
Gadis cantik itu tersenyum, ia menggenggam tangan Jinu dengan erat. Belum ada 10 menit Jinu mengungkapkan perasaan yang sebenarnya, tapi gadis itu tak kunjung menjawab.
"Jinu oppa—" Ia memutus kalimatnya. Menyebut nama Jinu saja sudah membuatnya cukup bimbang.
"Bagaimana?" Pria itu sabar menunggu. Sudah sekitar 2 tahun mereka dekat. Masa itu adalah ketika mereka masih duduk di bangku SMA. Gadis itu adalah adik kelas Jinu. Pribadinya yang baik membuat Jinu begitu terkesan. Mereka berangkat dan pulang bersama, hingga Jinu lulus dari SMA dan berkuliah. Sejak saat itu perjumpaan mereka semakin jarang. Sehingga membuat Jinu ingin memastikan hubungannya dengan sang gadis. Agar gadis itu tak berkencan dengan pria lain.
"Aku," lagi-lagi gadis itu nampak ragu, "sebenarnya—" ia masih berucap tak jelas. Hingga seorang pria berseragam SMA menghampiri mereka. "Bomi," panggilnya pada gadis di depan Jinu. Gadis yang dipanggil beranjak, ia lepaskan genggaman tangannya dari Jinu.
"Maaf, aku harus pergi," pamitnya yang kemudian berlalu dari hadapan Jinu. Dua orang itu berjalan beriringan, keduanya adalah sepasang kekasih. Sedangkan Jinu, ia hanya mematung di tempatnya sembari meratapi siluet gadis cantik itu menghilang dari jarak pandangnya. Untuk beberapa jam, ia hanya dapat terdiam di taman itu. Perasaannya hancur, bahkan untuk menangis pun rasanya sulit.
"Yoon Bomi ... Kukira hubungan kita istimewa," lenguh Jinu.
Ia benar-benar tak habis pikir. Mereka dekat dalam waktu yang lama, tapi mengapa harus berakhir seperti ini?
Keesokan paginya, sebuah paket berukuran besar tiba di rumah Jinu. Di dalamnya berisi barang-barang yang telah ia berikan pada Bomi. Gadis itu mengembalikan semuanya tanpa terkecuali. Di dalamnya ada sebuah surat.
Jinu oppa, maafkan aku yang tak jujur padamu. Aku mengembalikan barang-barang ini karna merasa tak pantas memilikinya.
Terima kasih atas perhatianmu selama ini. Selain itu, aku ingin berpamitan denganmu. Aku akan menyelesaikan study-ku di Jepang. Jadi kurasa, kita tak akan bisa bertemu lagi setelah ini.
Jinu menghembuskan napas pelan. Ia tatap dengan penuh kesal benda-benda di depannya, sebelum akhirnya ia menghanyutkan benda-benda kenangan itu di Sungai Han.
"Kau melamun lagi?" seru Jumyeon yang saat itu memang sedang berada di rumah Jinu. Ia membawa sebuah cup ramen instan sembari memakannya. Keduanya sedang berada di balkon rumah Jinu malam itu. Langit malam cerah dan bertebaran bintang itu ikut menemani obrolan mereka.
"Kau sudah kembali lagi dengan Jennie Kim 'kan?" tanya Jumyeon.
Jinu hanya melirik sang kakak sekilas. "Tahu dari mana?"
"Jaewon," jawabnya dengan mulut penuh. Jinu masih merasa heran juga. Tak ia sangka bahwa sang kakak yang mulutnya dipenuhi dengan mie ramen itu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Anak itu selalu bocor," desis Jinu.
"Bukan bocor, dia penyampai informasi terbaik." Jumyeon masih asyik dengan mie-nya.
"Apa dia juga menceritakan soal Bomi?"
Jumyeon tersentak. Ia telan cepat-cepat mie yang belum hancur dikunyah.
"Bomi?" ——Jumyeon melotot, "yakk!!! Jangan bermain api, ya!"
"Aishh ... Aku tidak gila." Jinu kembali mengalihkan pandangannya ke arah langit. Bintang-bintang terlihat begitu indah malam ini, membuatnya mendadak teringat pada senyuman Jennie. Pria itu nampaknya sudah tergila-gila pada sang kekasih.
"Apa yang Bomi lakukan? Jaewon belum menceritakannya padaku." Jumyeon menatap sang adik dengan penuh selidik.
"Aku tak ingin membahasnya." Lain halnya dengan sang kakak yang menggebu-gebu, Jinu nampak tenang. Ia hanya tak mau dipusingkan dengan masalah baru.
Jumyeon mengerutkan dahi. "Kuharap kau berpikir untuk benar-benar melupakan gadis itu, meski salah satu ginjalmu telah dimilikinya."
Jinu tertawa bosan. "Dia hanya memiliki ginjalku, bukan hatiku," jawabnya kemudian.
...♡♡♡...
Ia tak bisa berpose lagi. Tubuhnya limbung, hingga membuat seluruh staff dan juru kamera dalam ruangan itu panik.
"Apa yang terjadi?"
"Jennie Kim!"
"Angkat dia!"
"Telepon ambulance."
"Bawa mobilku saja."
"Cepat bawa dia ke rumah sakit!"
Samar percakapan orang-orang yang ada di sana terdengar oleh Jennie. Gadis itu tak bisa bangun. Matanya terasa semakin berat, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
Jennie mengerjap dan berusaha membuka mata. Ruangan dengan dominan warna putih menyambut penglihatannya. Sebuah infus terpasang di lengannya, menandakan bahwa gadis itu telah ditangani oleh tenaga medis.
"Jennie," panggil pria di sebelahnya. Gadis yang dipanggil menoleh. Didapatinya pria dengan gaya rambut belah tengah duduk di sana.
"Tetaplah berbaring," cegahnya sembari kembali menidurkan tubuh Jennie. Gadis itu merasa begitu lemas saat ini.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Kau kelelahan hingga pingsan, sepertinya kau juga kekurangan cairan sehingga dokter harus memasang infus itu," jelas pria di sampingnya ——Nam Taehyun.
"Bagaimana pemotretannya?" Jennie masih bertanya. Ia hanya mencoba profesional dalam menjalankan pekerjaan.
"Fotografer bilang itu sudah cukup. Ada banyak foto bagus yang diambil, tenang saja, kau sudah berusaha dengan keras."
Ceklek!
Dua orang di dalam sana menoleh ke arah pintu masuk. Seseorang yang berdiri dengan masih memegang gagang pintu itu nampak terkejut untuk sesaat.
"Oppa," panggil Jennie menyambut kedatangan sang kekasih. Pria tersebut masuk dan langsung menghampiri Jennie, tanpa menghiraukan Taehyun yang juga berada di ruangan itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jinu khawatir.
Jennie mengangguk. "Dari mana oppa tahu aku di rumah sakit?" tanyanya.
"Jisoo yang bilang. Ia belum sempat menengokmu karna masih berada di lokasi syuting—"
"Ekheemm." Taehyun berdehem, memotong perkataan Jinu. "Sepertinya aku harus pergi sekarang," pamitnya.
"Terima kasih, sajangnim." Jennie menjawab. Pria tersebut kemudian keluar tanpa menunggu jawaban dari Jinu. Lagipula, Jinu juga tak akan menjawab 'kan?
"Dia tidak genit padamu 'kan?" tanya Jinu sesaat setelah Taehyun menghilang dari tempat itu. Jennie menggeleng. Prianya ini masih posesif.
...♡♡♡...