
"Iya, Jennie. CEO busuk itu, orang yang lebih mementingian investasi dan membuat berita palsu demi putri dari orang itu!" Sandara yang sudah masuk sebelum Park Jinyoung kini menunjuk kepada Hyuna.
Jennie benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Persidangan tersebut berjalan dengan lancar. Sampai akhirnya hakim memutuskan bahwa Hyuna dan Park Jinyoung bersalah. Mereka akhirnya dijatuhi hukuman dan denda material atas kasus penyebaran berita palsu.
Mereka semua keluar dari ruang sidang dengan perasaan lega. Hyuna tiba-tiba berjalan menghampiri Sandara dan membicarakan sesuatu. Sandara nampak marah, namun kemudian ia mengangguk seolah memberikan Hyuna sebuah kesempatan.
Ibu dari Kim Jinu itu berjalan mendekat pada sang putra dan Jennie, Hyuna juga mengekor di belakangnya.
"Jennie, ada yang ingin dia bicarakan berdua saja denganmu," ucap Sandara. Jinu bergeser berdiri di depan Jennie. "Tidak akan kuijinkan!" jawab Jinu mendahului Jennie.
"Kumohon, Jinu-ssi. Aku janji, aku tak akan menyakiti Jennie," pinta Hyuna.
Jennie menarik pelan lengan Jinu. Pria itu menoleh, menatap sang gadis yang mengangguk seolah memberikan ijin pada Hyuna. Jinu akhirnya mengijinkan Hyuna berbicara berdua saja dengan Jennie.
Mereka duduk di bangku yang letaknya kurang lebih 20 meter dari tempat Jinu dan Sandara berdiri.
Hyuna memegang tangan Jennie, ia menggenggamnya erat. "Aku ingin minta maaf padamu, Jennie Kim."
"Saya pikir saya sudah memaafkan anda, meskipun saya tidak yakin apakah saya tulus," jawab Jennie. Tentu sulit baginya untuk langsung memaafkan, apalagi Jennie tak pernah tahu apa salahnya sehingga ia harus difitnah seperti ini. "Bolehkah saya bertanya?" tanya Jennie.
Hyuna mengangguk.
"Mengapa anda melakukan ini pada saya?"
Hyuna nampak diam sesaat. Ia kemudian menjawab, "Aku tak mau menyalahkan putriku. Tapi, kau selalu mendapatkan apa yang Miyeon mau."
Deg!
Jennie pernah berpikir tentang Miyeon, dan benar apa yang ia perkirakan. Mengingat Hyuna adalah ibu dari Miyeon, dan Jennie pun sama sekali tak punya urusan dengan wanita separuh baya ini.
"Tapi apa yang anda lakukan ini salah. Anda tak bisa menghancurkan seseorang untuk membuat putri anda berhasil dan sukses," ucap Jennie.
"Aku hanyalah single parent yang selalu ingin putrinya bahagia. Baiklah, kali ini aku menyadari bahwa apa yang kulakukan selama ini memang salah. Aku salah mendidik Miyeonku. Tapi, kumohon mengertilah bagaimana perasaan seorang ibu yang ingin putrinya bahagia."
"Aku juga punya ibu," ——Jennie berusaha tersenyum, "apakah anda tahu, apa yang ibuku katakan ketika aku terkena masalah ini? Dia berkata; jika kau tidak bersalah, maka jangan takut! Yakinlah bahwa kebenaran akan terungkap suatu saat. Dan anda tahu 'kan? Apa yang dikatakan ibuku itu benar. Kebenaran itu terungkap sedikit demi sedikit. Saya juga bertanya; jika aku tahu pelakunya, apa yang harus aku lakukan? Ibuku menjawab; kau tak perlu lakukan apapun, akan lebih baik jika kau memaafkan meski sulit. Anda mengerti 'kan? Bagaimana cara ibuku mengatasi masalahku? Seharusnya anda bisa melakukan hal yang sama, bukan malah menjatuhkan orang lain demi menunaikan keinginan putri anda," jelas Jennie.
Hyuna terdiam. Ia tak menyangka jika Jennie Kim bisa berkata demikian.
"Ya. Tapi, saya juga perlu berterima kasih pada anda. Karna berkat apa yang anda lakukan, saya bisa bertemu dengan Kim Jinu dan keluargnya yang sangat baik," jawab Jennie.
Setelahnya, mereka semua kembali. Jinu megantarkan Jennie pulang ke apartment.
...♡♡♡...
Miyeon terdiam di kamarnya. Gadis itu sudah mengurung diri seharian. Ia merenung, memikirkan tentang kesalahannya selama ini. Sekarang tak ada yang bisa ia lakukan. Berkat dirinya, sang ibu harus menebus kesalahan seorang diri. Melakukan wajib lapor sebagai tahanan kota, dan membayar denda yang cukup besar nominalnya.
"Hiks ... Hiks ... Hiks." Ia mulai terisak, dan memeluk kakinya yang jenjang.
Namun, tiba-tiba Miyeon beranjak. Gadis itu meraih mantelnya dan pergi ke luar.
Ternyata ia pergi ke sebuah toko es krim kecil yang terletak di pinggiran kota Seoul. Sudah lama ia tak pergi ke sana, kira-kira 2 tahun yang lalu.
"Permisi, ahjumma. Aku pesan yang biasanya, ya!" pinta Miyeon pada wanita tua penjual es krim itu.
"Kau, sudah lama sekali kau tak ke sini," ucapnya sembari menatap wajah Miyeon.
"Iya, aku sangat sibuk belakangan ini. Karna hari ini aku tidak sibuk, maka aku menyempatkan diri ke sini," jawab Miyeon. Gadis itu kini menyunggingkan senyum, meskipun hatinya sedang sedih saat ini. Ia terkesan pada wanita tua penjual es krim yang ternyata masih mengingat wajahnya.
"Rasa raspberry habis, cucuku baru saja pergi mengambilkan stoknya di rumah."
Miyeon mengangguk paham, ia duduk di bangku yang tersedia di sana. "Boleh aku menunggu?"
"Terserah kau saja, tapi aku tidak memaksa."
Miyeon kembali tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku jauh-jauh ke sini untuk makan es krim raspberry buatan anda yang lezat itu."
"Ini, halmeoni," seru seorang pemuda yang baru saja datang. Ia menyodorkan sebuah freezer bag berukuran sedang pada sang nenek.
"Untung kau cepat datang, ada pelanggan yang menunggu," ucap wanita tua tersebut.
Pemuda itu menoleh, bersamaan dengan Miyeon yang menatap ke arahnya.
Cantik sekali, besit pemuda itu dalam hati.