Lovely Stranger

Lovely Stranger
Persidangan 1



Jisoo merasa cukup tertekan mendengar berita kencannya yang dirilis. Gadis itu memikirkan tentang karirnya yang sedang gemilang saat ini, bahkan ia masih belum menyelesaikan drama yang dibintanginya.


Seusai syuting, gadis itu berpamitan pada seluruh kru. Meski semua nampak baik-baik saja, dan menyemangatinya namun Jisoo merasa ketakutan.


Gadis itu menggendong tasnya dan berjalan cepat meninggalkan sang manager yang belum usai membereskan barang-barangnya. Jisoo memeluk tubuhnya, memasang hoodie di kepala sembari berjalan menunduk. Dan benar dugaannya, sudah ada puluhan wartawan yang menunggunya di depan. Gadis itu menghentikan langkahnya, mendadak keringat dingin mengucur di pelipisnya. Jantungnya berdebar tak karuan, ia takut jika diserang dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum siap ia jawab.


Sebelumnya tak ada yang menyadari bahwa itu adalah Jisoo. Namun berhubung ia berdiam terlalu lama di sana, beberapa wartawan mulai mengalihkan perhatian padanya.


Mereka berjalan setengah berlari menuju ke tempat Jisoo berdiri. Gadis itu seolah membeku, tak bisa melangkah dari tempatnya. Padahal bisa saja ia masih sempat berlari, namun tubuhnya seolah tak mau bergerak. Ia makin menunduk, seolah pasrah dengan kedatangan wartawan yang siap mengerumuninya.


"Jisoo-ssi!"


"Jisoo-ssi!"


Mereka mulai menyapa Jisoo, gadis itu jadi makin berdebar-debar. Ia tak tahu harus berkata apa.


"Maaf, kami harus pergi!"


Seseorang menggandeng tangan Jisoo. Gadis itu tertegun, perlahan ia mendongak menatap pria yang lebih tinggi 20 cm darinya.


"Mino-ssi, apakah benar kalian sedang menjalin hubungan?" Salah seorang wartawan mulai mencecar pertanyaan. Jisoo makin berdebar-debar, ditambah dengan perlakuan Mino yang seolah menunjukkan bahwa mereka sedang terang-terangan berpacaran.


"Aku akan menjawab pertanyaan ini nanti di konferensi pers!" jawab Mino.


"Tidak bisakah kau menjawab sekarang?" sela wartawan yang lain. Mino melirik sinis ke arahnya. "Kalau kau tak sabar, maka aku akan mem-black list-mu untuk hadir di konferensi nanti!" tegas Mino. Orang tersebut hanya bisa diam.


Mino menggandeng Jisoo dan berjalan menerobos kerumunan wartawan. Ia juga membawa Jisoo masuk ke mobilnya, kemudian mereka bergegas pergi dari tempat itu.


Jisoo masih bingung saat ini. Ia menatap dengan penuh tanya pada Mino yang saat ini fokus mengemudi.


"CEO Nam sudah mengijinkan."


"Tapi—"


"Kau tak ingat kata Jennie?" potong Mino. Gadis di sampingnya menunduk, untuk beberapa saat ia diam dan berpikir. Sebuah keyakinan muncul di dalam dada Jisoo, gadis itu menatap lurus ke depan dengan wajah yang begitu mantap.


"Kau benar, kita tak perlu takut mengakui hubungan kita!"


...♡♡♡...


Hari itu persidangan kedua. Jennie duduk di sebuah bangku yang terletak di samping jaksa penuntut. Di sampingnya ada Jinu yang tak mau melepas genggaman tangannya.


"Kalian semua melakukan ini demi aku." Bibir Jennie bergetar, ia menoleh ke arah sang pria.


Jinu tersenyum, ia makin mengeratkan genggaman tangannya pada Jennie. "Aku sudah bilang, kalau aku akan membuat semuanya tuntas. Dan kau lihat, apa yang dilakukan orangtuaku adalah bentuk dari keseriusan mereka menuntut keadilan untukmu."


Jennie menitihkan air matanya, jemari Jinu menghapusnya cepat sembari merengkuh pipi sang kekasih. "Kenapa kau menangis?" tanya Jinu.


"Aku tak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Bahkan orangtuaku hanya menyuruhku untuk menerima saja, tanpa menuntut pelakunya. Mereka terlalu kuno, dan hanya berharap karma yang akan membalas."


Jinu kembali tersenyum, ia menatap Jennie dalam-dalam. "Orangtuamu benar. Dan sekarang, karma itu telah datang. Aku dan keluargaku hanyalah perantara dari karma itu, kau mengerti 'kan?"


Jennie mengangguk, pria di sampingnya membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


Tak lama, Hyuna memasuki ruangan itu bersama dengan Park Jinyoung. Memang jelas bahwa Sandara menuntut kedua orang itu, sehingga mereka harus hadir bersamaan. Jennie terperanjat dari duduknya karna terkejut dengan kedatangan CEO dari agensinya dulu.


"CEO Park, jadi anda?"