LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 50 : KEBELET MANTU



Kamar yang di tempati oleh Sitah, Veronia juga Denoya itu sebenarnya hanya cukup untuk tiga orang. Itupun dengan ukuran tubuh yang tidak besar. Dan saat kini Kaniya dan Abian memilih tempat itu untuk menumpang, tentu saja keadaan di dalamnya sangat tidak nyaman. Sumuk.


“Bik Sitah mau kemana?” tanya Kaniya saat hanya sebentar ia melihat wanita itu masuk, mandi kemudian terlihat berpakaian rapi kembali.


“Saya mau ke rumah sakit Non. Ibunya Tuan Tian di Opname. Gula darahnya tinggi, dan tuan sedang di luar Kota. Mungkin saya menginap di rumah sakit saja, silahkan pakai tempat tidur saya ya Non.” Jawab Sitah nampak tergesa.


“Oh … terima kasih Bik. Heem … mengapa bibik yang jaga, Tian ga punya sodara?” Kaniya agak kepo kalau menyangkut urusan Tian.


“Ada … tapi jauh semua. Mereka itu keluarga militer semua. Kakak tertuanya seorang Kapolda, bibik lupa di daerah mana. Adiknya yang perempuan juga seorang Polwan yang sudah menjadi istri Kapolres, di sebuah Kabupaten, di Kalimantan. Kalau tidak salah. Hanya mas Tian yang tinggal sekota sama ibunya, dan belum menikah. Makanya agak repot dia membagi waktu untuk negara dan orang taunya yang sisa satu itu.” Jelas Bik Sitah terang benderang.


Kaniya hanya manggut-manggut. Ternyata Tian malah sejujur itu mengatakan identitasnya pada ARTnya. “Mungkin tampangku memang kriminal, sehingga Tian merasa tak perlu jujur denganku saat kami berkenalan.” Gumam Kaniya dalam hati. Merasa sangat tertipu bahkan oleh seorang yang berprofesi sebagai pengayom masyarakat itu.


Hari berlalu, Kaniya lumayan betah berada di Kota dan tinggal di kamar kontrakan itu. Ingin menyewa kamar hotel. Itu tidak mungkin. Sebab menabung untuk biaya melahirkan jadi prioritas mereka sekarang.


Sudah dua hari Abian mengintai rumah Abrar, sekedar untuk memastikan. Apakah kakaknya itu sungguh masih berada di sana. Sedangkan untuk datang secara baik-baik itu sudah jelas tidak mungkin. Sebab, cukup satu kali Abian hanya sekedar berdiri saja di depan pagar, ia sudah di usir. Dan itu membuat Abian putus asa.


“Maaf merepotkan Bi Sitah. Pekerjaan saya sungguh tidak bisa di tinggal kemarin.” Itu suara si charming Tian, yang sudah berada di ruang rawat inap ibunya.


“Makanya punya istri dong, Tian. Supaya mama ada temannya kalau kamu tinggal dinas. Mama sudah tidak mungkin kawian lagi hanya untuk mencari teman ngobrol kan.” Oh sifat gokil Tian itu dari sang ibu rupanya, yang cara bicaranya begitu gamblang dan sedikit gesrek.


“Mama pikun kalo mau kawin lagi. Mang masih mau? Nanti Tian cari Jendral deh, kali ada yang jombloh." Kekeh Tian meledek ide sang mama.


“Segala cari Jendral. Anaknya donk, buat jadi mantu mama. Lumayankan, mama tuh mau punya menantu yang bisa temani mama Tian. Masa tiap kamu ga ada, bik Sitah aja yang kamu kirim buat mama. Jangan bilang bik Sitah ini calon menantu mama.” Kekehnya mengedipkan mata ke arah Sitah yang juga sangat paham dengan sikap tengil mama si charming. Mereka cocok kan.


“Kita harus samakan persepsi dulu kayaknya Ma soal menantu atau istri Tian." Tian sok serius.


"Mau di carikan yang akan menua bersama Tian selamanya, atau yang akan menjadi teman mama di kala kesepian?” tanya Tian menarik kursi ke tepain bed pesakitan, tempat mamanya di infus.


“Ya keduan-duanya." Jawabnya dengan suara agak nyaring. Boleh di cek, itu tensi pasti meninggi.


"Itu bukan pilihan Tian.” Jawab mamanya dengan mulut yang sengaja di buat cemberut.


“Oke Fix … mama ijinkan Tian punya istri dua ya? Satu untuk menemani kesepian mama. Dan satunya lagi spesial buat Tian aja.” Tuh kan, emak sama anak memang sama somplaknya. Ga mencerminkan banget jika mereka keluarga militer yang terkanal sangar juga jaga imej. Cukup antik dan perlu di lestarikan deh.


“Ya ga gitu juga. Huuuft.” Sang mama buang muka.


“Bik Sitah … maukah kau menjadi istriku. Untuk membunuh rasa sepi yang kadang melanda hati ibuku. Menemani dalam suka juga dukanya saat ku tinggal dinas keluar kota. Berjanjilah kau akan selalu setia menemaninya kala susah dan senang suasana hatinya.” Kini Tian menghadap tubuh kurus di belakangnya. Hal itu membuat kerah baju Tian di tarik sang mama dengan penuh tenaga.


“Ha … ha … bercanda Bik. Dan saya tarik lamaran barusan.” Kekehnya mencium kening sang mama.


“Terima kasih mau di repotkan menjaga mama ya Bik.” Ujar Tian yang sudah menganggap Sitah seperti orang tuanya sendiri.


“Ga repot kok Tuan. Malah bibik enak tidur di RS. Karena di kontrakan sedang adan non Kaniya dan suaminya, jadi sempit.” Sitah curhat pada Tian.


"Kaniya ... Kaniya ada di sini Bik? Bukannya bibik bilang dia sudah pindah ke desa?" leher Tian berputar 180 derajat . Dari yang tadi menatap sang ibu, kini sudah persis menghadap asal suara berasal.


"Iya tuan Tian. Persis saat tuan minta bibik jaga mamanya Tuan." Jelas Sitah dengan sungguh.


"Oh ... " Tian kehilangan segudang pertanyaan. Entah kenapa, otaknya mendadak kosong saat tau mantan tetangganya itu, sekarang ada di Kota itu kembali.


"Emang Kaniya itu siapa?" Mama Tian kepo dong. Masa diam-diam bae.


"Itu ... Mantan tetangga di apartemen Tuan." Jawab Bik Sitah mewakili Tian.


"Oh ... Yang rambutnya sebahu, hitam dan bervolume itu. Cantik. Mantan tetangga, atau menantu gagal sih?" Mama Tian tampak bersemangat menggoda putranya yang mengaku masih jomblo itu padanya.


"Mama pernah kenal Kaniya ...?" tanya Tian agak heran.


"Kenalan sih tidak. Cuma pernah melihatnya saja, sebentar. Waktu dia di balkon. Mama ingin menyapa sebenarnya. Tapi, dia tampak sedang serius membaca. Sampai tak sadar, jika mama lama melihatnya di sana." Jelas Mama Tian rinci.


"O ..." lagi lagi, Tian hanya ber O saja. Menerima info.


"Calon mantu mama ?" tebaknya asal tanpa dasar.


"Tidak ma. Kaniya itu istri orang." Tegas Tian cepat, dia tak mau sang mama terjebak dalam praduga yang lebih beraroma tuduhan.


"Ya ... Kan kamu juga orang Tian." Yess... Cuek banget tuh emak.


"Huuh ... Dasar emak emak kebelet mantu. Kaniya itu istrinya Abian. Mereka penguni di unit sebelah apart Tian, mama." Tian wajib memberi keterangan dengan jelas dan benar. Bisa sajakan, setelah ini mamanya akan halu tentang Kaniya yang ternyata sudah pernah ia lihat.


"Kamu suka dia?" Kenapa pertanyaan itu harus di tanyakan sang mama. Ini tuh, ga ada pilihan jawabannya. Sama seperti Kaniya yang tak punya pilihan lain tentang cowok. Yaitu Abian seorang.


Bersambung ....