
Cahaya matahari menyelinap masuk pada celah gorden berwarna biru pada ruangan serba putih. Di situlah Kaniya, di sebuah ruang rawat sebuah rumah sakit swasta. Tidur dalam posisi duduk telungkup dengan tangan yang tak lepas memegang tangan papanya yang di penuhi selang infus.
Sebelumnya, Abrar berada dalam ruang observasi. Kurang lebih 6 jam. Tapi kemudian di ijinkan pindah ke ruangan yang hanya boleh satu orang menungguinya dalam ruangan yang juga terdapat dua orang perawat di dalamnya untuk memastikan keadaan pasien.
“Pagi suster … bagaimana keadaan papa saya.” Kaniya terpaksa bertanya dengan perawat yang berjaga sejak kemarin malam.
“Maaf … hanya dokter yang bisa menjelaskan keadaan pasien dengan detail.” Jawab salah satu perawat padanya.
“Papa … Kaniya pulang mandi sebentar. Nanti setelah mandi, Kaniya akan jaga papa lagi.” Pamit Kaniya yang sesungguhnya ragu meninggalkan papanya yang sejak kemarin tak bersuara sejak ia dan ayahnya saling bentak. Tentu saja Kaniya merasa bersalah.
“Pergi …!!! pergi kamu dari sini dan jangan kembali lagi. Puas kamu membuat suami saya hampir mati … Hah?” Ya Tuhan betapa malunya Kaniya mendapat hardikan dari Soraya yang sepagi itu sudah mengumpatnya tanpa basa basi di ambang pintu ruang rawat papanya.
“Aku permisi pulang mandi. Tolong jaga papa sebentar untukku. Aku hanya pulang sebentar.” Kaniya tak meladeni hardikan tadi. Justru pamit dan minta ijin untuk pulang mengemas barangnya untuk tinggal lama di rumah sakit.
“Dengar baik-baik. Jangan pernah kamu langkahkan kakimu ke rumah sakit ini untuk menjenguk suamiku. Ingat. Kamu hanya anak dari seorang wanita ja lang yang hanya menjebak suamiku. Paham ….!!” Soraya masih berapi-api menghardik Kaniya yang tak berdaya dan tak berupaya melawan ucapan si ibu tiri kerjam tersebut.
Kaniya tetap pulang ke rumah. Bagaimanapun ia tak ingin percaya dengan semua yang ibu tirinya itu katakan padanya. Tetap yakin jika hasil tes DNA itu tidak benar, dan percaya jika Veronia sungguh seorang istri baik-baik untuk seorang Abrar, papanya. Walau di sisi lain hatinya senang. Senang untuk hubungan kedepannya bersama Abian. Tapi, Kaniya tetap butuh penjelasan dari sang ayah.
Rencana awal, tiga hari lagi ia kan pura-pura pergi ke London. Walau sesungguhnya ia kan bermukim di pinggiran kota untuk melanjutkan kuliahnya di kampus yang baru. Ia merasa perlu menghabiskan waktunya bersama sang papa di rumah sakit. Tapi runggunya menangkap obrolan di balik dinding dapur, saat ia akan meminum segelas air putih di sana.
“Bagaimana keadaan Tuan sekarang ya …? “ tanya yang satu dengan yang lain.
“Entahlah. Semoga tuan baik-baik saja.”
“Huh … Tuan Abrar adalah orang baik lagi ramah, juga adil. Beliau terlampau bijaksana menghadapi semua permasalahan rumah tangganya. Mungkin beliau kelelahan dan banyak pikiran.” Lanjut yang lain.
“Iya … dulu waktu berumah tangga dengan nyonya Vero. Rumah ini damai dan hangat. Tapi mana kita sangka di balik itu, ternyata Nyonya Vero tega bermain gila dengan mantan kekasihnya, bahkan nona Kaniya adalah hasil perselingkuhannya dari Tuan Abrar.” Kaniya tercekat, tak mengira para pelayan di rumahnya pun tau betapa tengil kelakuan mamanya.
“Hanya karena tuan Abrar baik hati saja, yang masih mau merawat anak dari hasil perselingkuhan istrinya. Seandainya saya yang jadi tuan, Nona Kaniya pun tak saya ijinkan tinggal di rumah ini.” Umpat yang lain lagi, masih di dengar Kaniya dengan seksama.
“Ya … dan keputusan tuan menikah dengan nyonya Soraya pun, sebenarnya bukan hal yang tepat. Masa, beliau mau saja menikahi seorang janda beranak dua. Bukankah lebih baik ia menikahi seorang wanita lajang saja, agar bisa menjadi ibu sambung yang juga menyayangi nona Kaniya.” Tukas yang lain menyambung obrolan seru tersebut.
“Iya … nyonya Soraya memang janda. Tapi saya tidak pernah melihat ia jahat pada Nona Kaniya. Hanya Nona Kaniya saja yang tidak pernah menerima kehadirannya. Tidak pernah menaruh rasa hormatnya sebagai manusia yang memiliki usia lebih muda dari nya.” Hal itu sangat menohok hati Kaniya. Bagaimanapun ia sadar, jika benar selama ini ia memang tak pernah welcome pada Soraya.
Lalu apakah Kaniya masih memerlukan pengakuan dari Abrar untuk secara lugas menyampaikan padanya. Bahwa ia sungguh bukan darah dagingnya.
Kaniya sudah kembali rapi. Dengan taksi online ia kembali ke rumah sakit tempat ayahnya di rawat sejak kemarin sore. Sebenarnya Kaniya tak perlu mengulang untuk bertanya, ia tinggal bilang saja pada Abian dan mengatakan hal yang benar sesuai hasil tes DNA. Bisa jadi Abian malah menceraikan Alice dan menikahinya. Sebab diantara mereka tidak ada darah sama yang mengalir.
Kaniya sudah berdiri di ambang pintu ruang rawat ayahnya. Tepatnya di depan ICU. Taukan jika pasien berada di dalam ruangan itu. Berarti pasien gawat dan tidak bisa di jenguk sembarangan. Hanya orang tertenti dengan suasana diam juga tenang yang boleh berada di dalam, juga bergantian. Entah kapan Abrar di pindah ke ruang tersebut dan mengapa.
Belum sempat Kaniya masuk, ia sudah merasa rambutnya di jambak dan di tarik kea rah belakang dengan cukup keras.
“Mau apa? Membunuh suamiku dengan pertanyaaan konyolmu lagi.” Ya Tuhan tuduhan itu sangat tidak manusiawi. Itu adalah hardikan Soraya, istri kedua ayah Kaniya.
“Berhenti menuduhku tanpa bukti tante. Bagaimanapun aku harus mengkonfirmasikannya dengan papa.” Ucap Kaniya dengan suara lunak. Berharap musuh di depannya bermurah hati mengijinkannya masuk atau minimal melepas jambakan pada rambutnya.
“Konfirmasi kepalamu. Kamu bahkan sudah berhasil memutuskan beberapa pembuluh darah di kepalanya yang menyebahkan suamiku stroke dan bagai mayat hidup itu.” Bahasa yang tanpa filter. Seolah sungguh Kaniya yang menyebabkan penyakit itu mengerogoti Abrar.
“Papa tidak akan separah itu jika tidak memiliki istri gila harta, tamak dan sombong macam tante.” Kaniya sudah berhasil melepas jambakan Soraya. Dan kini justru kerah baju Soraya yang berhasil di tariknya.
Hingga adu mulut keduanya berujung pengusiran oleh pihak security Rumah Sakit. Sehingga Kaniya gagal bertemu dengan sang ayah.
Pulang dengan airmata berlinang. Pertemuan yang gagal, kebenaranpun tak ia dapatkan. Justru tuduhan sebagai penyebab sakitnya Abrar yang kini Kaniya sandang.
Beberapa kali ia menghubungi Abian untuk sekedar berbagi keluh. Namun nihil, entah kemana perginya sang kekasih pujaannya itu, sejak kemarin tak merespon panggilannya.
Menepikan diri di sudut rumah Abrar, sambil menyeruput segelas jus buah naga. Kanya berusaha menenagkan diri. Kemudian memutuskan akan pergi kekost Melan saja, mungkin di sana ia lebih mendapat ketenangan jiwa.
“Mau kemana …?” Suara khas baritone menyentak lamunan Kaniya. Itu adalah suara Bayu, saudara tirinya. Anak Soraya yang ia bawa sejak menikah dengan Abrar. Bayu memang kerap mengajak Kaniya keluar untuk berjalan-jalan. Tetapi tak pernah berhasil.
“Kamu mau kemana …?” Kaniya balik bertanya pada Bayu, yang terlihat penasaran dengan tas besar yang Kaniya pegang.
“Ke club malam. Mau ikut …?” tawar Bayu dengan santai. Dan di angguki oleh Kaniya.
Bersambung …