
Masih masalah kolong meja, Jennie merasa kesal dibuatnya.
"Dasar doggie sialan,"
Setidaknya sudah hampir setengah jam ia terus saja mengucapkan mantera itu. Ditatapnya Kim Jinu yang kini duduk di hadapannya. Pria itu menampakkan raut tak enaknya pada Jennie.
"Aku kira itu mimpi,"
Jennie membelalakkan matanya. Mimpi? Jadi hal senyata itu masih ia pikir bahwa itu mimpi? Jennie tak tahu harus bagaimana menyikapi ini, kesal, marah atau maklum saja.
"Kau pasti sering mimpi basah," Entah mengapa dugaan jorok itu tiba-tiba tercetus dari mulut Jennie. Gadis itu terdiam dan merasa aneh dengan kosa kata yang ia ucap barusan.
"Aishh.. Lupakan saja!" Jennie beranjak dari tempat duduknya, namun sesuatu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Sepertinya gatalku semakin parah," Ucap Jinu yang kini menahan lengan Jennie.
"La-lalu, apa hubungannya denganku?" Tanya Jennie. Sumpah ia tak peduli dengan alergi Jinu, lagi pula bukan dia juga penyebab munculnya ruam di kulit Jinu.
"Aku malu keluar ke apotek dengan keadaan begini-"
"Jadi kau menyuruhku untuk ke apotek, begitu?" Potong Jennie.
"Aku akan menunggu di mobil, dan kau yang beli obatnya!" Jawab Jinu dengan nada paksaan.
...♡♡♡...
Brakkkk.
Jennie membanting pintu mobil dengan keras hingga Jinu yang termangu beberapa saat yang lalu terkejut.
"Yakk!! Apa tidak bisa pelan-pelan," protes Jinu.
Gadis itu menyodorkan sebuah plastik kecil berisikan obat alergi pada Jinu, "Ini, simpan saja sendiri," ucapnya kesal sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Cuek saja, Jinu menerima bungkusan itu kemudian kembali mengemudi.
Sesampainya di rumah, Jinu mendapati Rei dan Bei tertidur di atas sofa ruangan tengah. Ia tersenyum kemudian mengusap lembut kepala kucing-kucingnya itu.
"Sayang-sayangku, kalian begitu menggemaskan," ucapnya.
"Yakk.. jangan sentuh mereka," Jennie menampik tangan Jinu.
"Apa masalahmu?!"
Gadis itu melotot, "Kau sedang alergi, bagaimana jika alerginya semakin parah?"
Jinu merengut, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Jennie. Ia berjalan menuju dapur untuk meminum obat, dan makan beberapa kudapan.
Jennie duduk di samping Rei dan Bei, tiba-tiba gadis itu teringat pada 2 anjingnya yang ia titipkan pada temannya dulu.
"Kalian membuatku ingat pada Kai dan Kuma, kira-kira bagaimana ya, kabar mereka?" Gadis itu bergumam. Kemudian ia kembali melirik ke arah Jinu yang baru saja keluar dari dapur dan masih sibuk menggaruk-garuk kulitnya.
"Aishh, dia itu, apa dia tak punya telinga?" Gurutu Jennie. Untuk sesaat ia terdiam dan kembali memegangi bibirnya, "Aku bahkan masih merasa sedikit canggung, lalu mengapa dia bersikap secuek itu?" Gadis itu merasa kecewa. Ia berjalan menatap ke arah jendela, pemandangan teras belakang rumah yang permai membuat Jennie kembali tersenyum.
'Pilih ruangan itu, atau buat tenda camping di teras belakang?'
Pertanyaan Jinu kembali terngiang di telinga Jennie. Rasanya seperti baru kemarin mereka bertemu, dan Jennie tak menyangka jika mereka akan berakhir dalam sebuah sandiwara 'pacaran' yang tak sengaja mereka buat.
"Ini gila," gadis itu tertawa kecil.
"Kau gila?" Tanya Jinu yang tiba-tiba saja berdiri di belakangnya.
Jennie berbalik, "Sejak kapan kau ada disitu?"
"Sejak tadi, oh ya, kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Tanya Jinu. Pipi Jennie memerah, tentu ia malu dan takut jika dikira gila oleh pria itu.
"Bukan urusanmu," Jawab Jennie kesal. Gadis itu berlalu dari hadapannya untuk kembali duduk di sofa.
Drrrtt.. Drrtt..
Ponsel Jinu berdering, pria itu segera mengangkatnya.
"Hallo, ada apa Bu?"
Jennie langsung tahu siapakah yang menelpon ketika Jinu menjawabnya. Gadis itu memutuskan untuk kembali ke sofa dan bermain dengan Rei dan Bei.
"APA? MALAM INI? SEKARANG?"
Jennie menoleh ke arah Jinu, kemudian menggeleng keheranan. Caranya menelpon seperti itu bahkan akan membuat tetangga sebelah mampu mendengarkan topik yang ia bicarakan.
"Yaaa.. Kenapa sangat mendadak Bu?" Jinu mulai melontarkan protesnya di telepon, dan Jennie tetap pada mode tak peduli-nya.
Beberapa saat setelah Jinu mematikan teleponnya, ia berjalan mendekati Jennie.
"Cepat bersiap, karna kita akan pergi ke acara makan malam keluarga jam 8 tepat!" Pinta Jinu. Gadis di depannya kini membulatkan mata, "Makan malam?" Tanyanya kaget.
"Apa kau tuli? Haruskah aku mengatakannya berulang-ulang, aishhhh---" Jinu mulai mendumel. Pria itu berlalu dari hadapan Jennie, namun gadis itu mengejarnya.
"Mengapa sangat mendadak?"
"Jangan protes padaku, ini adalah acara yang dibuat oleh ibuku. Jadi sekarang, cepat pergi ke sebelah sana dan mandi, aku akan mencarikan gaun untukmu!" Ucap Jinu sambil menujuk ke arah kamar mandi. Mau tak mau Jennie pun harus menurutinya.
Sementara itu, sebenarnya malam ini Jinu mempunya janji dengan rekan sesama senimannya. Song Yuqi. Pria itu harus membatalkan janjinya dengan Yuqi karna acaranya begitu bertepatan. Jinu hanya tak ingin kena marah sang ibu yang galaknya menyerupai singa itu.
"Hallo," ucapnya ragu. Sesaat setelah Yuqi menjawab, Jinu segera beralasan untuk membatalkan pertemuan mereka.
"Ah, maaf ya, Yuqi.. ini benar-benar mendadak." Ucap Jinu sekilas. Setelah itu Jinu segera menyudahi teleponnya, karna ia juga harus segera bersiap.
...-...