Lovely Stranger

Lovely Stranger
Kepergok



Baru saja Park Jinyoung akan melangkah keluar dari ruangannya, ia dikejutkan oleh pria separuh baya yang hendak mengetuk pintu.


"Mau ke mana kau?" tanya pria tersebut. Park Jinyoung tersenyum kaku, sudah lama ia tak mengobrol dengan pria di depannya.


"Aku baru saja akan pergi," jawabnya.


Seorang wanita muncul dari balik punggung pria di depan Park Jinyoung. Wanita itu menatapnya tajam.


"Wah, ada apa ini? Bagaimana bisa kalian yang sibuk ini menyempatkan datang bersamaan?"


"Ada suatu hal yang ingin kami bicarakan," jawab wanita itu.


Park Jinyoung masih memasang senyumnya, meskipun itu nampak kaku. CEO I.C.E Entertainment itu tak terlalu senang mendapatkan kunjungan dari kawan lamanya tersebut.


"Apa itu? Oh ya ... Apa kalian ingin nostalgia? Ngomong-omong, Sandara terlihat awet muda," puji Park Jinyoung pada wanita di depannya.


"Emmmm ... Maksudku bukan hanya Sandara, tapi kalian berdua terlihat awet muda," ralat Park Jinyoung.


"Aku benci basa-basi," pria di depannya berdecih.


"Apa kau pikir sopan membiarkan tamu berbicara di depan pintu begini? Di mana attitude-mu sebagai CEO agensi top ini?" protes Sandara. Park Jinyoung membuka pintu ruangannya dan mempersilahkan mereka masuk, sebagai tanggapan atas protes tersebut.


Mereka bertiga pun duduk di sofa, saling berhadapan.


"Katakan apa tujuan kalian kemari?"


"Sebenarnya ini lucu bahwa alasan kami kemari adalah efek dari hal berantai," —Sandara melipat kedua tangannya, "apa kau bisa menebaknya?" tanya Sandara.


"Aku tak mengerti. Ngomong-omong, putramu Kim Jinu adalah seniman muda yang hebat. Aku sangat salut padanya," jawab Park Jinyoung seolah ingin mengalihkan pembicaraan.


"Kau tahu Jinu? Itu terasa lucu. Bahkan putra kami sama sekali tak pernah terlibat di dunia entertain," sahut Seunghyun —pria separuh baya tadi.


"Eunggg ... Ayolah, dia terkenal di kalangan CEO industri hiburan. Itu karna wajahnya sangat tampan, kenapa dia tidak jadi idol saja dulu?"


"Hentikan basa-basi ini, Park Jinyoung. Kami datang untuk membicarakan hal lain!" potong Sandara. Pria separuh baya di depannya tertegun.


"Efek berantai yang kami katakan adalah mengenai Jennie Kim," lanjut Sandara.


"A—apa?"


"Kalau dipikir-pikir ini memang bukan urusan kami. Tapi mengingat dampaknya berpengaruh pada Kim Jinu, maka kami juga akan bertindak!" ucap Seunghyun.


Park Jinyoung berdiri dari tempatnya. Ia menggeleng seolah tak tahu apa-apa. "Aku tak mengerti!"


"Jangan bersikap sok suci. Aku sudah mengumpulkan bukti kebusukanmu! Sekarang, mana yang kau pilih? Meluruskan skandal sampah itu, atau berakhir dengan pasal berlapis yang tentunya akan membuat hukumanmu lebih berat!" ucap Sandara tegas.


"Aku tidak tahu apa-apa." Lagi-lagi ia berdalih.


"Ok, tuntutan pasal berlapis menunggumu. Kau pikir kami tak menyimpan rekaman panggilan terakhirmu dengan Cho Hyuna?" Seunghyun angkat bicara. Pria CEO di depannya tak dapat melawan kali ini. Dua lawan satu itu tak seimbang.


"Kami tunggu itikad baikmu, sebelum kasus ini ditangani oleh pengacara-pengacaraku," tutup Sandara yang kemudian berlalu dari tempat itu.


"Sampai jumpa di persidangan," tambah Seunghyun yang kemudian mengekor pada sang istri.


...♡♡♡...


"Ekhemm." Jinu berdehem, berusaha mengambil perhatian Jennie. Gadis itu hanya menoleh sekilas kemudian tersenyum.


"Yaa ... Sampai kapan kau akan asyik dengan makanan itu?" tanya Jinu yang hanya dijawab dengan kekehan oleh Jennie.


Jinu menggeser makanan itu untuk menjauhkannya dari jangkauan Jennie. "Kau tak lelah mengunyah terus? Bahkan ini sudah hampir malam," protes Jinu. Gadis di depannya mengerucutkan bibir.


"Entah mengapa aku tak bisa berhenti makan, ini enak sekali." Ia menunjuk ke arah sisa kentang goreng yang ia makan.


"Jahat sekali kau. Aku bahkan dari tadi ada di sampingmu, tapi kau tak menganggapku. Kau pikir ini rumah siapa, huh?"


Jennie menunduk sembari tersenyum malu. "Maaf," jawabnya.


Gemas dengan reaksi itu, Jinu dengan tiba-tiba menarik tubuh Jennie agar lebih dekat padanya.


Mereka menatap satu sama lain, diikuti debaran di dada masing-masing. Tubuh mereka memanas, apalagi Jennie yang tiba-tiba merasa resah.


Perlahan Jinu mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Jennie. Ia mengecupnya lembut, membuat Jennie merasa terlena. Jinu mengecupnya lagi dengan cepat, ia mengulumnya.


Pelan-pelan, Jinu mendorong tubuh Jennie hingga terbaring di sofa. Ia menindihnya.


Smooaaachhh.


Ciuman itu menjadi makin dalam. Lidah Jinu menerobos ke dalam rongga mulut Jennie, mengabsen jajaran gigi yang rapi. Kemudian beralih pada benda serupa untuk ia ajak bermain.


Jennie meresponnya cepat, bahkan ia menggigit lidah Jinu karna tak ingin terdominasi seperti sebelumnya.


"Eungh," lenguh Jinu ketika merasakan gigitan itu. Pria itu mengeratkan pelukannya, mendekap tubuh Jennie yang terasa mungil dibandingkan dirinya.


Mereka berhenti sesaat untuk mengambil napas. Kemudian kembali melanjutkan ciuman itu.


Ning nong!


Suara pekikan bel rumah mengusik mereka. Jinu berhenti sejenak, namun setelahnya ia bersikap masa bodoh.


Bel itu kembali berbunyi. Tapi lagi-lagi hal yang sama tak dihiraukan oleh Jinu. Sampai pada bunyi bel ketiga, sang tamu rupanya mengganti metode.


Tok tok tok!


Ia mengetuk pintu berulang kali.


Jennie yang menyadari akan hal itu pun, mendorong pelan dada Jinu.


"Oppa, ada yang datang," selanya dengan napas memburu.


"Biarkan saja," jawab Jinu yang kemudian melanjutkan ciuman itu lagi.


Mereka terlalu asyik dengan dunianya. Tanpa mereka sadari, seseorang rupanya telah masuk dan melangkah ke dalam.


"Jinu hyung, aku," —Ia memotong kalimat kemudian berbalik cepat dari ruang tengah, "maaf, anggap saja aku tidak lihat.


Jinu yang saat itu menghentikan aktifitasnya, menatap tajam bayangan tamu kurang ajar tersebut dengan ribuan sumpah serapah. Sedangkan Jennie, kini nampak linglung dan malu.


...♡♡♡...