
"Yakkk.. LEPASKAN AKU.."
Rontanya, Jinu yang kewalahan akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa tubuh Jennie.
"Akh.."
Keduanya mengaduh bersamaan. Wajah mereka kini hanya berjarak tak lebih dari 1 cm, bahkan hidung mereka saling bersentuhan. Untuk sesaat waktu terasa berhenti, mereka saling menatap dan tak bisa mengatakan apapun. Hening, sunyi, bahkan deguban jantung mereka kini mendominasi.
Deg deg deg deg deg..
Nafas semakin cepat, jantung dipompa dengan keras. Desiran darah melaju kencang, membuat tubuh mereka menghangat. Seolah nyaman dengan posisi itu, Jinu bahkan enggan bergerak sedikitpun. Hingga seseorang datang dan mengganggu momen tak terduga tersebut.
"OH.. Jadi ini yang kau lakukan saat kau sudah punya rumah sendiri?"
Lengking seseorang yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu.
Kedua insan yang berada dalam posisi saling menguntungkan itu menoleh bersamaan. Seorang pria muda sudah berdiri disana sambil menganga.
"YAKK!! KIM JAEWON, TAK BISAKAH MENGETUK PINTU DULU!"
Protes Jinu yang kini bangkit dari posisinya, sedangkan pria bernama Kim Jaewon itu kini tengah menebar senyum gilanya.
"Kalau aku mengetuk pintu, aku tak akan melihat ini.. Akh-"
Ia mengaduh ketika Jinu memukul kepalanya.
"Dasar kurang ajar!"
"Yakk.. Hyung, sakit.."
Jaewon menangkis pukulan bertubi tubi dari kakak nya.
"Apa yang kau lakukan disini hm? Kenapa orang orang tiba tiba datang tanpa mengabari seperti ini, aishhhh..."
Gerutu Jinu. Jennie masih duduk di sofa dan memandangi dua pria itu.
"Hyung pikir Ayah tak langsung cerita pada kami semua?"
Jaewon terkikik. Jinu melirik ke arah Jennie, gadis itu tak tahu harus berbuat apa. Ia tak bisa membantu.
"Aishh.. Baiklah, aku akan hentikan kesalah pahaman ini.. Aku akan menceritakan semuanya, tentang hubungan ku dengannya.. tapi berjanjilah kau tak akan mengatakannya pada Ayah, Ibu, Jumyeon Hyung, dan siapa pun itu.."
Ucap Jinu. Jaewon memiringkan kepalanya, kemudian kembali tersenyum aneh. Pasti ada maunya.
"Tergantung, jaminan apa yang akan Hyung berikan padaku.."
Pria itu menaikkan kedua alisnya berulang ulang.
"Katakan apa mau mu?"
"Eungg.. Aku akan berada di Seoul selama seminggu ini, jadi pinjamkan rarry mu agar aku bisa tetap keren saat berkencan.."
Jawab Jaewon. Jinu mengangguk, kalau saja Jaewon bukan adik kesayangannya.
...♡♡♡...
Hari itu suasana di lokasi syuting nampak ramai. Mereka sudah menyelesaikan episode terakhir kemarin, jadi hari ini agenda nya adalah makan makan.
Cibir Jisoo pada Miyeon, belakangan memang ia harus bekerja keras karna harus menyesuaikan karakter yang ia mainkan dengan sifat aslinya yang berseberangan.
"Selamat juga untukmu karna selamat dari skandal kencan.."
Balas Miyeon yang kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Jisoo.
"Aishh.. Ingin rasanya aku menjambak rambutnya seperti waktu itu!"
Kesal Jisoo.
"Yakk! Lain kali saja, ayo pulang.."
Ucap seorang pria yang kini berdiri di belakang Jisoo. Gadis itu menoleh, dan benar dugaannya. Pria itu kekasihnya, Song Mino.
"Ah benar, bagaimana kalau Oppa memasakkan ku makan malam.. Hehe"
Jisoo terkikik.
"Umh.. Baiklah, tapi khusus hari ini tidak usah membahas Jennie dulu ya.. Hehe.."
Pria itu nampaknya iri pada Jennie yang selalu berada di otak Jisoo.
"Baiklah.."
...♡♡♡...
"Hatcihhh!!!"
Jennie terbersin saat menaburkan lada di atas omelet Jinu.
"YAKKK.. Jangan bersin di makanan ku.."
Protes Jinu yang kini sudah siap di meja makan.
"Kau pikir aku sengaja bersin!"
Sungut Jennie. Gadis itu menyodorkan sepiring omelet pada Jinu.
"Sial! Kebutuhan hidupku naik dua kali lipat selama kau ada disini.."
Ucap Jinu seolah menyalahkan Jennie.
"Aku tak makan sebanyak itu.."
Bela Jennie pada diri sendiri. Pria di depannya masih asyik melahap makanan itu.
"Oh ya, sebelumnya kau pernah bilang akan membantu ku bertemu dengan Jisoo.. Jadi, bagaimana jika hari ini kita pergi ke apartment nya.. Aku melihat berita di TV, syuting drama nya sudah selesai sejak kemarin.. Aku yakin dia sudah tak sibuk saat ini.."
Ucap Jennie.
"Ya.. Setelah aku makan, aku akan mengantarmu.. Siapa tahu dia akan mengambil alih dirimu, jadi, aku tak perlu menampungmu disini lagi.."
Jawab Jinu. Gadis di depannya cemberut, Jinu memang baik tapi sepertinya ia sudah tak menginginkan Jennie berada di rumahnya.
...♡♡♡...