Lovely Stranger

Lovely Stranger
Rencana Besar



Sepulangnya dari makan malam, Jinu dan Jennie merasa semakin canggung. Baru saja orang tua Jinu bertanya tentang rencana jangka panjang hubungan mereka. Ini gila. Yang benar saja mereka mempunyai rencana jangka panjang, untuk menjalin hubungan saja tidak pernah mereka pikirkan akan terjadi.


"Fiuhh," Jennie melenguh frustasi, ia melirik ke arah Jinu yang masih terdiam di kursinya. Entah ia mau beranjak dari mobil atau tidak, ini membuat Jennie semakin merasa tidak enak.


Pria itu meraih sesuatu yang ia letakkan di kantung belakang bangku mobilnya. Rokok. Jennie membulatkan matanya, baru kali ini Jennie melihat Jinu menyulut rokok. Pria itu seolah terbiasa, berulang-ulang ia menghisap rokoknya dan menghembuskannya tanpa peduli ada gadis di sampingnya.


"Aku tak tahu kalau kau merokok," ucap Jennie. Pria di sampingnya melirik sekilas, "Aku sedang stres, maka dari itu aku merokok," jawab Jinu cepat.


Deg!


Jantung Jennie berdetak cepat, ini pasti gara-gara dia 'kan?


"Aku juga sedang stres, boleh minta satu?" Tanya Jennie. Jinu menoleh cepat dan melirik Jennie dengan tatapan tajam. Ah. Tidak. Seharusnya Jennie tak membuat Jinu semakin kesal.


"Apa kau gila, apa kau sering merokok?" Tanya Jinu, Jennie jadi merasa sedikit aneh. Jujur memang Jennie belum pernah mencoba merokok.


"Ti-tidak, aku hanya ingin menghilangkan stresku dengan cara yang sama sepertimu," jawab Jennie.


Jinu menoyor pelan kepala Jennie, "Kau tidak boleh merokok, itu akan sangat berbahaya untuk kandunganmu,"


Gasp. Jennie berkedip berkali-kali, "A-apa maksudmu? aku tidak hamil," jawabnya polos.


"Aishh.. maksudku, itu akan berbahaya untuk ke depannya.. kau ini seorang wanita dan suatu saat kau akan mengandung juga 'kan? apa kalimatku ada yang salah?" jelas Jinu.


"Be-begitu ya?" Jennie menunduk malu, rupanya Jinu masih mempedulikan dirinya.


"Ah, maaf.. mengapa aku jadi mengaturmu begini," gumam Jinu.


"Tidak apa-apa, terima kasih sudah memperhatikanku," Jennie menatap ke arah Jinu yang sesekali masih menghisap rokoknya. "Berhenti!" Jinu menoleh.


"Matikan rokokmu, kau pikir itu tak berbahaya juga untuk laki-laki?"


Jinu memiringkan kepalanya.


"Kenapa kau sangat manis, bagaimana kalau kita menikah saja?" Tanya Jinu. Jennie membeku mendengarkan pernyataan itu, jantungnya berdegup lipatan kali cepatnya.


Mengapa dia menanyakan ini? Tanya Jennie dalam hati.


"I-i-itu, bi-bisa dibicarakan," Jennie terbata. Pria di sampingnya tertawa pelan kemudian menepuk-nepuk pipi Jennie yang chubby.


"Kenapa kau sekaget itu? tenang saja, aku hanya bercanda ,kok." Ujar Jinu, Jennie hanya mengangguk. Ia makin merasa gugup saat ini.


Kemudian Jinu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Jennie, "Ayo turun dan tidur, ini sudah larut malam." Ucap Jinu yang kemudian berlalu lebih dulu. Jennie hanya mengangguk dan mengekor di belakang Jinu.


...♡♡♡...


Malam sudah larut, namun tiba-tiba Jinu teringat bahwa ia harus pergi ke pameran besok lusa. Pria itu berlari menuju ke galerinya dan menyiapkan peralatan untuk melukis.


"Diberkatilah aku karna harus lembur di jam segini," gumam Jinu. Pria itu menuangkan cat warna di dalam pallete. Satu per satu warna ia campur, dan mulai membuat goresan demi goresan di atas kanvas.


Membawa karya baru ke pameran memang adalah hal yang wajib bagi seniman sekelas Jinu, meski beberapa karyanya sudah dipajang disana, pria itu tetap harus membawa karya baru. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan gengsinya sebagai seorang seniman.


Pria itu menggambar sepasang mata yang cantik. Setelah satu jam ia sibuk menggores, sebuah hasil mulai nampak. Untuk sejenak Jinu tertegun. Goresan-goresan itu nampak tak asing di mata Jinu.


Ia memiringkan kepalanya, "Kenapa ini terlihat seperti —Kattie—?"


Jinu memandang hasil lukisannya dengan seksama. Ditambahinya goresan yang lain lagi, agar mata itu tak terlihat seperti milik Jennie. Namun, yang terjadi justru hal itu membuatnya menjadi semakin jelas.


Takk.


Jinu meletakkan kuasnya, "Ah ..! masa bodoh, lagi pula siapa yang akan menyadarinya?" Gumam Jinu yang kemudian beranjak ke kamarnya untuk tidur.


...♡♡♡...