
...♡♡♡...
Jennie berulang kali meghubungi pengasuh Kai dan Kuma, namun ia tak menemukan titik terang. Ingin sekali ia memboyong kedua anjing kesayangannya itu kembali ke pangkuannya. Namun, sayangnya ia masih belum bisa menghubungi si pengasuh. Ia mondar-mandir di depan jendela apartment-nya sembari menggigit jari. Memang benar ia mendapatkan karirnya kembali. Akan tetapi, ia harus kehilangan seseorang yang ia sayangi. Anjing-anjing lucu yang seharusnya bisa menjadi penawar luka itu pun hilang tak ada jejak.
"Padahal aku sudah bilang kalau aku akan mengambil mereka kembali," gumam Jennie kesal. Gadis itu mulai resah. Ketimbang pada anjing-anjingnya, Jennie lebih merindukan sosok Doggie bodoh yang kerjaannya hanya berdiam di depan kanvas.
"Jinu oppa ... Apa kau tak rindu padaku?" Bibir ranumnya bergetar. Menyebut nama 'Jinu' seolah mengembalikan luka di hatinya. Pria itu seperti hilang ditelan bumi. Bahkan ia juga mengganti nomor ponselnya. Jennie mulai frustasi, hingga ia memutuskan untuk kembali berlari ke luar dari apartment-nya.
"Tunggu!"
Tubuhnya ditahan oleh sang manager. Gadis itu terhenti, kemudian menatap memohon pada wanita separuh baya itu.
"Aku ingin menemui seseorang ... Kumohon biarkan aku pergi ke rumahnya sekarang."
"Tapi, ini sudah larut malam."
Jennie merasa konyol saat ini. Tapi ia tak bisa menahan gejolak di hatinya malam ini juga. "Kumohon," pintanya lagi. Hal itu akhirnya disetujui oleh sang manager.
Tepat malam itu juga, Jennie diantarkan menuju ke rumah Jinu. Sesampainya di depan, Jennie turun dan hendak berjalan menuju gerbang rumah klasik itu.
"Apa yang kaulakukan?!" Seseorang menarik lengan Jennie. Gadis itu menoleh dan mendapati Miyeon juga ada di sana.
"Apa kau sudah gila?" tanya Miyeon. Jennie mengibaskan tangan sang rival.
"Aku tak ada urusan denganmu," jawab Jennie yang kini berjalan lurus menuju gerbang rumah Jinu.
"Sebaiknya kauurungkan niatmu!" ujar Miyeon. Namun, hal itu tak dipedulikan oleh Jennie.
"Jennie Kim!" pekik Miyeon. Gadis itu segera menarik lengan Jennie. "Kau tak boleh berjalan selangkah lebih dekat lagi!" lanjut Miyeon.
"Memang apa urusanmu?!"
Miyeon menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. "Karna kami sudah bertunangan," jawabnya yang seolah menggetarkan tubuh Jennie. Gadis itu seperti ditampar oleh perkataan Miyeon. Ia mulai gemetaran.
"A—apa?" Jennie terbata. Gadis itu sebenarnya tak mau percaya pada apa yang diucapkan oleh Miyeon. Tapi, bagaimana jika itu benar?
"Kau boleh percaya dan boleh tidak. Tapi kali ini, aku benar-benar memperingatkanmu untuk menjauhi Kim Jinu selamanya."
Jennie menggeleng. Tentu saja ia tak bisa! Jinu adalah seseorang yang begitu berharga baginya.
...♡♡♡...
"Aku tidak mau," jawab Jinu tegas. Sandara yang duduk di depannya menghela nafas panjang. Ia melirik ke arah sang rekan kerja yang tak lain adalah Cho Hyuna.
"Eummm ... Baiklah, mungkin Jinu butuh waktu untuk memulai hubungan lagi. Aku sangat paham karna kegagalan yang sebelumnya mungkin akan membuatnya sedikit hati-hati dalam bertindak," ucap Hyuna. Sandara benar-benar pusing memikirkan putranya.
Tak berapa setelah diskusi alot itu, Hyuna pulang dan tinggal lah di sana si pemilik rumah dan sang ibu.
"Aku masih tak mengerti, bukan kah Miyeon itu cantik?" tanya Sandara.
"Aku tak menyukainya, apa ini masih kurang jelas?" Jinu beranjak dari sofa, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Sandara. Ia tak peduli meski ibunya akan mengoceh seharian. Jika lelah, pasti akan diam juga 'kan?
Jinu merebahkan badannya di ranjang. Tatapannya kini kosong, seolah ia hampir gila. Namun, tiba-tiba ia mengingat Jennie. Belakangan ini memang ia mencoba untuk menjauhi Jennie, namun sepertinya ia tak tahan juga.
"Jennie Kim," lenguhnya ketika membayangkan kembali senyuman manis Jennie.
"Aku merindukanmu," lanjutnya.
...♡♡♡...
Highlight berita pagi ini membuat Jinu membulatkan matanya. Ia masih ingat dengan ucapan Jumyeon beberapa minggu yang lalu. Kakaknya itu bilang bahwa hubungan Jennie dan sang CEO hanyalah media play. Ia juga ingat dengan Mino yang mengucapkan hal sama.
"Apa-apaan ini?" gumamnya heran.
Drrt drrtt~
Ponselnya berdering. Segera, Jinu meraih benda tipis yang ada di atas meja itu.
"Hallo," angkatnya tanpa tahu siapa yang menelpon. Pria itu terlalu sibuk memperhatikan televisi.
"Kaulihat berita?" tanya seseorang di seberang. Jinu langsung tahu ketika mendengar suara siapa kah itu. Kim Jumyeon —kakaknya. Orang yang paling repot mengurusi hal percintaan sang adik.
"Hm," jawab Jinu.
"Tunggu apa lagi? Sekarang temui dia, perjelas lagi hubungan kalian. Bukannya malah diam-diam seperti ini!" omelnya.
Nuth.
Jinu mengakhiri panggilan itu cepat, bahkan tanpa memberikan jawaban yang berarti pada Jumyeon. Ia merasa kurang berani saat ini. Katakanlah bahwa ia adalah pengecut, karna tekadnya telah terselimuti oleh ego.
...♡♡♡...
Lukisan besar gambar dirinya terpajang manis di sudut kamar. Gadis itu tak henti-hentinya mengagumi karya 'gagal' yang berhasil ia dapatkan dalam lelang sengit siang tadi. Ia tersenyum menatap rambut coklat ikal yang tergambar di sana.
"Kau pasti sangat menyukaiku," gumam gadis itu —Jennie Kim. Ia terkekeh pelan, namun matanya tiba-tiba memanas. Emosinya belakangan ini memang naik turun. Dan ini adalah pertama kalinya, Jennie merasa benar-benar terpuruk.
Pria yang ia cintai tega menjauhi dirinya. Padahal sebelumnya pria itu selalu mendampingi Jennie. Menemaninya di masa-masa sulit, bahkan memberikannya tempat bernaung. Keduanya sama-sama orang asing yang akhirnya berakhir dalam sebuah romansa gila. Jennie menyeka air matanya. Ia benar-benar merindukan masa itu. Masa di mana ia selalu bertengkar dengan Jinu setiap hari dan meributkan hal-hal kecil yang sepele.
Rindu untuk saling mengolok, mengajak taruhan dan menjahili satu sama lain.
"Apa kau tidak merindukanku?" Lagi-lagi pertanyaan yang sama keluar dari bibir Jennie.
...♡♡♡...
Bosan di apartment, Jennie memutuskan untuk mengunjungi restoran tempat di mana ia melakukan kencan pertama dengan Jinu. Gadis itu bahkan memesan makanan yang sama. Ia memesan 2 porsi untuk dirinya sendiri, beserta segelas minuman hangat.
Ia menatap kursi di depannya. Di sini lah mereka duduk dulu. Bahkan bayang-bayang wajah Jinu masih teringat jelas di pikiran Jennie. Untuk beberapa lama, gadis itu hanya menatap kosong pada makanan di depannya. Ia merasa bodoh saat ini.
"Aku rindu padamu." Bibir Jennie bergetar. Mantera itu seolah lekat padanya. Tak main-main bukan perasaan Jennie pada si Doggie menyebalkan itu?
"Apa yang kaulakukan di sini?"
Jennie tersentak. Ia menoleh perlahan untuk memastikan bahwa telinganya benar. Ia menatap sosok tampan di belakangnya, yang saat ini mengenakan setelan hodie santai dan topi basket. Gadis itu perlahan berdiri dari tempat duduknya, kemudian menatap sosok itu dari bawah ke atas.
"Jinu ... oppa," sapanya memastikan apakah matanya saat ini tidak sedang menciptakan ilusi bayangan Jinu.
Grebbb!!!
Jennie membeku. Tubuh mungil itu didekap oleh pria di depannya.
"Aku merindukanmu," bisik Jinu yang saat ini makin mengeratkan pelukannya.
...♡♡♡...