
"Kenapa?" tanya Jinu lagi. Kini Sandara melirik ke arah Jennie dengan tatapan yang mematikan.
Jennie -gadis yang mendapat perlakuan- hanya dapat menunduk. Entah mengapa jantungnya kembali berdetak lipatan kali lebih cepat. Ia merasa tak enak. Begitupun dengan suasana di dalam rumah yang terasa begitu dingin. Seolah-olah ia baru saja akan disidang karna sebuah kesalahan yang fatal. Gadis cantik itu berulang kali meneguk salivanya, sekali lagi meski hatinya mencoba memberontak, otaknya tetap saja memberikannya pikiran buruk. Pasti ada sesuatu yang terjadi, dan Jennie tahu bahwa itu bukanlah hal yang ia sukai.
"Kira-kira apakah ada satu dari kalian semua yang ingin berkonfesi?" tanya Sandara, sedangkan yang lain hanya diam. Jinu memiringkan kepalanya, sungguh ia tak tahu mengapa sang ibu bertanya begitu.
"Ah sayang ..! mengapa kita tak makan malam dulu dan menyelesaikannya dengan kepala dingin," ayah Jinu -Kim Seunghyun- mencoba mencegah sang istri. Jinu semakin bingung kali ini. Jumyeon dan Joohyun hanya diam, meski terdapat perubahan ekspresi pada raut wajah mereka. Jennie melihat raut Joohyun yang nampak seperti berkata 'kau bersalah, aku tak ingin mengenalmu'.
Jennie menunduk, jantungnya semakin berdetak dengan kencang.
Ada apa ini? Gadis itu benar-benar khawatir pada dirinya sendiri.
"Tidak bisa ..! pokoknya harus diselesaikan sekarang!" seru Sandara yang kini nampak marah.
"Apa yang terjadi, apa yang harus diselesaikan?" tanya Jinu pada akhirnya. Sandara yang nampak murka kini berdiri dan mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Jennie.
"Gadis ini benar-benar kurang ajar!"
Jinu menampik tangan Sandara, "Ibu, apa yang kaulakukan?"
Sandara menoleh ke arah sang putra, kini air mata menggenang di mata wanita itu.
"Aku tak menyangka bagaimana aku bisa melahirkan putra sebodoh dirimu!"
"A-apa maksud ibu?"
Ah tidak. Bahkan Jennie hampir menangis. Suasananya begitu kacau saat ini.
"Gadis ini!" Kembali Sandara mengarahkan jari telunjuknya wajah Jennie, "peselingkuh ini!"
Deg!
"Apa maksud ibu?" Jinu kembali bertanya.
"APA KAU TIDAK SADAR KALAU DIA TELAH BERSELINGKUH!!! GADIS INI—"
"Sudah-sudah sayang, ayo kita masuk saja!" Seunghyun menggiring sang istri untuk pergi dari ruangan itu. Tinggalah di sana Jumyeon, Joohyun, Jinu dan Jennie.
Jinu mendekat ke arah sang kakak, "Apa yang terjadi?"
"Yakk ..! katakan padaku hyung!"
"Kalian sibuk apa hari ini? tidakkah kalian melihat berita di forum online?" sahut Joohyun sembari melirik dengan raut kecewanya pada Jennie. Gadis yang tengah hamil itu kemudian berlalu begitu saja, diikuti dengan sang suami —Kim Jumyeon.
Jinu segera duduk dan berselancar di ponselnya. Ia mencari-cari berita yang dimaksud.
Pria itu kemudian beranjak dari tempat duduk dan mengajak Jennie untuk pulang. Di sepanjang perjalanan pun tak ada sepatah kata yang terucap. Jinu juga hanya terus-terusan terpaku pada jalanan. Jennie merasa bahwa berita tersebut pasti begitu menyakitkan bagi Jinu baik keluarganya. Ingin rasanya ia bertanya, namun tak sampai hati. Ia takut jika Jinu semakin marah padanya.
Sesampainya di rumah, Jinu berjalan mendahului Jennie. Pria itu duduk di sofa ruangan tengah, Jennie berusaha mendekat walaupun suasanya seperti tak memungkinkan.
"Aku tidak berselingkuh," ucap Jennie dengan bibir bergetar. Jinu mencoba tak menghiraukannya bahkan tak ingin menatap wajah Jennie.
"Sungguh," lanjut Jennie. Pria di sampingnya kini berdiri, "Aku kecewa padamu Jennie Kim!"
"Tapi-"
"Aku pikir aku bisa mempercayaimu, tapi apa nyatanya? bagaimana bisa aku jatuh cinta pada gadis sepertimu?" potong Jinu.
"Aku tak pernah berselingkuh."
Jennie mulai menitihkan air mata.
"Sekarang aku tahu mengapa kau begitu ingin menghubungi temanmu dan meminta bantuan padanya, rupanya CEO agensinya adalah pacarmu ya?"
Jennie menggeleng, "Itu tidak benar."
"Ah terserah.. kurasa aku sudah tak bisa percaya lagi padamu."
Jennie meraih lengan Jinu, namun pria itu mengibaskannya begitu saja.
"Akan kuberi kau ongkos taksi, dan pergilah dari sini! malam ini juga!"
"Tapi-"
"KUBILANG PERGI!"
Seketika ciut nyali Jennie. Baru kali ini Jinu membentaknya. Gadis itu limbung, seolah tak dapat lagi berdiri. Tidak. Jennie tak pingsan, ia hanya begitu terguncang saat ini. Jinu berlalu ke kamarnya, sedangkan Jennie kini mulai menangis.