Lovely Stranger

Lovely Stranger
Gugup



Senyum Jaewon tak habis-habis ketika melihat siluet sang ibu yang berlari ke arahnya. Plak! Sebuah tamparan —tanda sayang- mendarat di pipi pemuda bertato itu.


Sembari memegangi pipinya yang memerah, Jaewon menatap penuh protes pada sang ibu, "Mengapa ibu menamparku?"


"Datang tak diundang, pulang tak diantar.. kau ini anak ibu atau siluman HA?!" ucap Sandara kesal. Siapa yang tak kesal pada kelakuan Jaewon yang seenaknya seperti ini?


Pemuda tampan itu terkekeh, "Ibu masih kangen ya? Akhh-"


Jaewon mengaduh ketika Sandara memukul lengannya.


"Kau sendiri tahu 'kan kalau kakakmu Jinu akan mengenalkan kekasihnya pada seluruh keluarga besar hari ini? lalu kenapa kau pergi begitu saja, adik macam apa kau ini?" omel Sandara pada putra bungsunya itu.


Jaewon masih cengengesan, "Ibu sendiri juga tahu 'kan kalau seharusnya aku hanya satu minggu berada di Korea? hehe.. aku sudah dua minggu lebih berada di sini bu, dan aku harus segera kembali karna ada project baru dengan Justin Bieber."


Sandara melirik kesal pada putranya sembari melipat tangannya di depan dada, "Dasar tak tahu diri."


"Hehe, sampaikan pesanku pada Jinu Hyung ya bu.. jangan sakiti kakak ipar, jangan membuatnya kesal dan mengabaikannya.. itu saja," Jaewon mengangkat kopernya kemudian membungkukkan badannya —memberi hormat- sebelum berjalan menuju gate bandara.


Sandara menatap punggung putranya yang makin menjauh. Ia tersenyum simpul, "Kadang-kadang kau bersikap lebih dewasa dibandingkan Jinu dan Jumyeon."


Wanita itu kemudian pergi dari bandara untuk kembali ke rumah, di mana akan ada tamu istimewa di sana. Yup! Jennie Kim, siapa lagi?


...♡♡♡...


"Aku gugup," ucap Jennie pelan. Jinu mengeratkan genggamannya pada tangan Jennie, "Tenang saja, ada aku."


Gadis itu menghela napas, kemudian mengangguk. Dua orang itu kemudian berjalan masuk ke ruang makan. Di sana sudah ada anggota keluarga yang lengkap. Ayah, ibu, kakak dan kakak ipar.


Jinu nampak celingukan karna merasa bahwa ada yang kurang, "Jaewon mana?"


"Dia sudah kembali ke Amerika," jawab Sandara.


"Aishh ..! kenapa tak bilang padaku dulu?" gumam Jinu. Pria itu kemudian duduk di kursi yang kosong, begitupun dengan Jennie. Gadis itu membungkukkan badannya untuk memberi hormat, namun ia merasa aneh dengan raut wajah seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu. Semua nampak kaku, bahkan wajah Sandara nampak begitu tak bersahabat malam ini. Sama persis saat pertama kali bertemu dengan Jennie.


Apa yang terjadi, mengapa semua terlihat aneh? Batin Jennie. Gadis itu mencoba memasang senyumannya meski ia terlihat begitu canggung saat ini.


"Hanya ini, di mana paman, bibi dan yang lain?" tanya Jinu.


Sandara merapikan rambutnya sembari menatap tajam pada Jinu, "Ibu sudah menyuruh mereka pulang."


Jinu terdiam, ia bingung dengan situasi yang ada di depannya saat ini. Mengapa semua orang terlihat bersikap lain. Raut masam terlihat paling jelas di mata Sandara. Hampir sama seperti saat ia mendapati Jennie tinggal bersama dengan Jinu.


Apa yang terjadi? Pikir Jinu.