
Kaniya menghirup udara sekitarnya dalam-dalam. Demi mendapatkan rasa tenang dan nyaman, setelah berhasil mengelabui para pengantarnya tadi di Bandara. Kaniya yang bertingkah sungguh akan bertolak ke London untuk melanjutkan kuliah mengejar cita-cita, demikian konsepnya. Bahkan kejadian hari ini telah berhasil membuat Lidya adik tirinya itu sirik. Dan akan bertekad di tahun depan juga akan menyusul berkuliah di sana, tepat selepas ia lulus Sekolah Menengah Atas.
Kaniya sudah berada di apartement yang di belikan Abian. Jelas terlihat di sana, ada bekas tanda-tanda kehidupan yang tersisa oleh penghuni sebelumnya. Abian yang selalu suka dengan kopi instan menyisakan sampah plastik ditempat pembuangan di dapur mini apartemen itu.
Ah … baru beberapa jam tidak betemu, Kaniya merasa sudah di serang rasa rindu lagi. Entah bagaimana pengaturan waktu mereka nanti, agar segala rasa rindu itu tidak menganggu pekerjaan masing-masing. Terlebih merusak rumah tangga Alice dan Abian nantinya.
Tapi, tunggu. Untuk apa menjaga keharmonisan rumah tangga Abian dan Alice. Bukankah Abian berjanji akan menceraikan istrinya demi bisa selalu bersama dengan Kaniya gadis kecil kesayangannya. Bukan gadis kecil lagi sih, bahkan sudah tidak gadis lagi.
[Baby … hari ini, daddy ga ke appart. Maaf banyak pekerjaan] isi chat dari nomor asing yang Kaniya yakini adalah milik pria pujaannya.
[Daddy nomor baru?] Kaniya ingin memastikan.
[Yess babby. Ponsel ini akan dad simpan di kantor saja. Khusus untuk menghubungimu. Untuk mengantisipasi kecurigaan Alice] Huh … katanya mau ceraikan Alice, kenapa perlu menghindari kecurigaannya. Hal ini lumayan mengusik pikiran Kaniya.
Tidak, hal ini tidak lantas membuat Kaniya berpikir yang bukan-bukan terhadap Abian. Kaniya itu cinta mati pada abian. Apapun nanti yang akan jadi pengaturan Abian pasti selalu ia setujui dan ia jalani dengan penuh kesadaran dan ikhlas hati.
***
Di rumah sakit, nampak Abrar sudah menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Dengan penunjukan ke arah yang baik itu. Dokterpun menyarankan untuk di lakukan operasi untuk membersihkan saluran pembuluh darah yang tersumbat. Hal ini di anggap remeh oleh Soraya, bahkan ia mulai jarang menjenguk suaminya ke rumah sakit.
Beruntung Abian bukanlah adik yang tak tau diri, ia selalu memantau dan memastikan jika Soraya tidak ada maka ia yang datang ke rumah sakit tersebut. Inginnya Abian, Abrar lekas sembuh adalah untuk memastikan sebuah kebenaran tentang status Kaniya. Namun, itu terlampau berat di tanyakan saat keadaan Abrar yang tidak stabil. Juga ia selalu bersama Alice saat ke rumah sakit.
“Mas, Kaniya sudah berangkat ke London. Maaf dia tidak sempat pamit. Eh … sebenarnya ada pamit, tapi saat Mas belum sadar.” Abian mencoba berkomunikasi pada Abrar yang saat itu belum bisa merespon secara verbal. Hanya matanya yang terlihat ia buka dan tutup, lalu mengeluarkan air di sudut matanya.
“Mas akan segera di operasi ya, supaya cepat pulih. Jangan banya pikiran, apalagi memikirkan soal dana. Semua biaya biar jadi urusan ku. Yang penting mas lekas sehat.” Abian mengucapkan itu dengan penuh kesungguhan. Alice terharu dengan kebaikan hati suaminya. Ia tepuk halus bahu suaminya, ia tahu Abian sangat sayang pada Abrar. Pun Abrar yang telah berjasa dalam menuju kesuksesannya sekarang. Wajar saja jika Abian ingin berbakti pada kakaknya. Bukankah, Abrarlah kini satu-satunya orang tua Abian. Setelah mereka tak memiliki ayah juga ibu mereka.
Abian adalah sosok pekerja keras, dia tidak pernah main-main dalam hal bekerja dan metaih keuntungan. Abian juga sosok CEO yang humbel juga adil terhadap semua pegawainya. Semua tindak tanduk Abian tersebut, tidak pernah lepas dari pantauan Alice. Ia tau, suaminya adalah pemimpin yang baik, juga tidak ada tanda-tanda bermain serong di belakangnya. Alice justru merasa malu akan tingkahnya di masa lalu. Untuk itu, Alice sedang ingin belajar menjadi istri yang baik untuk Abian.
“Alice … maaf. Jika keputusanku membiayai Mas Abrar tercetus begitu saja tadi. Ku harap kamu tidak keberatan.” Keduanya sedang makan siang di luar, setelah menjenguk Abrar dan berkonsultasi dengan dokter dan rumah sakit, perihal tindak lanjut pengobatan Abrar.
“Sayang … aku malah bangga memiliki suami sebaik kamu. Kamu sangat tau berbalas budi pada Mas Abrar. Sudah semestinyaMas begitu pada Mas Abrar.” Alice menepuk punggung tangan suaminya.
“Tapi, nantinya akan banyak pengeluaran kita, sayang.” Huh … aktor kawakan sedang memainkan perannya lagi dengan apik. Padahal pengeluaran itu tida hanya untuk Abrar, bukankah kemarin ia sudah habis banyak untuk membeli satu buah unit apartement.
“Uang bisa kita cari, aku juga bisa bantu dalam hal mengumpulkan pundi-pundi keuangan kita. Tetapi berhasil memanjangkan umur dan membuat sehat orang yang kita hormati, sayangi bahkan berjasa pada kita itu, adalah sebuiah kesempatan. Dan itu tidak akan berkali-kali datangnya.” Alice fix, adalah istri yang tidak memiliki cacat cela. Cantik, berpendidikan, wanita karier juga. Semua impina wanita pada umumnya ada pada Alice, sebenarnya hanya suami bod0h yang akan berpaling dari wanita type ini.
Dan Abian termasuk dalam kategori suami bod0h itu. Bukan tanpa sebab, bukan juga karena Alice memiliki kekurangan. Sebab masalah itu bermuara pada hatinya sendiri. Hati yang terlanjur termiliki oleh orang terdahulu. Si penunggu hati yang tiba-tiba berstatus halal untuk di cinti, sebab itu bukan lagi keponakannya.
Alice menatap Abian yang gelisah dalam dua hari ini. Ia jarang melihat wajah suntuk sang suami. Bahkan waktu senggang yang kadang mereka habiskan bersama sambil menyeruput teh melati dan beberapa biskuit sepulang kerja di teras rumah pun. Tak mampu mengusir gundah di wajah Abian.
“Mas sedang banyak pikiran?” Alice mencoba menggali keresahan sang suami.
“Heem … tidak.” Bohong Abian.
“Kita sudah terlalu lama menghabiskan waktu bersama. Bahkan proposal Tesis mu yang di tolak dosen beberap atahun lalu saja tidak membuat raut wajahmu semuram ini, sayang.” Alice sungguh sedang memperhatikan wajah tampan suaminya.
“Yess… proposal tesis kemarin bahkan hanya dalam waktu singkat dapat ku revisi. Tapi bagaimana dengan nrasa rinduku pada Niya. Ini sudah haru ke tiganya tinggal di apartement sendirian, tanpa ku jenguk.” Tentu saja ini hanya terucap dalam hati Abian. Mustahil bukan jika ini tersuara dan di dengar oleh Alice. Bisa-bisa besok Abian sungguh akan menjadi duda.
Bersambung ….