
Jika Kaniya dapat menghentikan waktu. Sekaranglah ia meminta untuk dunia ini berakhir saja. Sebab baginya, hari ini sangatlah indah dari sekian banyak hari yang pernah ia lewati. Demikian juga dengan penyatuannya dengan Abian. Entahlah, baginya ini adalah yang tersempurna yang pernah ia rasakan. Apakah itu di karenakan ia sedang berada dalam masa subur. Atau setelah mendengar penjelasan Abian tentang hubungannya dengan Alice. Juga kedatangan mereka ke klinik, pun hasil paparan dokter. Tak luput sebagai ulasan Abian secara rinci setelah mereka menuntaskan hasrat mereka di babak pertama.
Senyuman tak surut dari wajah Kaniya yang terus berbinar. Langkahnya terasa ringan, tubuhnya terasa melayang, walau bagian tengah badan bagian ujung masih terasa perih akibat gempuran bertubi-tubi dari seorang Abian, pemilik hati dan tubuhnya itu.
Satu ajakan yang membuat Kaniya tak henti bersyukur ialah Abian sudah memohon padanya, agar mereka secepatnya melakukan nikah siri. Semua ini bukan karena paksaan. Namun, mereka sadar yang mereka lakukan tidak mustahil akan menjadi cabang bayi. Juga untuk memperkuat alasan perceraian nantinya. Agar ada bukti otentik, jika Abian sungguh telah berselingkuh. Bahkan terstruktur dan di rencanakan dengan matang.
Sudah tak ada guna bagi Abian mempertahankan Alice. Bukan karena ia jijik dan munafik. Tapi, ia sungguh menyadari, betapa hatinya tersiksa saat Kaniya mengambil sikap beberapa bulan terakhir. Abian mengaku, ia tak dapat hidup tanpa Kaniya.
Bahkan Abian memohon pada Kaniya, agar gadisnya itu menjaga jarak dengan Tian. Ia tidak menyalahkan Tian atau Kaniya yang terlihat akrab. Semua yang Kaniya lakukan pada Tian, mungkin itulah yang tidak pernah ia berikan pada Kaniya. Untuk itu, Abian membuka maafnya untuk kedekatan Tian dan kaniya.
“Babby … berjanjilah hanya aku satu-satunya lelaki yang boleh menyentuhmu. Kamu hanya milik aku sayang.” Abian kembali meminta pada Kaniya.
“Om belah saja dada Niya. Semua isi hati Niya hanya ada Om Abi. Tidak ada Tian dan siapapun. Berilah aku kepercayaan, bahwa aku hanya cinta pada Om.” Kaniya meyakinkan. Walau sesungguhnya ia pun sempat oleng. Sempat merindukan sosok Tian, saat Abian tak tergapai. Apakah kadar kesetiaan Kaniya Masih 100% untuk Abian. Lagi … hanya Kaniya yang tau.
Sekretaris Abian sudah menjalankan tugasnya. Pagi itu Vinda sudah kerumah Abian untuk mengambil beberapa setelan pakaian kerja juga rumahan untuk Abian sesuai pesanannya. Alice pun ikut menyiapkannya. Sebab ia sungguh merasa bersalah atas hasil pemeriksaan kemarin.
[Sayang … tenangkan saja dulu dirimu. Aku akan terus menunggu maafmu sampai kapanpun kamu akan pulang] chat Alice dengan mata yang masih bengkak. Namun tak mendapat balasan dari Abian.
Alice tidak mengira masa lalunya akan menjadi boomerang. Salahnya adalah, ia tidak jujur pada Abian. Juga … mestinya ia melakukan pemeriksaan itu sendiri saja terlebih dahulu, kapan perlu melakukan kualisi terlebih dahulu dengan dokter itu, agar tidak sejujur itu memaparkannya di depan sang suami. Namun nasi sudah menjadi bubur, tinggal tambah ayam, telur , kuah dan kerupuk saja. Agar lebih nikmat dan layak untuk di syukuri dan nikmati.
[Om kamu menghajarmu habis-habisan, pasca melihat kita berdua kemarin] Giliran Tian yang uring-uringan. Jujurly ia merasa tak enak seperti ketangkap basah bersama calon istri orang itu.
[Iya. Aku di hajar Om Abi. Entah berapa ronde, sampe pagi ini rasanya badanku pegel semua, bagian itu juga perih] balas Kaniya sambil terkekeh.
[Dia melakukan KDRT terhadapmu. Ayok kita visume, biar kita laporkan dia ke Polisi] ajak Tian yang sebenarnya ingin melompat dari balkonnya, untuk hinggap di balkon Kaniya, untuk memastikan keadaan tetangganya itu, pasca di aniyaya Abian.
[Ga usah di visume. Ga ada memar kok, ada sih merah-merah itu bekas di isep-isep.] ada emot ngakak di ujung katanya.
[Huh … kirain KDRT beneran.] Tian memasang emot berwarna merah mewakili rasa kesalnya.
[Kenikmatan Dalam Rumah Tangga, Tiaaaaan] balas Kaniya sambil mengulum senyumnya.
[Kebanyakan antrian, bingungkan mau panggil yang mana. Ujung – ujungnya yang datang hanya Bi Sitah] ketik Kaniya yang menghabiskan hari ini dengan berleyeh-leyeh saja di tempat tidur, sesuai dengan pesan Abian yang kini tengah pergi ke kantor dan menyiapkan segala sesuatu untuk besok mereka menikah secara siri.
[Kaniya … ternyata Bi Sitah itu operasi usus buntu, jadi beliau tidak bisa segera bekerja. Jadi hari ini, temannya itu yang datang bekerja di sini. Namaya Bik Ipeh. Dia ada masak, kamu mau?] lagi-lagi Tian menawarkan Kaniya makanan. Bukankah Kaniya tidak sanggup melakukan aktivitas berat, akibat percintaan semalam. Dan tawaran makan dari Tian itu sayang untuk di lewatkan.
[Aku minta ijin Om Abi dulu ya. Aku tak mau kami salah paham. Oh iya, besok kami akan menikah secara siri. Dan untuk secara resminya,akan kami langsungkan setelah akta cerai mereka terbit.] jelas Kaniya masih melalui room chat mereka.
[Ya baguslah. Setidaknya jika kamu hamil anak itu ada bapaknya, walau hanya manikahimu secara agama saja.] Tian mendukung kesepakatan Abian dan Kaniya itu. Menurutnya itu benar, ketimbang Kaniya di ombang-ambingkan dalam hubungan yang tidak jelas.
“Om Abi … aku lapar.” Rengek Kaniya melalui panggilan suara. Tepat saat meetingnya selesai.
“Mau Om jemput, kita makan di luar?” tanya Abian yang tak luput dari perhatian sekretarisnya. Dan ini adalah kali pertama Abian melakukan obrolan telepon tanpa sembunyi-sembunyi lagi.
“Tian punya makanan. Pembantunya memasak di sebelah. Apa aku boleh makan di situ saja. Kalo tunggu Om ke sini, akan banyak makan waktu.” Jawab Kaniya meminta persetujuan.
“Tian punya pembantu …?” tanya Abian memastikan jika nanti Kaniya makan bersama Tian, akan ada orang ketiga sebagai saksi jika saja mereka akan melakukan hal di luar batas.
“Iya … kemarin namanya Bi Sitah. Tapi yang itu lagi sakit. Sekarang Bik Ipeh, sudah buatkan makanan. Gimana Om, boleh ya …?” rengek Kaniya meminta persetujuan.
“Hanya makan ya babby. Kalo perlu kamu minta lauknya saja, kemudian makan di unit kita.” Tegas Abian mengijinkan namun bersyarat.
“Iya daddy. Niya cuma kelaparan karena ulahmu.” Kekehnya renyah, membuat Abian tidak bisa menolak permintaannya.
“Sampai jumpa di rumah cintaku. Muuaach” Abian abai dengan tatapan bingung Sekretrisnya. Tak pernah ia melihat bosnya itu semesra tadi berkomunikasi pad Alice sekalipun. Otak Vinda segera berputar-putar mengaitkan sesuatu. Bukankah tadi pagi ia di suruhmengambil bebrapa pakaian kerja untuk Abian, seperti akan pergi berhari-hari lamanya dari rumah. Lalu, mengapa kalimat penutup itu mengisyaratkan sebuah pertemuan. Mumet.
“Mana Bik Ipeh nya …?” Kaniya sudah celingukan saat sudah di dalam unit Tian.
“Baru saja pulang, kamu ga ketemu dia di luar?’ Tian balik bertanya. Dan Kaniya hanya menggendikkan bahunya, tak tau juga tak perduli.
Bersambung …