Lovely Stranger

Lovely Stranger
Terungkap



Sandara menghampiri Jinu yang sedang sibuk memoleskan beberapa warna di kanvasnya. Anak keduanya itu memakai berbagai macam warna yang cerah, hingga membuat lukisan setengah jadi itu terlihat indah. Sandara tersenyum, ia membelai surai sang putra dengan lembut.


"Ibu?" Jinu menoleh mendapati wajah hangat sang orangtua.


"Ibu kira kau tak akan mau melukis lagi," ucap Sandara, mengingat Jinu bahkan tak sedikit pun melirik ke galeri seni kecil itu dan memilih berdiam diri di kamar. Sebesar itu kah dampaknya putus cinta? Kini Sandara mulai memahami.


"Aku sedang senang," jawab Jinu sembari memoleskan kuasnya.


"Kira-kira, apa yang membuat putraku begitu senang?" tanya Sandara. Jinu berhenti sejenak dari aktivitasnya, ia terlihat berpikir namun seolah tak mau membagi apa yang ia rasakan pada sang ibu. Benar-benar tak seperti biasa.


"Entahlah," jawab Jinu yang kemudian kembali menggerakkan kuasnya.


"Maafkan ibu."


Jinu tersentak. Ia menoleh menatap wajah sang ibu yang saat ini nampak begitu menyesal.


"Untuk apa?"


Sandara menghela nafas pelan. Ia merasa begitu jahat sebelumnya pada sang putra. "Ibu baru saja mengetahui sebuah fakta—"


Jinu berdiri kemudian memegang kedua bahu Sandara. "Fakta apa itu, bu?" tanyanya penasaran.


"Soal Jennie Kim," jawab Sandara. Jinu membeku, jantungnya berdebar-debar tak karuan. Ia takut jika fakta yang diketahui Sandara bukanlah hal yang sama dengan yang ia tahu.


"Skandal itu tidak benar. Jennie Kim bukan peselingkuh. Ada seseorang yang memfitnahnya," lanjut Sandara. Jinu melemas, ia kembali duduk dan menghela nafas lega.


"Syukurlah," lenguhnya, "tapi dari mana ibu tahu?" tanya Jinu.


"Itu tidak penting. Tapi, percayalah ibu akan membuat pelakunya menyesal seumur hidup," tegas Sandara. Jinu sebenarnya cukup penasaran. Tapi, kali ini ia akan menyerahkan masalah ini pada sang ibu. Ia percaya bahwa ibunya bisa diandalkan.


"Ibu tidak akan melarangmu lagi. Jika kau mencintainya, maka kejarlah dia!"


Jinu tersenyum lebar. "Tanpa ibu suruh, aku sudah mengejarnya diam-diam."


Sandara membulatkan mata.


"Aku sudah mendapatkannya kembali. Jadi, ibu tidak perlu khawatir," lanjut Jinu yang masih menampilkan senyumnya.


...♡♡♡...


Langkah gadis bersepatu high heels itu terhenti. Ia nampak ragu kini. Ditatapnya rumah bergaya klasik yang berdiri kokoh di depannya. Ia menunduk, malu ketika mengingat apa yang telah ia perbuat kala itu. Tapi bukankah tidak ada kata terlambat untuk minta maaf?


Ia melangkah mencoba menekan bel yang terpajang di sebelah gerbang. Namun, lagi-lagi ia merasa ragu. Ia berbalik dan mengurungkan niatnya. Gadis cantik itu berlalu. Namun, seseorang memanggilnya, "Bomi noona?"


Gadis itu menoleh. Didapatinya seorang pria tinggi yang baru saja turun dari taksi.


"Kau benar Bomi noona 'kan?" tanya pria bertato itu lagi, untuk memastikan.


"Jaewon, kau terlihat semakin kurus," ujar gadis yang dimaksud sembari mengamati pria jangkung di depannya.


Pria itu menghela napas. Ia memegang kedua bahu Bomi. "Apa yang noona lakukan di sini? Kau sudah kembali dari Jepang?" tanya Jaewon. Gadis yang satu tahun lebih tua darinya itu mengangguk.


"Oh, ya ... Jaewon, jangan bilang pada Jinu bahwa aku kemari, ya!" pintanya.


"Aishh ... noona bahkan hampir saja menekan bel rumah itu. Lalu, kenapa kau tak ingin Jinu hyung tahu?" tanya Jaewon. Gadis itu melengos.


"Entahlah, aku mendadak ragu untuk menemuinya."


Jaewon menggiring Bomi untuk berjalan meninggalkan tempat itu. "Ya, aku paham. Bagaimana kalau kita ngobrol dulu sambil makan siang, aku sangat lapar," ucapnya yang langsung saja disetujui oleh Bomi.


...♡♡♡...


Siang itu begitu cerah. Jinu hanya duduk termangu ke belakang setir mobilnya, sembari mengamati Jennie yang sedang syuting progam Reality Show. Tentu Jinu mengamatinya dari kejauhan. Kebetulan kali ini lokasi syuting berada di luar ruangan, sehingga Jinu bisa bebas melihat kegiatan sang kekasih layaknya penggemar-penggemar yang juga menyempatkan diri ke sana. Pria itu berdiam di sana bukannya tak punya kesibukan. Ia baru saja mengantarkan salah satu karya lukisnya ke sebuah Pameran Seni yang akan digelar besok lusa. Sekalian saja ia mengajak Jennie untuk makan siang bersama.


Jinu membulatkan mata. "Kau langsung masuk begitu saja?"


Jennie mengendikkan bahu. "Memangnya kenapa?" tanyanya.


"Bagaimana jika ada yang curiga dengan mobilku? Bisa gawat kalau kau terkena skandal lagi," jawab Jinu.


Gadis di depannya tersenyum. "Siapa peduli? Aku tak perlu takut untuk kali ini. Lagipula, kita 'kan benar-benar berkencan."


"Kau bersikap seolah-olah karirmu itu tidak berati."


"Karirku sama berartinya dengan dirimu." Jennie meraih tangan Jinu, kemudian menyentuhkannya di dada. "Rasakan detak jantungku saat ini. Bahkan aku lebih berdebar-debar ketika berada di sampingmu, dibandingkan saat berada di dalam lingkaran skandal sebelumnya." Gadis itu menatap Jinu dalam-dalam.


"Entahlah, aku mulai berpikir panjang dengan kehidupanku. Kenormalan dan kebahagiaan. Karir yang cemerlang adalah bonus. Memangnya siapa yang ingin sukses jika tak bisa merasakan kebahagiaan seperti ini?" jelas Jennie.


"Siapa yang mengajarimu menjadi orang bijak?" tanya Jinu. Gadis di depannya tersipu. "Pelajaran hidup," jawabnya.


"Itu bagus. Apalagi, kau membiarkanku menyentuh dadamu. Tidak bisakah ini lebih turun lagi," goda Jinu sembari menaik-turunkan alisnya.


"Yaa!!!" Jennie memekik kemudian melepaskan tangan Jinu, "dasar mesum!"


Pria itu terkekeh sembari mulai menjalankan mobilnya.


...♡♡♡...


Rumah besar yang biasanya tenang itu, kini tengah ribut. Cho Miyeon berjalan mondar-mandir dengan perasaan tak karuan. Sedangkan sang ibu —Cho Hyuna— sibuk menelpon beberapa pengacara. Untuk apa? Tentu saja untuk menangani sesuatu yang mungkin akan menimpanya.


"Bagaimana ini, ibu?!" tanya Miyeon sembari menggigit kukunya.


"Ibu sedang berusaha! Jangan mengganggu dulu!" Sama halnya dengan sang putri, Hyuna juga merasa takut.


Tentu saja ia takut jika kasus ini tercium oleh media. Citra bahkan bisnisnya bisa saja hancur dalam sekejap.


"YAAA ... Kau juga bagian dari rencana ini! Sewa pengacara juga atau aku akan membuatmu lebih hancur—" Hyuna menengok ke arah ponselnya. Panggilan itu diputus begitu saja.


"Aishh ... Park Jinyoug sialan!" umpatnya.


Wanita separuh baya itu memijat pelipisnya. Ia melirik ke arah sang putri yang nampak muram. Rasa sesal segera memenuhi dada Hyuna. Ia bersedih saat ini.


Mengapa aku tak bisa membuat putriku bahagia? Batinnya.


...♡♡♡...


Makan siang kali ini, Jinu mencoba mengajak Jennie ke restoran yang berbeda. Ia akan pergi ke restoran langganan keluarganya.


"Keluargaku sering sekali ke restoran ini, kau pasti suka dengan makannya," ujar Jinu seolah meyakinkan Jennie bahwa makanan di sini enak-enak.


"Oke, baiklah. Mari kita buktikan," jawabnya.


Mereka berjalan beriringan menuju ke sebuah meja yang letaknya di sudut. Jinu meraih tangan Jennie dan membawa sang gadis agar mengikuti langkahnya ke sana. Belum sempat mereka duduk, suara pekikan yang tak asing menembus gendang telinga Jinu.


"Hyung!"


Seketika Jinu menoleh. Didapatinya wajah dengan tawa tanpa dosa yang sedang sibuk melambaikan tangan ke arahnya.


"Bukankah itu Jaewon?" tanya Jennie. Yang ditanya hanyalah diam menatap sosok cantik yang duduk tepat di depan sang adik.


"Yoon Bomi," gumam Jinu pelan.


...♡♡♡...