LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 36 : BERSEKUTU DENGAN SORAYA



Tian tidak serta merta memberikan informasi begitu saja pada Alice. Lagi pula ia cukup senang melihat raut cemas yang terpampang di wajah cantik, istri tetangganya tersebut. Sedangkan Vinda, lebih mirip Asisten pribadi Nyonya Abian Wiguna, yang tugasnya menyimak segala seuatu dengan seksama. Eh, sudah jadi mantan ya. Kan sudah di talak.


“Apa sebaiknya kita ngobrol di dalam saja tante, Alice.” Tawar Tian si charming yang ramah. Alice tak keberatan, justru merasa istimewa di sambut dengan baik oleh tetangga unit suaminya tersebut.


“Oh … Terima kasih tawarannya.” Alice mengikuti langkah Tian yang mendorongnya semakin masuk dalam unit apartemen orang yang baru ia kenal.


“Maaf, minuman kaleng saja. ARTku kerjanya paruh waktu. Beliau keluar tadi, saat tepat jamnya pulang. Jadi, ya … alakadarnya saja.” Tian menjelaskan sesuatu yang sesungguhnya tidak mau di dengar oleh Alice. Dengan siapa Abian tinggal di sebelah, hanya itu pertanyaan Alice. Bukannya mau di suguhi minuman kaleng atau sebagainya.


“Iya …tidak masalah.” Jawab Alica menenangkan diri, sadar jika lawan bicaranya hanya menunda waktu untuk memberikan informasi.


“Oh iya … tante tadi tanya. Om Abian tinggal dengan siapa di sebelah?" Tian dengan gaya gokilnya terlihat akan mulai memberi info pada Alice yang makin tak sabar.


“Setau saya, Om Abian baru minggu lalu terlihat sering tinggal di sini. Dan sebelumnya, unitnya kosong. Tak berpenghuni.” Tian memilih bohong. Untuk melindungi Kaniya yang menajdi target utama penangkapan Alice tentunya.


“Oh …” Hanya itu yang terdengar keluar dari mulut Alice.


“Maaf … mengapa Om Abian tiba-tiba tinggal menyendiri di sini. Apakah kalian bertengkar?” Lho … kok Tian yang malah mengorek informasi.


“Eh … ga usah di jawab tante. Maaf.” Tian sadar sudah makin lancang. Dan memilih menskak pertanyaannya sendiri.


“Iya tidak apa-apa. Tante permisi ya, terima kaasih informasinya.” Alice merasa misinya mencari bukti gagal total. Mulai dari pemeriksaan rekening, sampai mendapati sebuah apartem,ent yang di beli Abian pun. Ia tetap tidak mendapatkan kejanggalan.


“Kita pulang bu …?” tanya Vinda yang siang itu merangkap jabatan sebagai supir Alice.


“Bandara.” Jawab Alice lugas. Vinda tidak banyak bertanya. Ia langsung menancapkan gas menuju aitport. Entah apa yang ada di kepala istri bosnya itu, sehingga kini mereka harus terseret ke tempat yang jarang di datangi, kecuali hendak bepergian keluar Pulau juga Negara.


“Ibu akan menyusul bapak …?” tanya Vinda ngawur. Bisa sajakan, orang kaya kan bebas. Mau kemana saja Tanpa persiapanpun tidak ada yang tak mungkin jika mereka ingin.


“Belum. Hanya saya perlu memastikan Mas Bian berangkat dengan siapa saja. Kamu tau, siapa saja rekan bisnis yang berangkat bersamanya?” tanya Alice yang sungguh peka.


“Tidak bu. Sebab keberangkatan ini, bapak sendiri yang membeli tiketnya. Tidak seperti biasanya yang apa-apa meminta saya mengurus semuanya.” Jawab Vinda jujur.


Benang kusut itu semakin kalut, jauh dari kata terurai. Masih ada beberapa simpul mati yang belumm berhasil di buka oleh Alice, dan jujur. Ia mulai patah hati. Merasa bersalah menuduh Abian berselingkuh bahkan tanpa bukti.


Alice segera menghubungi bagian informasi. Ia tau di mana harus berurusan, demi mendapatkan nama orang-orang yang berangkat di hari yang di sebutkan Vinda.


“Hah … bukankah Kaniya memang sejak enam bulan lalu berada di London. Lalu mengapa dia berangkat kemarin bersama Abian. Kapan dia pulang?” ada tanda tanya besar nongol di kepala Alice.


Di bandara yang sama, enam bulan lalu. Alice ingat betul telah mengantar keponakan suaminya untuk melanjutkan kuliahnya di London. Apa karena kurang komunikasinya dengan sang suami, hingga ia tak tau kapan keponakan suaminya itu pulang. Lalu kini berangkat lagi secara kebetulan bisa barengan dengan Abian.


Dengan langkah gontai, sebab tidak menemukan apapun tentanhg Abian. Alice minta di turunkan di kediaman Abrar saja dengan Vinda.


Dan ternyata peraturan di rumah itu masih sama. Tidak menerima tamu, walau itu Abian atau istrinya.


“Sampaikan pada mbak Soraya. Saya datang tidak untuk bertemu dengan Mas Abrar. Saya hanya perlu bertemu dengan dia. Jika tidak bersedia saya temui di rumah, mari buat janji temu di tempat lain. Ini penting…!!!” Lelah jiwa dan raga Alice, akhirnya penjaga pagar di rumah Abrar lah yang menjadi sasaran bentakan Alice.


Setengah berlari penjaga pos itu, masuk ke dalam rumah. Untuk menyampaikan pesan Alice. Dan benar saja, penjaga itu membawa secarik kertas, berisi alamat dan jam temu yang di tentukan oleh Soraya. Alice menerima kertas itu kemudian pulang menggunakan taksi online.


Tujuan Alice menemui Soraya tidak lain hanya ingin menyingkronkan keberadaan Kaniya. Mungkin saja Kaniya ada libur, lalu pulang ke rumah ayahnya. Walaupun itu mustahil, setidaknya ia merasa perlu berbagi kisah dengan istri kakak iparnya.


Soraya menepati janjinya. Ia datang kesebuah tempat makan yang lumayan cozy. Alice sudah datang sepuluh menit lebih duluan dari jam yang di janjikan.


“Apa kabar mbak …?” tentu Alice merasa perlu berbasa basi dengan istri Mas Abrar, walau sebenarnya, mereka bukanlah ipar yang akrab sebelumnya. Soraya terlanjur membuat jarak dan merasa tak perlu akrab dengan Abian. Baginya Abian itu jahat, karena sudah menguasai satu perusahaan suaminya. Maka, istri Abian juga menjadi penjahat di matanya.


“Baik. Ada apa …?” jawaban itu tidak sama sekali menunjukkan sisi keramahan terhadap sesama ipar.


“Maaf … mengganggu waktu mbak. Saya hanya mau memastikan. Apakah beberapa bulan terakhir Kaniya ada pulang ke Indonesia?” Alice tau, lawan bicaranya tak suka berlama-lama di depannya. Sehingga Alice langsung to the point dengan maksud dan tujuannya bertemu.


“Bukankah kamu juga ikut waktu itu mengantarnya ke Bandara. Dan juga, bukankah suami yang berjanji membiayai semua keperluannya di sana. Jadi, jika di pulang pasti engan uang yang tidak sedikit. Dan kamu salah bertanya pada saya. Tanyakan itu pada suamimu.” Ketus, itu adalah kata yang benar untuk menilai cara bicara soraya.


“Kemarin malam saya di talak Mas Bian, mbak. Jadi sangat tidak mungkin lagi untuk saya bisa berkomunikasi dengan baik dengannya.” Alice meminta simpatik dari Soraya. Dan itu berhasil membuat leher itu menoleh ke arah Alice.


“Kenapa kalian bercerai …?” Soraya tertarik dengan berita ini.


“Berawal dari kami yang tak kunjung memiliki anak, dan akhirnya kami memeriksakan kesuburan kami. Dan ternyata saya yang di nyatakan tidak subur. Sejak itu, Mas Bian tidak bersamaku. Ku kira ia hanya sedang butuh waktu sendiri. Tapi setelah sepekan, ia datang dan langsung menalak saya, mbak. Tadinya saya kira Mas Bian menginap di kantor dalam rangka perlu waktu sendiri. Tapi setelah saya croosscek, ternyata Mas Bian punya apartemen dan tinggal di sana.” Jelas Alice runtut.


“Lalu apa hubungannya kamu menanyakan tentang Kaniya …?”


Bersambung …