
Seusai sarapan, Jinu mengajak Jennie untuk berbelanja keperluan bulanan. Tak disangka mereka sudah melakukan rutinitas itu beberapa kali. Tak heran juga jika cinta bisa tumbuh begitu cepat di rumah Jinu yang membosankan. Pria itu mendorong troli yang berisi penuh belanjaan. Tak seperti biasa, kali ini ia menggantikan peran Jennie. Maklum juga, karna pria itu kini sedang dimabuk asmara. Bisa dibilang hubungan mereka saat ini sedang berada dalam fase 'lovey dovey'.
"Tak ada keperluan lain?" tanya Jinu sembari melirik ke arah Jennie. Gadis itu menatap bingung, "Bukankah biasanya kita hanya berbelanja ini?"
Jinu menghela napas, si 'Kattie' menyebalkan ini lagi-lagi membuat raut wajah yang menggemaskan.
"Kau tak ingin beli sesuatu?" tanyanya.
Baju, sepatu, perhiasan, alat berias. Batin Jennie yang seolah ingin prianya mengatakan hal tersebut.
"Ti-dak," jawabnya agak ragu. Sedangkan Jinu kini berulang kali mengkode Jennie agar melirik ke rak sebelah.
"Kau tak butuh itu?"
Jennie melirik ke rak tersebut, "Ah iya, aku butuh!"
Gadis itu berlari ke arah rak berisi berbagai merk pembalut wanita.
"Aishh ..! kenapa dia tak pernah membeli benda itu," gumam Jinu yang kemudian mendorong trolinya ke arah rak tersebut.
Selesai berbelanja, mereka memutuskan untuk makan di restoran yang terletak tak jauh dari supermarket. Di sana Jennie nampak bingung. Tak biasanya Jinu mengajaknya makan di restoran seperti saat ini.
Ia menatap Jinu yang sedang sibuk memilih menu makanan, "Mengapa tak makan di rumah saja. bukankah kaubilang kita harus hemat?"
"Aku tak sepelit itu, apalagi untuk mentraktir pacarku sendiri."
Rona merah segera menguasai pipi Jennie, pria di depannya ini berubah menjadi sosok yang 180 derajat berbeda.
"Mengapa tak dari dulu saja kau jadikan aku pacar?" tanya Jennie.
Jinu melirik ke arah gadis imut di depannya, "Kaupikir aku sengaja jatuh cinta padamu."
Yang benar saja? Jennie merubah raut wajahnya menjadi datar, kalau saja Jennie tak menyukai pria ini —Jinu—, maka ia pasti sudah memukul kepalanya.
"Karna kau bodoh," jawab Jinu cepat.
"Apa?!" tanya Jennie sedikit memekik. Pria di depannya melengkungkan bibir, "Tak banyak gadis bodoh sepertimu, dan aku suka gadis yang bodoh."
Jennie kembali tersipu. Bagaimana bisa ia tetap mencintai Jinu meski dikatai 'bodoh' berulang-ulang?
"Dan lagi, kau mirip Rei dan Bei," lanjut Jinu.
Apa katanya? Jadi dia menyamakanku dengan kucing-kucing botak itu? batin Jennie.
...♡♡♡...
Taehyun begitu yakin dengan niatnya kali ini. Pria itu menatap lurus pada wanita separuh baya di depannya —wartawan—. Ia mengundangnya untuk datang ke kantor agensi The South.
"Kau mengenal pria ini?" tanya wanita separuh baya itu.
Taehyun mengangguk, "Ya.. dia Kim Jinu."
"Pacar Jennie Kim?"
Pria berambut belah tengah itu terdiam sesaat hingga kemudian memutuskan untuk menjawab, "Aku mengenal pacar Jennie Kim.. dan dia bukan pria ini."
Wanita separuh baya itu membenarkan kaca matanya. Kemudian menatap Taehyun dengan seksama, "Lalu siapa pacarnya?"
"Aku," jawab Taehyun cepat bahkan tanpa berpikir. Bukankah hanya dengan cara ini ia bisa membersihkan nama Jennie Kim? Selain itu, sepertinya pria yang pernah menyatakan cintanya pada Jennie Kim 2 tahun yang lalu itu masih menaruh harapan.
"Jadi, siapa sebenarnya Kim Jinu?"
"Dia hanya teman, oleh sebab itu hentikan menggiring opini publik yang mengarah padanya.. dan segera terbitkan berita ini!" pinta Taehyun.
...♡♡♡...