
Obrolan panjang berbuntut kesepakatan antara Abrar dan Abian pun selesai dengan kata ‘deal’. Abrar percaya pada adiknya itu, sebab sungguh telah berhasil meyakinkan dirinya. Bahwa Abian merasa banyak berhutang budi pada kakaknya. Mulai dari menjemputnya di desa pasca kematian ibu mereka. Memberikan pendidikan yang layak bahkan ke Luar Negeri. Bahkan sungguh menyerahkan satu perusahaan untuk Abian kelola sendiri sebagai CEO di perusahaan itu.
Dengan demikian, Abrar pun bisa bernafas lega dari segala tuduhan dan kedengkian sang istri yang pasti tidak setuju dan curiga saja. Perihal ia akan banyak mengeluarkan banyak dana untuk menyekolahkan putrinya sendiri. Dasar suami bucin.
“Kaniya itu … teman ngobrol yang baik ya, Mas.” Puji Alice saat mereka sudah sama-sama berada di atas tempat tidur melepas lelah dengan kegiatan seharian.
“Masa …?” ciee… Abian berlagak ga tau nih. Alice saja yang tidak tau, jika Kaniya bukan hanya teman ngobrol yang baik. Tapi teman di ranjang yang luar biasa bagi suamimu.
“Iya … tadi kami lumayan lama ngobrol di samping. Dia juga bilang, kalo Mas itu om yang manis. Dia sangat merasa terhibur dan merasa di sayang bahkan lebih dari ayahnya.” Alice merangkum obrolannya bersama Kaniya tadi.
“Kaniya di masa lalu itu sangat menyedihkan. Dia lumayan terpukul akibat perceraian orang tuanya. Dan aku sebagai pamannya hanya berusaha memperlakukannya dengan baik. Selayaknya orang tua melindungi anaknya.” Waw jawaban yang super sekali. Selayaknya orang tua melindungi anaknya. Ya … melindungi dengan mengungkungnya di bawah tubuh tanpa sehelai benang. Itulah perlindungan yang haqiqi. Versi Abian. Amazing.
“Kasian Kaniya. Di usia berapa dia sudah tidak memiliki ibu kandung, Mas?” telisik Alice pada suaminya.
“Sepuluh tahun kalo tidak salah.” Yess, pura-pura lupa adalah bagian dari trik Abian. Supaya samar jika ia sungguh tak merasa keponakannya itu adalah orang yang spesial.
“Masih sangat kecil.” Prihatin Alice dengan sungguh. Alice tumbuh dari keluarga yang baik, menjadi anak yatim hanya karena maut yang memisahkan kedua orang tuanya. Itu pun terjadi setelah ia sudah menjadi sarjana. Hanya memang ia kecewa dengan dirinya sendiri, yang termasuk terlambat menemukan jodoh. Sehingga sang ayah tak sempat menjadi Wali saat ia menikah, karena sudah meninggal dunia.
“Ya … sangat kecil. Masih bocah. Dan kini ia bahkan sudah bisa menentukan jalannya sendiri. Mas Abrar bilang dalam beberapa hari lagi. Putrinya itu akan ia kirim ke London. Atas permintaannya, Niya ingin melanjutkan studinya di sana.” Abian memberikan informasi pada sang istri.
“Wah … baru saja aku menemukan teman ngobrol dari kalangan keluarga mu, Mas. Sudah harus berpisah rupanya.” Alice sedikit terkejut dengan kabar itu.
“Yah … itulah keputusan Niya. Kita hanya bisa mendukung dengan doa dan sesekali dengan dana.” Memang patut di acungi jempol si Abian ini. Mantap.
Sesuai percakapannya dengan Abrar, Abian sibuk dengan urusan kepindahan Kaniya. Seolah sungguh akan memberangkatkan keponakannya itu ke London. Padahal, kini ia dan Kaniya sudah saling merangkul bagai pengantin baru yang sedang memilih hunian baru untuk mereka memulai kehidupan baru.
Untuk urusan di kampus, juga tak lupa Abian konfirmasikan. Baik dengan kampus lama juga di kampus yang baru. Masih di seputaran kota yang sama. Hanya memang di pilihlah kampus yang berada di pinggiran kota namun masih bergengsi. Pun dengan jarak tempuh yang tidak jauh dengan apartement yang Abian beli untuk Kaniya dan dirinya tinggal nanti.
“Ouh senangnya dalam hati, kalau beristri dua” Mungkin itulah nyanyian yang mewakili perasaan Abian kini. Sejak sekarang ia harus lebih pintar membagi waktu antara Alice istrinya dan Kaniya cinta pertamanaya, keponakan tersayangnya atau jangan-jangan akan menjadi ibu dari calon anak-anaknya.
Persiapan semakin matang, seolah tiga hari lagi adalah benar waktu yang di tentukan untuk Kaniya pergi ke Luar Negeri. Hari-hari Kaniya tentu semakin cerah ceria. Sebab ia akan segera keluar dari rumah orang tuanya dan akan kapan saja bisa saling bermanja-manja dengan Abian kekasih hatinya.
“Apa ini tante …?” Kaniya sejak ayahnya menikah dengan Soraya tak pernah berhasil merubah panggilannya pada mantan sekretaris ayahnya yang merupakan janda beranak dua itu.
Terlihat dari tahun keluaran surat itu, sama dengan tahun saat mamanya. Veronia di usir paksa oleh ayahnya. Abrar Waluyo. Saat itu, Kaniya hanya bisa menangis memeluk boneka melihat kepergian mamanya di tengah hujan lebat, membawa satu koper. Ia pergi bahkan setelah di talak tiga oleh Abrar ayah Kaniya.
“Sudah baca …?” tanya Soraya menyentak lamunan Kaniya yang hampir tak percaya dengan sebuah kenyataan jika ternyata ia bukanlah anak biologis dari Abrar. Bibirnya kelu, takjub tak percaya dengan sebuah kenyataan yang sebenarnya pahit tetapi membuat hatinya bahagia. Sebab itu artinya, Abian bukan om kandungnya.
“Tidak … tidak mungkin. Aku anak papa. Ini pasti bohong.” Kaniya bersuara, memasang akting tak percaya. Dan merasa perlu memastikan ini pada ayahnya.
“Hey bo doh. Kamu itu sungguh bukan darah daging Abrar. Lihatlah ibu mu perempuan ja lang itu pun ia ceraikan karena telah berani bermain serong darinya.” Teriak Soraya yang siang itu tampak begitu berapi-api memarahi Kaniya.
Soraya tak suka dengan keputusan suaminya. Yang ingin memindahkan kuliah Kaniya ke London. Sesuai permintaan Kaniya padanya. Bagaimanapun cueknya Abrar pada Kaniya, toh itu adalah anaknya, bukan. Keberangkatan Kaniya sudah di depan mata. Ia hanya sedang menungu waktu, kemudian setelahnya Kaniya akan menikmati kekayaan sang ayah dengan berlagak menempuh pendidikan di sana.
“Kalau aku bukan anak papa. Mengapa mama pergi tanpa aku?? Mestinya mama pergi bersamaku. Toh aku bukan darah daging papa …??” Kaniya bukan tipe anak yang manis. Ia bahkan tak segan melawan sang ibu tiri jika akan kejam padanya.
“Abrar terlalu sayang padamu, dan tak tega dengan masa depanmu tak jelas bersam ibumu yang tukang selingkuh itu.. Lihatlah … bahkan kuliah mu pun harus di London. Gila … ini benar-benar tak masuk akal. Anak hasil selingkuhan yang begitu di bangga-banggakan.” Leceh Soraya pada Kaniya yang masih gamang dengan keterangan yang baru saja ia terima tersebut.
Kaniya berlari ke kamar sang ayah, ingin menanyakan langsung pada orang yang pasti tau akan kebenaran itu. Namun di halangi oleh Soraya.
“Mau kemana?”
“Minggir …!!! Bagaimanapun dia itu ayahku.” Tangkis Kaniya pada tangan yang terbentang di depan dadanya.
“Jangan kamu ganggu istirahat suamiku.” Ujar Soraya sok. Seolah Kaniya sungguh tak memiliki hak pada Abrar Waluyo.
Braakh…
Bersambung …