Lovely Stranger

Lovely Stranger
DILAMAR



......***......


Jennie duduk di cafe tempat di mana dirinya dan Jinu berjanji untuk bertemu ke sekian kalinya. Gadis itu baru saja menyelesaikan syuting program reality show terbaru dan memutuskan untuk langsung ke lokasi. Ia tak sempat pulang untuk sekedar mandi atau merebahkan tubuhnya di ranjang sejenak karna hari sudah menjelang malam tepat sekitar 45 menit sebelum waktu yang dijanjikan. Tak masalah meski ia harus menunggu dari pada terlanjur malas untuk keluar dari apartment-nya.


Gadis itu menoleh ke jendela kaca besar milik cafe itu dan melihat Jinu tengah sibuk memarkirkan mobilnya. Bibirnya melengkung, membuat kedua pipinya sedikit mengembang. Ia senang karna akhirnya sosok yang ia tunggu sejak tadi kini telah datang. Tak sabar rasanya menyapa pria itu dan melontarkan ejekan satu sama lain seperti biasanya.


Jinu keluar dari mobilnya dan segera melambai ke arah Jennie sembari tersenyum, pria itu menbawa sebuah paperbag kecil berwarna hitam.


"Kau sudah menunggu dari tadi?" tanya Jinu sesaat setelah ia menghampiri Jennie dan duduk di depannya.


"Tidak apa-apa, aku sudah tidak sabar bertemu," jawab Jennie. Akhir-akhir ini mereka memang jarang bertemu karna kesibukan masing-masing. Gadis itu beralih menatap paperbag yang dibawa oleh Jinu. "Apa itu?" tanya Jennie sambil mengarahkan jari telunjuknya pada objek yang dimaksud.


"Oh, ini. Ini hadiah untukmu. Coba tutup mata!" pinta Jinu.


Jennie menurutinya, gadis itu memejamkan mata dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Surprise!!!" seru Jinu yang bersamaan diikuti Jennie yang membuka matanya.


Gadis itu mengedipkan matanya berulang-ulang. Bukan hal yang ia inginkan yang ia dapat. Lagi-lagi Jinu memberikan benda yang tak berguna.


"Se-serbet?" Jennie bergumam lirih. Sedang hal itu dibalas dengan decakan oleh Jinu.


"Yaaa... Ini kain untuk tanktop. Jaewon bilang ini sedang ngetren di Amerika." Jinu memasukkan kembali benda itu ke dalam paperbag dan menyodorkannya ke arah Jennie. "Ngomong-omong, itu oleh-oleh dari Jaewon. Dia baru saja pulang dari Amerika. Dia bilang proyek musiknya berhasil. Karna sangat senang, dia membelikan semua orang oleh-oleh," lanjut Jinu.


Jennie mengulas senyum tipis, ia hanya mengangguk pelan. Setelahnya ia merasa kecewa. Bukan karna tak suka dengan hadiah Jaewon, tapi karna apa yang ia harapkan belum juga terwujud hingga sekarang.


...***...


"Haha, iya. Lagi-lagi yang aku dapatkan hanyalah benda lain."


Jennie berbicara di telepon sembari merapikan kamarnya. Ia bangun pagi-pagi sekali karna ada acara yang harus ia datangi. Aktris yang tengah naik daun itu diundang lagi ke program reality show. Keahliannya dalam berbicara rupanya membuat ia menjadi primadona di program-program semacam itu.


"Entahlah. Kurasa dia tahu kalau aku tak ingin menyia-nyiakan reputasiku saat ini. Jadi, untuk menikah..." Jennie menelan perkataan yang baru saja akan meluncur dari bibirnya.


"Kenapa?" tanya lawan bicara Jennie di telepon, Jisoo.


"Mungkin aku tidak akan menikah, jika bukan dengan dia," jawab Jennie.


Tapi sebenarnya Jennie tak mau munafik, ia pun ingin melihat keseriusan Jinu. Ia ingin dihadiahi cincin yang cantik dan mendengarkan kata 'will you marry me?' meskipun ia belum benar-benar siap untuk menikah dalam waktu dekat.


"Kenapa kau berkata seperti seolah-olah Jinu tidak akan pernah melamarmu?"


Jennie tersenyum tipis. "Bagaimana jika, Jinu memang tidak akan melamarku?" tanyanya lirih, bibirnya bergetar.


"Apa yang kaukatakan? Tentu saja dia akan melamarmu."


"Entah mengapa aku merasa tidak yakin."


"Boleh aku bertanya padamu?" tanya Jisoo.


"Ya?"


"Apa kau benar-benar mencintainya?"


"Tentu saja!" sahut Jennie.


"Jika begitu, kenapa kau masih meragukannya? Bukankah kita semua harus saling percaya dengan pasangan? Bukankah cinta bisa menepis semua keraguan?"


Jennie kembali tersenyum. Rupanya ia terlalu paranoid. Tanpa sadar semua ketakutannya bisa saja menghancurkan semua yang telah dijalinnya bersama Jinu selama ini.


"Kau benar. Aku hanya perlu bersabar 'kan?"


...***...


Hujan rintik turun di akhir bulan ini, menandakan bawah musim hujan akan dimulai seperti biasa di pertengahan tahun.


Ruangan apartment itu sunyi karna hanya ada satu orang saja yang menempati. Ditambah dengan suasana dingin akibat rinai hujan yang turun semakin deras.


Hanya saja, ia selalu merasa kurang.


Bukankah akan lebih baik jika ia ditemani oleh keluarga yang berada jauh di New Zealand, atau setidaknya orang yang ia cintai.


Pria itu semakin sibuk akhir-akhir ini, bahkan kesibukannya melebihi Jennie. Rasa cemas dan khawatir tak bisa dielakkan lagi, Jennie resah akan hal itu.


Gadis yang semula duduk di sofa itu kini berniat untuk berpindah ke kamar, sebelum bel pintu mengusik kepindahannya. Ia berjalan malas menuju pintu masuk dan memutar gagang pintunya.


Seseorang sudah berdiri di sana dengan membawa bungkusan makanan. Ia tersenyum dan menunjukkan apa yang ia bawa ke pada Jennie.


"Aku bawakan ramen," ucap pria dengan lesung pipit di kedua pipinya itu.


Setelahnya Jennie mempersilahkan pria itu masuk. Padahal baru saja Jennie memikirkannya, pria itu sudah datang saja seolah tahu bahwa Jennie membutuhkannya.


"Kenapa oppa tak mengabariku dulu jika ingin ke sini?"


"Ini kejutan," jawab Jinu sembari mengunyah mie yang sudah bersarang di mulutnya.


Jennie mengulas senyum. Semua yang dikatakan Jinu layaknya de javu yang menghantui Jennie. Setiap kali ia berkata 'kejutan', Jennie akan berekspetasi tinggi dan berpikir bahwa pria itu mungkin saja membawakannya bouquet atau pun cincin. Tapi lihatlah, kali ini Jinu hanya membawakannya ramen.


Perut Jennie berbunyi dengan nyaringnya, membuat Jinu seketika menoleh dan tersenyum mengejek. Benar saja, gadis itu lapar. Hari hujan memang membuat seseorang gampang lapar.


"Dengar, perutmu bahkan sudah protes. Mengapa kau tak segera menyuapkan ramen itu ke mulutmu? Atau perlu aku yang melakukannya?" goda Jinu. Jennie tertawa pelan, ia menggeleng setelahnya.


"Aku tahu kalau oppa juga lapar, jadi lebih baik kita memberi makan diri kita sendiri," jawab Jennie sambil mulai menyendok kuah ramen di depannya.


Gadis itu tiba-tiba tersadar bahwa Jinu adalah sosok yang mencoba memberikan apa yang Jennie butuhkan.


Ingat ketika Jennie mengeluh soal sepatunya yang licin, besoknya Jinu membelikannya sepatu baru. Lalu, saat Jennie bilang ia perlu jam dengan dering alarm yang keras agar tak telat bangun, Jinu juga memberikannya. Dan hari ini ketika ia merasa lapar, Jinu pun membawakannya ramen bahkan tanpa Jennie meminta.


Memang benar kata Jisoo, ia tak sepatutnya ragu pada orang yang dicintainya. Jennie harus mempercayai Jinu sepenuhnya.


Di suapan ke dua, Jennie menggigit sebuah benda keras seperti logam dari sendoknya. Gadis itu lalu mengambilnya dan terkejut dengan apa yang ia dapatkan. Jinu melirik ke arahnya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. Situasinya menjadi aneh, sesaat setelahnya Jennie memekik.


"CINCIN!!!"


Jinu menoleh ke arah Jennie dan mengangguk. "Iya...cincin."


Tanpa dapat dikendalikan setitik air meluncur dengan sukses dari mata Jennie. "Katakan!" pintanya sembari menyeka air mata yang nekat saja keluar.


"Ayo menikah!"


"Tak bisakah kau mengatakannya dengan sedikit romantis?"


Jinu berkelit, sebenarnya ia merasa gugup saat ini.


"Jawab saja 'iya', sebelum aku berubah pikiran," ucap Jinu.


Gadis di sampingnya kini memeluknya tanpa ijin. "IYA!"


"Katakan sekali lagi! Aku tak dengar."


"Kau mau aku meneriakkannya di telingamu agar kau jadi benar-benar tuli?" balas Jennie.


Jinu tertawa dengan puasnya. Ia membalas pelukan Jennie dan mendekapnya begitu erat.


"Aku ingin tiga anak," ucap Jinu.


"Berapa pun akan kuberi," balas Jennie.


Keduanya masih berpelukan, sedangkan hujan di luar kini semakin turun dengan derasnya.


...***...


...END🖤...