Lovely Stranger

Lovely Stranger
Tuntutan



"APA INI!"


Tanya Jinu sembari menunjukkan halaman surat kabar yang memuat berita tentang dirinya dan Jennie.


"Be-berita?"


Jawab Jennie terbata.


"AISHH.. Aku sudah tahu.. Kenapa aku jadi dibawa bawa?"


Pria itu mengacak surai pendeknya dengan kesal.


"Mana.. Mana aku tahu.."


Jennie menunduk dan kembali merasa bersalah. Mengapa ia jadi sangat merepotkan Jinu.


"HUH.. Menyebalkan.."


Jinu berjalan dengan kesal menuju kamarnya.


BRAKK!!


Bahkan ia membanting pintu di depan Jennie, hal itu membuat Jennie menjadi mendadak takut pada Jinu.


"Kenapa dia jadi terlihat seperti setan?.."


Gerutu Jennie. Gadis bersurai panjang itu masuk ke kamar sempitnya dan meringkuk disana. Ia menyesali apa yang sudah terjadi saat ini, ia berpikir bahwa Jinu memang seharusnya tak perlu terlaku ikut campur dengan urusan Jennie. Namun, Jennie tahu bahwa pria itu punya alasan mengapa ia harus membantu Jennie. Tentu alasannya adalah agar Jennie bisa secepatnya keluar dari rumah ini.


Bulir bulir air menetes membasahi wajah cantik Jennie, ia tak tahu harus berbuat apa. Andai saja keluarganya menetap di Korea dan bukan di New Zealand, pasti ia akan dengan damai tinggal bersama keluarga nya meski harus melepaskan derajat keartisan. Jennie menyeka air matanya dengan cepat, gadis itu bangkit dan terduduk di atas kasur lipat.


"Aku tak boleh cengeng.."


Gumamnya seraya mencoba menghentikan perasaan campur aduk yang ia alami barusan. Ia melirik ke arah jam dinding yang terpasang di sudut ruangan. Sudah hampir pukul tengah malam, dan Jennie masih belum bisa memejamkan matanya.


Ia berjalan keluar dari kamar menuju tempat yang paling ia favoritkan di rumah Jinu, dapur. Jennie akan makan beberapa kudapan disana, biasanya setelah makan ia akan mudah tertidur.


Setelah menuntaskan misinya memakan kudapan, Jennie segera beranjak dari dapur dan berniat untuk tidur. Sudah berulang kali ia menguap, yang menandakan bahwa gadis itu memang perlu tidur. Ia berjalan melewati galeri seni Jinu, pintu ruangan yang tak cukup besar itu sedikit terbuka. Sebuah lukisan yang diletakkan di sudut bawah menarik perhatian Jennie, ia berjalan masuk untuk melihat goresan yang nampak begitu indah tersebut.


"Mengapa diletakkan disini?"


Jennie bergumam sembari menarik lukisan dengan ukuran kanvas yang lumayan besar itu. Bukankah sayang menganggurkan karya sebagus ini dan hanya meletakkannya di sudut?. Seperdetik kemudian Jennie membelakakkan matanya, benar benar tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Apa-Apakah ini aku?"


Tanya nya pada diri sendiri. Ia juga heran mengapa di dalam lukisan ini rambutnya berwarna pirang dan ikal.


Krekkk..


Pintu ruangan itu terdengar dibuka lebih lebar, sebuah siluet seolah menangkup tubuh Jennie dan membuatnya gemetaran.


"Apa yang kau lakukan disitu?"


Dari suaranya, Jennie sudah dapat menebak siapa yang datang. Jinu, lagi pula tak ada orang lain di rumah ini selain mereka.


"Eung, aku.. Aku.. Aku tak sengaja masuk.."


Jennie berbalik dan kembali terkejut saat mengetahui jarak antara dirinya dan Jinu tak lebih dari setengah meter.


"Kembalikan lukisan itu ke tempatnya!"


Pinta Jinu dengan nada dingin, Jennie hanya dapat mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan oleh pria di depannya.


"Sudah.."


Ucap Jennie yang kemudian akan beranjak dari tempatnya berdiri. Sampai di ambang pintu, Jennie kembali berbalik.


"Eunggg.. Apakah gadis di dalam lukisan itu adalah aku?"


"Entahlah, tanganku sedang kesemutan saat mengerjakan lukisan itu.. Jadi, aku anggap bahwa lukisan itu adalah lukisan gagal-"


"Boleh aku memilikinya?"


Potong Jennie antusias.


"Tidak!"


Jawab Jinu singkat. Jennie berbalik dan meninggalkan tempat itu.


"Ah sial.. Mengapa aku tidak jadi mengantuk"


Jennie memukul kepalanya sendiri.


"Jennie bodoh, seharuskan kau tak masuk ke ruangan itu"


Rutuknya pada diri sendiri, setelahnya ia memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar.


Sementara itu, Jinu masih terdiam di galerinya dan mengeluarkan sketsa yang ia kerjakan di kamarnya tadi. Ia mengerutkan dahi dan masih tak percaya dengan hasil yang ia dapat.


"Mengapa wajah Jennie lagi?"


Gumamnya keheranan.


...♡♡♡...


Menikahlah secepatnya, atau ayah akan menjodohkanmu dengan perawan tua itu..


Jinu gemetaran, pria itu meringkuk di lantai dan masih berada di galeri seni nya. Jinu membuka matanya, dan beranjak untuk pindah ke sofa ruangan tengah. Semalam ia ketiduran di tempat itu, dan merasakan sakit di persendiannya karena tidur tanpa alas.


Perkataan ayahnya kala itu kembali mengitari otaknya, perawan tua yang dimaksud sang ayah adalah rekan bisnisnya. Meskipun ia dikondangkan sebagai perawan tua, banyak orang yang akan heran mengapa gadis secantik itu masih single di usia nya yang cukup matang.


"Dimana aku harus mencari istri.."


Lenguh Jinu dengan segala rasa bosannya. Benar, ia bosan mencari. Atau mungkin karena ia sendiri yang terlalu pemilih.


Tokk tokk tokk..


Pintu rumah itu akhirnya diketuk setelah sekian lama tiada yang bertamu. Jinu berjalan malas menuju pintu masuk, sesekali ia masih menguap karena baru bangun tidur.


"Padahal jelas ada tulisan 'bel' di samping pintu, kenapa tidak menekan belnya saja.."


Jinu bergumam malas. Setelah sampai di depan pintu, pria tampan itu segera membukakannya. Ia terdiam mendapati sosok yang berdiri di depannya saat ini. Masih dengan gaya norak ala kakek kakek romawi, pria separuh baya itu menyunggingkan senyuman terbaiknya pada Jinu, putra kesayangannya.


"A-ayah.."


Jinu terbata. Entah kebetulan macam apa yang terjadi pagi ini, baru semalam ia memimpikan ayahnya dan saat ini sang ayah sudah berdiri di depannya.


"Pagi putraku yang tampan.."


"Kapan Ayah pulang dari Perancis, mengapa tiba tiba datang?"


Tanya Jinu, karena biasanya sang ayah akan mengabarinya dulu jika akan berkunjung.


"Ayah baru saja dari bandara dan langsung kesini.."


Jelas pria separuh baya itu.


"Siapa yang datang?"


Tanya Jennie yang tiba tiba muncul dari dalam, tuan Kim menatap gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Jinu.


"Siapa dia?"


"A-ayah, aku.. Aku.. Bisa jelaskan.."