Lovely Stranger

Lovely Stranger
Kacau



Kim Seunghyun melirik penuh geram ke arah Park Jinyoung yang rupanya juga menghadiri pameran seni yang sama.


"Wah ... Tabbi! Lama tak bertemu, kau jadi makin tampan saja ya," sapanya ramah. Walaupun aslinya mereka tak saling suka(?) Tabbi adalah nama panggilan Seunghyun semasa kuliah di Universitas dulu.


"Sedangkan kau jadi semakin tua," ejek Seunghyun. Park Jinyoung menyeringai, kemudian menatap lukisan yang dipajang tepat di depan Seunghyun.


"Kim ... Jinu, bukankah dia putramu?" Seunghyun tak menjawab, ia malas berbicara dengan orang di depannya ini.


Lelaki separuh baya itu lalu mengarahkan jari telunjuknya pada lukisan tersebut. "Perasaanku saja, atau memang lukisan ini mirip dengan seseorang?" Tanyanya.


Seunghyun menatap kembali lukisan karya putranya itu. Ia memicingkan mata dan berpikir, Apa ini pacar putraku?


...♡♡♡...


Sebodoh apapun setiap orang di kota ini tentu sangat tahu bahwa lukisan itu adalah sosok publik figur yang sering muncul di TV. Ah iya, betapa bodohnya Kim Seunghyun yang membuat semua orang tahu bahwa Kim Jinu telah melukis Jennie Kim.


"Semuanya sudah terlanjur, lagi pula banyak 'kan seniman yang membuat lukisan gambar orang yang terkenal, AKH—"


Baru saja Jinu mengaduh saat Jumyeon memukul kepalanya. Pria itu mengusap kepalanya dan menatap kesal ke arah si kakak.


"Kau pecundang, apa kau belum menemui si Nam Taehyun itu?" Tanya Jumyeon. Entah mengapa ia jadi sering mengunjungi Jinu akhir-akhir ini.


"Tak perlu, aku malas membahas ini!" Tegas Jinu. Entah bagaimana perasaan Jinu saat ini, yang jelas Jumyeon merasa prihatin padanya.


Jumyeon memiringkan kepalanya. "Sebenarnya kau ini mencintai Jennie atau tidak?"


Jinu memutar bola matanya bosan dan menjawab, "TIDAK!"


Jumyeon agak tersentak, apa benar yang dikatakan oleh adiknya ini? Plak!!! Lagi-lagi pukulan Jumyeon mendarat di kepala Jinu.


"YAKK ...! Kalau kau terus memukulku, bisa-bisa aku bodoh!"


Ngiiinnnngggggg! Telinga Jinu tiba-tiba berdengung.


Kau begitu pandai membuatku jatuh cinta, dan lihat apa yang kaulakukan? Kau menyerap kepandaianku dengan kecupan di dahi barusan. Jangan membuat aku jadi bodoh!


Kekehan Jennie kembali terdengar, bayang-bayang wajah cantik itu mengitari kepala Jinu.


Kenapa kau muncul di saat aku sudah mulai terbiasa tanpamu? Batin Jinu.


Ia diam cukup lama hingga membuat Jumyeon menjentikkan jarinya di depan wajah Jinu.


"Kau baik-baik saja?"


Jinu mencoba menepis apa yang baru saja ia rasakan dan menjawab pertanyaan Jumyeon, "Y-ya, aku baik." Terdengar ragu. Hampir saja Jumyeon memeriksa suhu badan Jinu, namun ponselnya berdering saat itu.


"O-oh.. Iya, dia di sini—." Jumyeon menjauhkan ponselnya dari telinga. "Yaa! Joohyun bilang ibu menelponmu berkali-kali. Mengapa tak kau angkat?"


Jinu segera meraih ponsel yang ia letakkan di kantung jeans-nya. Ah, sial! Dia mematikan mode dering dan getarnya, sehingga tak ada notifikasi yang terdengar.


"18 panggilan?"


Jumyeon menyeringai. "Matilah kau!" Ejeknya. Tanpa diperintah, Jinu pun segera menghubungi sang ibu.


...♡♡♡...


"Kenapa ibu membawaku kemari?" Tanya Jinu. Mereka saat ini berada di sebuah restoran mewah yang terletak di pusat kota Seoul. Wanita separuh baya di samping Jinu melirik sang putra kesal.


"Ibu akan mempertemukanmu dengan seseorang," jawabnya.


Jinu mendelik, sungguh ia tak peduli dengan siapa mereka akan bertemu. Namun, pandangannya segera tertuju pada seorang wanita berpakaian glamor yang kini terlihat berjalan menghampiri meja mereka.


Siapa wanita itu? Apa dia perawan tua yang dimaksud oleh ayah? Batin Jinu. Pria tampan itu meneguk saliva. Benar-benar ia menyesal karna melepaskan Jennie begitu saja. Tapi perselingkuhan? Ya, benar. Seperti prinsip yang sudah ia bangun sejak lama. Semuanya bisa dimaafkan, kecuali perselingkuhan.


"Ah ... Maaf jika kalian menunggu lama." Wanita cantik itu benar menghampiri mereka, ia duduk tepat di depan Sandara. Keduanya nampak akrab. Setelahnya datang lagi seorang gadis muda yang berlari tergopoh-gopoh dari arah lain. Jinu melirik ke arah gadis itu, matanya membulat saat ini juga.


"Maaf ... Aku mengejar waktu ...," ucap gadis itu sembari mengatur napas. Jinu langsung dapat mengenali gadis itu, karna kebetulan ia juga suka menonton drama televisi.


Apa dia Cho Miyeon? Batinnya.


...♡♡♡...


Jennie kembali memulai aktivitasnya, lelah rasanya melakukan shooting seharian. Gadis itu merebahkan tubuh pada ranjang miliknya. Salah satu tangannya merogoh saku jaket yang ia kenakan dan mengambil benda persegi panjang tipis yang ia beli kemarin. Segera ia mengecek kotak masuk e-mail-nya. Ia telah mengirim e-mail pada orang tuanya yang tinggal di New Zealand ketika ia mengalami kesulitan dulu.


"Ah, syukurlah mereka membalas e-mail-ku!" Jennie berseru. Ia bangkit dan duduk untuk membaca balasan dari orang tuanya. Ia menitihkan air mata, betapa senangnya membaca balasan yang sangat menyentuh. Ia menekan dial ke nomor orang tuanya untuk menelpon. Beberapa detik kemudian panggilan itu diangkat.


"Hallo," sapa Jennie. Jantungnya berdebar-debar karna kelewat senang. "Syukurlah kalian membaca e-mail-ku."


Ia mengeka air matanya yang mulai turun. "Iya bu, aku baik-baik saja," jawabnya sedikit emosional karna terbawa suasana. Sudah lama ia tak bicara dengan sang ibu.


Setelah selesai menelepon, Jennie kemudian berselancar di media sosialnya. Gadis itu terkejut ketika mendapati Cho Miyeon mengirimnya sebuah direct message. Jennie membulatkan matanya. Gadis yang telah lama menjadi rivalnya itu menuliskan pesan dengan nada ejekan untuk Jennie.


Hey, apa kau mengenal pria ini? Tanyanya.


Demi apapun, Jennie cukup terkejut mendapati potret 'prianya' yang seolah duduk di depan Miyeon di sebuah meja makan.


"J-Jinu-oppa."


...♡♡♡...