Lovely Stranger

Lovely Stranger
Hari Baru



Gadis itu tadinya memegang sebuah bungkusan uang, namun kini hanya sedikit saja yang tersisa. Baru saja ia menjual ponselnya demi memberikan pesangon pada pengasuh Kai dan Kuma. Jennie tak bisa mengasuh anjing anjing kesayangannya itu karena memang sedang kesulitan finansial, sehingga ia menyuruh sang pengasuh untuk mengadopsi sementara waktu.


Ting!!


Bel pintu kereta itu berbunyi menandakan bahwa kereta telah sampai di stasiun tujuan, Jennie beranjak dari duduknya dan keluar dari sana.


"Hari yang baru akan di mulai.."


Gumamnya lemas. Ia melangkah dan sesekali membetulkan sepatu vans yang juga kebesaran itu. Milik siapa? Tentu saja milik Jinu. Gadis itu meminjam semuanya dari ujung kepala sampai ujung kaki, kecuali pakaian dalam. Sesampainya di rumah Jinu, Jennie segera merebahkan tubuhnya di sofa. Ia lelah berjalan hari ini, padahal biasanya selalu ada mobil yang mengantarnya. Kehidupan Jennie benar benar berputar 180 derajat. Semua itu gara gara skandal bodoh yang menerpa nya.


Pintu utama rumah itu terbuka diikuti langkah kaki yang berjalan makin mendekat ke arah ruang tamu. Jennie terperanjat dari duduknya, namun ia terlambat untuk bersembunyi. Pria pemilik pakaian dan sepatu yang dikenakan oleh Jennie kini menatapnya bingung. Ia menatap Jennie dari atas hingga ke bawah, gadis yang tertangkap basah itu hanya dapat tersenyum aneh.


"Hehe.."


Jennie terkekeh.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memakai barang barang ku?!"


Protes Jinu.


"Sebentar, aku bisa jelaskan.."


"Lepaskan sekarang.."


Jinu melangkah maju mendekat ke arah Jennie dan mengangkat ujung jersey itu. Namun, tiba tiba ia tersadar ketika melihat perut Jennie.


"Ah sial!"


Jinu menutup matanya dengan telapak tangan, setelah ia mengurungkan membuka baju itu.


"Aku lupa kalau kau perempuan-"


Pria itu berlalu dari hadapan Jennie begitu saja. Disana gadis itu masih mematung sambil menampakkan raut anehnya.


"A-apa katanya tadi?"


Jennie memiringkan kepalanya. Ia tak tersinggung soal tindakan yang mungkin masuk dalam kategori pelecehan seksual itu, namun ia lebih kesal saat Jinu mengatakan bahwa ia lupa jika Jennie adalah perempuan.


"Perasaan tubuhku tidak kekar, aku juga tidak punya kumis dan jambang.."


Jennie bergumam sambil berjalan menuju kamarnya.


Berlanjut di depan cermin, Jennie berkaca disana sembari membuka jersey milik Jinu yang melekat di tubuhnya. Ia mengamati tubuh sempurna yang hanya berbalut pakaian dalam itu. Kemudian Jennie meraba kedua buah dadanya yang berukuran sedang.


"Aku tak masalah dikatai jelek, tapi soal lupa tentang gender ku?"


Jennie mulai berorasi di depan cermin.


"KYAAAA!!!"


Pekiknya ketika seekor kecoa keluar dari bawah kolong dipan kecil yang ada disana.


Tokk tokk tokk!!


"Apa yang terjadi?"


Tanya Jinu dari luar.


"Ke-ke-kecoaaaaa!!!!!"


Pekik Jennie.


"Aishh.. Kau takut pada serangga kecil itu?"


"Serangga kecil katamu?? DIA TERBANG!!! KYAAAA!!"


Mau tak mau Jinu harus membuka pintu kamar Jennie tanpa ijin.


TAPPP!!!


Jinu melemparkan slippers nya dan tepat mengenai sasaran, lalu ia membuang kecoa mati itu di tempat sampah.


"Fiuhh beres"


"Dasar gadis manja, sama kecoa saja takut- KYAAAA!!!!"


Giliran Jinu yang kini memekik karna mendapati Jennie yang hanya mengenakan pakaian dalam. Sesegera mungkin Jennie mengambil selimut dan membungkus tubuhnya dengan itu.


"YAKKK!! Kenapa tak pakai baju!"


Protes Jinu sambil memalingkan wajahnya.


"Kau bilang aku harus melepaskan jersey mu, lalu siapa yang menyuruhmu tiba tiba masuk ke kamar ku?!!"


Protes itu pun dibalas dengan hal yang sama oleh Jennie.


"Siapa suruh teriak teriak tidak jelas?!."


Jinu melirik, ketika ia melihat Jennie sudah membungkus tubuhnya dengan selimut, pria itu mulai menatap geram ke arah gadis di depannya.


"Sekarang kembalikan jersey ku!!"


Sambung Jinu. Seperdetik kemudian jersey berwarna hitam itu mendarat di wajah tampannya, Jinu meraihnya dengan kesal.


"Sepatu ku-- tu-tunggu---"


Baru saja Jennie mengangkat tinggi tinggi vans berwarna hitam itu untuk ia lemparkan kepada Jinu.


"Jangan lempar yang itu-"


Sambung Jinu, Jennie menjatuhkan sepasang sepatu itu di lantai. Buru buru Jinu meraihnya dan berlari keluar dari kamar Jennie.


...♡♡♡...


"CUT!!"


Pekik sutradara mengakhiri syuting siang ini. Miyeon menghembuskan nafas lega kemudian duduk bersandar di kursi lipatnya.


"Airrr.."


Lenguhnya, sang manajer pun menyodorkan sebuah botol berisi infus water pada Miyeon. Gadis bersurai panjang itu meneguknya hingga hampir habis. Hari ini syuting nya cukup melelahkan. Jisoo terkikik melirik pada wajah letih Miyeon.


"Scene 3 menit, dan kau membutuhkan 14 kali pengambilan gambar? Ck.. Ck.. Ck.. Betapa jeniusnya pemeran utama kita.."


Sungut Jisoo. Bukan tanpa alasan mengapa Jisoo tak setuju jika Miyeon menjadi peran utama, karena ia sendiri tahu bahwa saingan Jennie Kim itu bukanlah tipikal gadis yang sama seperti karakter tokoh yang ia perankan.


"Cerewet.. Aku sudah menyelesaikan scene ku hari ini.. Jadi tak usah mengejekku.."


Balas Miyeon. Jisoo berjalan pelan menuju tempat duduk Miyeon.


"Kau tak cocok menjadi gadis tomboy.. Karna kau bukan orang yang seperti itu.."


"Cih.. Aku bisa menjadi apapun yang aku mau.. Apa kau lupa bahwa aku sudah belajar akting di seluruh penjuru dunia? Bahkan aku selalu mendapatkan A+ ketika ujian praktek.."


Jisoo tersenyum sinis.


"London, Amerika, Jepang dan Korea hanya sebagian kecil dari seluruh penjuru dunia yang kau katakan.."


Cibir Jisoo.


"Apa kau pikir kemampuan akting Jennie Kim lebih bagus dariku begitu?"


Tanya Miyeon kesal. Jisoo melipat kedua tangannya, masih dengan melontarkan tatapan sinisnya.


"Aku tak bilang begitu.. Tapi jika kau sudah mengakui nya, baguslah.."


Jawab Jisoo sambil berlalu dari hadapan Miyeon.


"Cih.. Gadis itu, apa ia ingin main main denganku.."


Gumam Miyeon, gadis itu meraih ponsel yang ia letakkan di tas kecilnya. Kemudian ia menekan dial panggilan ke sebuah nomor.


"Hallo.. Ini Cho Miyeon.. Aku punya berita bagus.."


Ucapnya di sambungan telepon.