
"J-Jinu-oppa ...."
Jennie kembali menitihkan air matanya. Ia melemparkan benda tipis itu ke samping, masih di bed-nya. Sesaat setelah itu Jennie mulai terisak.
...♡♡♡...
Miyeon mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman rumah Jinu. Baik Hyuna maupun Sandara rupanya memberikan kesempatan untuk Miyeon dan Jinu agar lebih dekat.
"Wah ... Rumahmu begitu klasik oppa," puji Miyeon. Gadis itu berjalan mendahului dan masuk makin ke dalam. Ia kembali berseru, "Whooaaahhh ... Daebak! Kau punya galeri seni kecil di dalam rumah." Gadis itu berjalan ke arah ruangan dengan dinding kaca. Untuk sesaat, Jinu menatap tubuh Miyeon dari belakang.
Dia mengingatkanku pada gadis cengeng itu, batin Jinu.
"Apa ini? Indah sekali," puji Miyeon ketika ia menjumpai sebuah lukisan yang belum jadi. Jinu memicingkan matanya.
Dia lebih pandai dari pada si Kattie bodoh yang otaknya dipenuhi akar serabut itu, batinnya lagi. Entah mengapa ia tak bisa menghapus Jennie Kim dari pikirannya.
"Kau mau minun apa?" tawar Jinu. Miyeon menoleh sembari tersenyum manis. "Apa saja boleh," jawabnya.
Jinu berbalik, hendak menuju ke dapur. "Eh, tunggu!" Jinu menghentikan langkahnya dan melirik ke arah Miyeon, "Kalau ada ... Emmmm ... Milkshake banana."
"Tak ada, aku hanya punya air putih," jawab Jinu yang kemudian berlalu begitu saja. Miyeon mem-pout-kan bibirnya. Gadis itu mengekor pada Jinu dan kemudian duduk di meja makan.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Jinu yang kini membawa segelas air putih. "Menunggumu di sini," jawab Miyeon.
Jinu menyodorkan gelas itu pada Miyeon. "Terima kasih, oppa." Miyeon kemudian meneguk air itu hingga habis.
Entah mengapa meski ada Miyeon di sana, Jinu merasa masih ada yang kosong. Benar. Ruang hatinya benar-benar kosong. Pria itu merindukan si Kattie bodoh yang sering membuatnya kesal. Meskipun ia tak mau mengakuinya di depan siapa pun!
Chubb.
Jinu terkesiap, ia tersadar dari lamunan singkatnya tentang Jennie.
"A-apa yang kaulakukan?" Jinu agak tergagap, karna ia benar-benar terkejut dengan aksi dadakan Miyeon. Gadis yang baru saja mencium pipi Jinu itu terkekeh.
"Bukankah, ini tujuannya mengapa kita dibiarkan berdua," jawab Miyeon yang saat ini pipinya memerah.
"Hentikan aksi menggodamu, atau kau akan menyesal," ucap Jinu mengingatkan. Miyeon meraih sebelah tangan Jinu. "Mengapa aku harus menyesal?" tanyanya.
"Apa kauingin aku memakanmu saat ini juga?" tanya Jinu balik. Miyeon mendelik, sepertinya Jinu cukup liar. Bisa ia lihat dari pertanyaan barusan.
"Apapun yang kau lakukan, aku akan menerimanya," jawab Miyeon seolah setuju dengan aksi brutal yang mungkin akan dilakukan Jinu. Perlahan pria itu mulai mendekatkan bibirnya di telinga Miyeon. Gadis itu memejamkan mata, bisa ia rasakan hembusan napas Jinu yang membelai indera pendengarannya.
"Pulanglah, ibumu mencari!" bisik Jinu di telinga Miyeon.
Ah. Ledakan ovarium.
Oh God! I can't. He's so sexy, batin Miyeon.
...♡♡♡...
Jisoo pergi ke apartment Jennie, ia rindu pada sahabatnya itu dan jujur niatnya kali ini bukanlah untuk bergosip. Perasaannya tak enak, dan benar saja ketika ia mendapati Jennie yang malas-malasan tak mau beranjak dari kasurnya.
"Yakk ... Ada apa denganmu?" tanya Jisoo. Sang sahabat tak mau mejawab dan malah asyik menenggelamkan wajahnya di sela-sela bantal dan guling.
Plakk!
Jisoo memukul pantat Jennie. "Memangnya hari ini kau tak ada jadwal?" tanya Jisoo.
"Astaga!" Jisoo terkejut ketika mendapati wajah murung Jennie dengan mata yang sembab. "Siapa yang berani membuatmu menangis?" tanya Jisoo. Jennie yang semula bisa menahan air matanya keluar, kini justru mulai menangis. Ayolah! Seandainya saja Jisoo tak bertanya, maka Jennie tak akan menjadi sedrama ini.
"Hiks ... Hiks ... Hiks." Gadis cantik itu memegangi dadanya, segera Jisoo membawa Jennie ke dalam pelukannya.
"Tenang, ayolah cerita padaku!"
Kejadiannya ini seperti beberapa hari yang lalu saat Jennie menceritakan bahwa hubungannya dengan Jinu telah berakhir. Dan hari ini, gadis itu masih terlihat menyedihkan.
"Mi-Miyeon," ucapnya seolah mengadu pada Jisoo. "Miyeon? Si tukang cari masalah itu?" terka Jisoo. Masih ia ingat ketika Miyeon mengancam Jisoo untuk menyebarkan rumor hubungannya dengan Mino kala itu. Jisoo masih menandai Miyeon.
"Hiks ... Hiks." Jennie masih berusaha menghentikan tangisnya, tangan gadis itu mulai menyodorkan ponselnya pada Jisoo dan menunjukkan dirrect message yang ia terima tadi malam.
"Aish ... Kurang ajar sekali dia!" kesal Jisoo setelah mengetahui isi dari dirrect message itu.
"Tidakkah kau merasa bahwa sumber dari masalah kita itu adalah Miyeon?" tanya Jisoo. Jennie terdiam, seolah mencoba menebak-nebak apa maksud dari perkataan Jisoo.
"Kau dipecat dari I.C.E, dia yang menggantikanmu! Kau putus dengan Jinu oppa, dia pula yang merebutnya!" ungkap Jisoo.
Deg! Benar. Seolah apa yang dikatakan Jisoo merupakan bukti kasar dari nestapanya belakangan ini.
"Cho Miyeon, mengapa kau melakukan ini padaku?" Jennie bergumam.
...♡♡♡...
"Aku tak percaya mengapa ibu mengambil keputusan secepat itu?" protes Jumyeon. Sandara menghentikan makan sejenak, dan menopang dagunya dengan tangan.
"Apa salahnya, ibu tak ingin Kim Jinu didatangi oleh si parasit itu lagi," jawabnya sembari menatap Jumyeon tajam. Sesi makan siang ini terasa cukup tegang. Joohyun yang menyelesaikan makan siangnya lebih dulu kini pamit, "Maaf ibu, ayah. Aku mau istirahat, sepertinya perutku menegang lagi." Joohyun memegangi perutnya yang makin membesar.
Sandara mengangguk. "Baiklah sayang, istirahat yang baik, ya."
"Jangan lupa minum vitaminmu," tambah Seunghyun. Joohyun tersenyum. "Baik ibu, ayah," jawabnya yang kini berlalu pergi meninggalkan Jumyeon dengan kedua orang tuanya. Gadis itu memang selalu menghindar jika ada perdebatan seperti ini.
"Tapi, mereka bahkan baru bertemu." Jumyeon meletakkan sendoknya di atas piring. Sang ibu nampak memijat pelipisnya saat ini. "Lama-lama mereka akan kenal baik," jawabnya.
"Apa ibu pikir Jinu sudah melupakan Jennie?"
Sandara mengerutkan dahinya dan nampak tak setuju dengan Jumyeon. "Apa kau pikir Jinu benar-benar mencintainya?"
"Ya," jawab Seunghyun yang tiba-tiba menyela. Pria itu menatap sang istri, sudah dari tadi ia diam karna tak ingin ada perdebatan. Tapi, rupanya ia harus ikut andil dalam perbedaan pendapat ini.
"Jinu bahkan melukis wajahnya," lanjut Seunghyun.
"Melukis wajahnya bukan berarti Jinu menyukainya, apa kau masih tak mengerti?" Memang seperti inilah Sandara yang enggan mengalah.
Seunghyun berdiri dari tempat duduknya. "Jangan mengambil keputusan sebelum kau mendapat persetujuan dari Jinu!" ucapnya sembari berlalu dari meja makan.
...♡♡♡...
Hari ini media kembali heboh. Bagaimana tidak? Beberapa hari yang lalu di sebuah pameran seni, terpajang sebuah lukisan yang begitu mirip dengan Jennie Kim. Aktris yang telah kembali setelah hiatus yang cukup lama itu, lagi-lagi membuat heboh.
[BREAKING] Jennie Kim menjadi Inspirasi Seniman Terkenal!
...♡♡♡...