
Kaniya dan Abian masih bergelung dalam sebuah selimut putih yang sama. Sinar mentari menerobos masuk, di sela mana saja bisa menyapa mereka yang sudah lupa waktu. Baik Abian maupun Kaniya tidur bak orang mati. Pergulatan yang berakhir hingga dini hari tadi sungguh membuat keduanya hampir tidak bisa bangun lagi, walau hanya untuk menyapa hari yang baru.
“Masih sakit, baby …?” kecup Abian pada dua bola mata Kaniya yang baru saja akan terbuka.
“Pegel semua Dad …” Manjanya mengeluarkan suaranya
“Dad …?”
“Huum’um. Niya sudah ga mau panggil Om lagi.” Tegasnya dengan egois. Abian mendusel pucuk kepala Kaniya. Merasa senang hatinya, mendapat panggilan baru dari sang keponakan. Ralat. Sudah bukan lagi keponakan. Simpanannya. Ya, itu gelar baru untuk Kaniya.
“Bisa Niya ulang dalam keadaan sadar pagi ini, tentang Mas Abrar bukan ayah kandung Niya.” Hah … jika itu sebuah kebohonganpun sudah terlambat bukan. Mereka bahkan sudah melakukan penyatuan yang haqiqi. Lalu untuk apa Abian masih harus bertanya akan kebenaran itu.
“Tante Soraya kemarin memberikanku sebuah hasil pemeriksaan dari salah satu rumah sakit swasta. Dan benar saja dalam hasil tes DNA itu, atas nama Abrar Waluya memang tidak punya berapa persenpun sebagai ayah biologisku.” Papar Kaniya memeluk tubuh atletis Abian.
“Huh … jika ku tau itu sejak dulu. Untuk apa kita berpisah. Dan untuk apa aku menikahi Alice, yang hanya ku nikahi untuk pelarian. Lari dari rasa cinta yang sesungguhnya.” Rutu Abian mengeratkan pelukannya pada Kaniya.
“Om Abi … daddy tersayangku. Setelah ini aku ga mau pisah lagi. Aku mau jadi istri Om Abi. Aku ga papa jadi yang kedua, asal tetap bisa merasakan kasih sayang dari Om Abi.” Kaniya sungguh tak punya pikiran jernih. Yang ada di otaknya hanya cinta, cinta dan cinta. Hah … rasa itu memang sebodoh itu, bahkan ia rela menjadi yang kedua, simpanan atau apapun, asal tetap bisa merajut hari-harinya bersama pria pujaannya, bayangkan. Tidakkah kini statusnya sudah berpindah menjadi seorang pelakor betulan.
“Om akan ceraikan Alice.” Putus Abian tegas. Tidak aneh sih, sebab keduanya memang telah lama memupuk rasa indah dalam hati mereka masing-masing. Walau dengan dan tanpa silsilah keluarga yang mengikat mereka.
“Aku tak sabar menunggu waktu itu datang, Om. Niya tunggu duda mu." Tantang Kaniya dengan nada riang gembira.
Entah apa yang merasuki keduanya. Mengapa mereka seolah baru keluar dari kandang macan lalu berlanjut masuk ke kandang Singa …?
Kemarin cinta mereka terlarang akibat silsilah kekeluaragaan. Lalu sekarang cinta itu lagi lagi tak boleh bersatu, sebab Abian adalah suami orang. Rumit.
“Om minta kesabaranmu. Sebab tak bisa semudah itu menceraikannya. Banyak hal yang harus di tempuh untuk mendapat status duda, sayang.” Abian meminta penguluran waktu.
“Apapun akan ku tempuh, asalkan bisa selalu bersamamu. Satu hal yang tak ingin ku ulangi dalam hidupku Om.” Ucap Kaniya penuh kesungguhan.
“Apa itu …?”
“Berpisah dari Om Abi.” Jawabnya singkat.
“Lebih baik aku mati saja, jika harus kembali menjalani hidup ini tanpa Om Abi. Pliiis … jangan tinggalkan Niya lagi ya Om.” Rengeknya memeluk pria yang seolah sudah halal baginya itu.
Benda itu memang sempit saat pertama kali Abian menusuknya. Tapi tidak sesusah Abian menembus Kaniya. Bahkan Abian penganut kepercayaan modern, jika memecah keperawanan tidak harus selalu berdarah. Tapi … entahlah. Abian tidak berani menyimpulkan sesuatu yang belum pasti. Baginya sekarang, meladeni gadis yang selama ini memang tak pernah benar pergi dari pikirannya ini adalah yang utama.
Keduanya saling tersenyum puas. Lega dalam hati dan pikiran keduanya. Saat memilih yakin akan kebenaran hasil tes DNA yang Soraya berikan pada Kaniya.
“Setelah ini kita kemana? Apartement kita sudah siap. Maaf kemarin om keluar kota, kemudian memastikan semua fasilitasnya lengkap. Sampai Om lupa mencharger ponsel. Om juga tidur di sana semalam, lalu ke kantor dari sana. Saat di kantor baru om bisa menambah daya ponsel. Namun tetap tidak om aktifkan. Karena sibuk meeting dan berkomunikasi hanya lewat telepon kantor. Jelang pulang om baru mengaktifkan ponsel dan membaca pesanmu. Om tidak bisa bayangkan jika om datang terlambat.” Abian menajelaskan kronologis kehilangannya kemarin pada Kaniya.
“Berjanjilah hal itu tidak akan terulang saat Om sudah tinggal bersamaku. AKu tak bisa hiodup tanpa kabar darimu daddyku sayang.” Kaniya manja, masih betah bergelanyut pada tubuh yang selalu ia rindukan itu.
Bagaimana mereka bisa keluar dari kamar itu, sedangkan tubuh Kaniya masih menempel pada tubuhnya. Dan rupa mereka masih sama seperti tadi malam, polos tanpa busana. Hanya selimut putih yang membuat tampilan mereka tersembunyi.
Namun alangkah terkejutnya Abian, mendapatkan 30 panggilan tak terjawab dari nomor yang ia sematkan nama ‘My Wife’ di benda pipih miliknya tersebut.
“Pagi Sayang …” jari telunjuk Abian sudah tertempel di bibirnya menghadap Kaniya. Memberi kode agar gadisnya tidak bersuara, sebab kini ponselnya sudah terhubung dengan milik istrinya.
“Mas keluar kota?” istri mana yang tak resah. Saat pagi suami pamit pergi ke kantor kemudian ketemu pagi lagi suamimnya tidak pulang-pulang. Rumah tangga tidak sebercanda itu walau tak saling cinta bukan.
“Iya … maaf sayang. Ponselku habis daya. Dan kemarin banyak meeting, saat ponsel tertinggal di mobil. Aku malas mengambilnya. Juga sekarang Mas Abrar sedang koma di rumah sakit. Aku tidak tega tidak menungguinya.” Tingkat kemampuan berbohong Abian sudah makin meningkat. Abrar sakit saja, baru hari ini ia ketahui dari Kaniya. Boro-boro menjenguknya.
Alice bukan tipe wanita yang mudah curiga. Sebab seharian kemarin ia sudah bertanya pada sekretaris suaminya bahkan melakukan panggilan secara video call tanpa suara ia benar melihat semua gerak gerik suaminya yang sungguh sedang bekerja, bahkan benar tanpa memengan ponsel sekalipun. Sehingga ia tau, jika Abian sedang tidak membohonginya.
“Oke. Aku hanya sedang ingin pamit. Siang ini aku akan melakukan perjalanan dinas bersama divisiku, nginap 1 malam. Apa mas mengijinkanku?” pamitnya sopan.
“Tentu … boleh sayang. Tapi jangan balas keteledoranku kemarinn ya…” Abian berbicara lancar, sebab Kaniya sedang mandi.
“Apa …?”
“Jangan balas aku yang tak suka memberi kabar padamu.” Pinta Abian seolah menyesal.
“Ha …Ha … tentu saja aku selalu memberi kabar untuku. Karena aku selalu kangen kamu, suamiku.” Manis sekali kalimat itu di lontarkan Alice padanya.
Bersambung …