan diri dari dekapan Jinu dengan pelan. Ia tak mau membangunkan Jinu saat ini, tentu ia akan semakin malu..


...♡♡♡...