
Meja makan yang penuh itu nampak tak menarik kini. Sepasang kekasih di sana menampakkan raut lain. Si pria nampak gugup, bahkan setiap pergerakannya nampak aneh di mata Jaewon. Dalam hati, ia menyesali sapaannya tadi.
Harusnya aku tak memanggil Jinu hyung tadi, rutuknya dalam hati. Jaewon menyesal karena telah menaruh Jinu dan Bomi dalam situasi yang canggung ini. Ah... Andai saja ia bisa memutar waktu.
"Coba ini hyung, kau sudah lama tak makan di sini 'kan?" Jaewon menyodorkan potongan-potongan tteok di mangkuk Jinu, ia hanya mencoba mencairkan atmosfer yang terasa aneh. Berbeda dengab Jinu yang bodoh, pria itu hanya mengangguk-angguk tak jelas. Gadis di sampingnya kini mulai merasa aneh, mengingat ketika Jinu bahkan tak bisa melafalkan nama gadis di depannya dengan lancar. Ia kemudian melirik ke arah Bomi, pikirannya menerka-nerka siapakah sebenarnya gadis di depannya ini. Apa dia adalah mantan Jinu? Bukankah pria ini tak pernah berpacaran?
Seperti serangan otak mendadak, yang membiarkan setiap sarafnya tak bekerja dengan benar. Jinu makan dengan cepat kali ini, tak seperti kebiasaannya.
"Kenapa aku merasa aneh di sini?" Jennie memulai percakapan setelah diam yang aneh dari mereka yang ada di depannya.
"Tidak ada yang aneh, mungkin karna kami sudah lama tak bertemu," jawab gadis yang duduk tepat di depan Jennie. Beberapa menit yang lalu mereka sudah berkenalan. Ia bilang bahwa dirinya adalah kawan lama Jinu dan Jaewon yang menyelesaikan pendidikannya di Jepang.
"Ya, seharusnya kalian mengobrol dengan hangat, bukan malah—"
"Ayo!" Jinu berdiri dari duduknya sembari menarik pelan tangan Jennie.
"Ke mana? Aku bahkan belum selesai makan," protes Jennie.
"Aku ingat kalau kompor di rumah masih menyala. Kalau tidak segera pulang, bisa-bisa rumahku habis terbakar," jawab Jinu. Jennie terlonjak dari duduknya sembari meraih tas gendongnya yang kecil.
"Ya ampun, oppa ... Kenapa kau sembrono sekali! Ayo, cepat!" Jennie menarik tangan Jinu, "maaf, ya. Kami harus pergi duluan," pamitnya diikuti anggukan dari Jaewon dan gadis di sampingnya.
Dua sejoli itu pun pergi. Gadis di samping Jaewon menatap bayangan mereka yang semakin menjauh. Bola matanya memanas, entah mengapa ia mulai menitikan air mata.
"Bomi noona?"
Gadis yang dipanggil Bomi itu menoleh sembari menyeka air matanya cepat.
Namun, Jaewon tahu yang sebenarnya. Ia tak ingin bertanya lebih jauh karna tak ingin memperkeruh suasana.
...♡♡♡...
Jennie segera menghambur ke dapur sesaat setelah Jinu memarkirkan mobil.
"Ayo, oppa. Cepat!"
Namun ketika sampai di dapur, Jennie dibuat terkejut. Ia mematung di tempatnya sembari menatap kompor di depannya. Apinya bahkan tak menyala.
...Ia berbalik menatap Jinu sembari berkacak pinggang. "Oppa, apa kau bohong?" tanyanya....
"IYA." Jinu berjalan maju ke arah Jennie kemudian mendekatkan wajahnya.
Jennie mendorong pelan tubuh Jinu. "Yaa ... Kau mau cari-cari kesempatan? Kau bahkan belum membuatku kenyang."
Jinu melipat kedua tangannya. "Pesan saja delivery makanan. Beres 'kan?"
"Begitukah? Tapi kau yang bayar 'kan?" tanya Jennie yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh pria di depannya.
Jennie segera berselancar di ponselnya. Masuk ke aplikasi delivery makanan dan memesan beberapa menu enak yang mahal. Siapa peduli, Jinu 'kan yang akan membayarnya?
...♡♡♡...