
Soraya sudah pernah mengumpat, memaki, menyuarakan sumpah serapah pun sering, pada suaminya perihal kepergian Kaniya ke London. Abrar juga sebenarnya sudah menyampikan jika, yang membiayai Kaniya bukan dia. Mleiankan Abian, adiknya.
Namun Soraya tidak percaya.
“Mas … aku tidak bodoh. Membiayai kuliah di dalam negeri saja bikin pusing apalagi di luar negeri. Lalu Mas kira Alice itu patung? Yang setuju saja jika suaminya akan membiayai semua kebutuhan keponakannya? Mikir Mas, mikir.” Soraya dengan berapi-apinya memberikan argumentnya pada suami yang seolah berada di persimpangan. Antara ingin menyayanyi anaknya juga tidak mau mengecewakan istrinya.
“Mom … kamu punya notifikasi pengeluaranku. Kamu bisa keloka keuanganku semuanya. Dan aku tidak ada menyembunyikan satu rekening pun darimu. Jadi kamu bisa pantau, jika nanti aku banyak mengeluarkan uang untuk Kaniya.” Abrar masih mencoba meyakinkan istrinya.
“Untuk apa di pantau, toh akan banyak cara untukmu menyayangi anakmu itu.” Suara Soraya tidak pernah pelan jika menyangkut urusan Kaniya. Soraya benci anak suaminya itu, bahkan tanpa sebab. Benci dan cinta memang beda tipis. Kedua rasa ini bahkan bebas muncul tanpa alasan yang tepat di hati orang-orang yang ingin memeliharanya.
“Lalu kamu maunya apa?” tanya Abrar dengan suara pelan. Lelah sesungguhnya jiwanya menekan kebencian istrinya pada anak kandungnya ini. Tapi, ia terlalu di manjakan selama ini sehingga begitu besar kepala dan tidak pernah mau mengalah, bahkan pada suaminya sendiri. Soraya bukan wanita yang manis dan penurut lagi. Jauh berbeda seperti masa ia mengoda Abrar sewaktu ia sebagi sekretaris yang sangat patut ia andalkan saat ia masih terikat pernikahan dengan Veronia, mama kandung Kaniya.
“Jangan ijinkan dia pergi. Kaniya harus tetap kuliah di sini saja. Anakmu nanti besar kepala, jika semua keinginannya kamu penuhi. Perusahannmu sedang tidak baik-baik saja. Terlalu sombong dan tidak tau diri anakmu itu, meminta kuliah di Luar Negeri.” Tegasnya dengan bengis.
“Kaniya tidak pernah minta apapun dengan ku, mom. Bahkan saat kita liburan pun dia tidak pernah ikut serta. Kali ini saja … aku menuruti keinginannya, bahkan semua biaya di sanggupi oleh Abian.” Pembelaan Abrar untu Kaniya. Dan kali ini Soraya tak berhasil membujuk suaminya.
Maka otak liciknya pun segera berputar. Untuk memikirkan hal untuk tetap menggagalkan kepergian Kaniya ke London. Dan mungkin sudah waktunya Soraya membula sebuah tabir yang di simpannya selama ini. Sebuah hasil DNA yang menyatakan jika Kaniya bukanlah anak biologis Abrar suaminya.
Tujuan Soraya membuka ini adalah agar Kaniya tau diri. Dan berhenti menganggap Abrar adalah ayahnya. Sehingga ia patut di tendang dari rumah kediamana Abrar. Menyusul Veronia yang sudah sukses ia singkirkan atas tuduhan perselingkuhannya dengan sang mantan. Sempurna bukan?
Mestinya Kaniya senang dengan kebenaran ini. Bukankah selama ini ia di hantui rasa takut saat jatuh cinta pada Abian saudara ayahnya. Lalu hasil tes DNA ini justru menyatakan jika ia bukan anak Abrar. Ini adalah sebuah keajaiban bagi Kaniya. Namun tetap wajib ia konfirmasikan pada sang ayah.
Braakh…
Kaniya menendang paksa pintu kamar ayahnya. Gerakan itu terlampau cepat dan kuat. Sehingga Soraya terjatuh di depan pintu yang berhasil terbuka paksa oleh Kaniya.
“Aya …” Suara Abrar terkejut melihat tubuh Soraya yang sempoyongan di depan pintu kamarnya.
“Maaas, anakmu memaksa masuk. Padahal sudah ku katakan jika Mas sedang istirahat.” Rengek Soraya memelas.
“Kaniya … apa kamu sudah tak tau tata krama? Ketuk saja pintunya, mengapa sampai menendang istri papa begini?” Hardik Abrar pada anaknya, Kaniya.
“Istri papa itu jatuh sendiri. Aku tidak menendangnya. Yang kaniya tendang tadi, pintu. Bukan dia. Dasar lebay…!” Seru Kaniya tak mau kalah nyaring.
“Kamu kira papa buta, hah?” Abrar tentu membela sang istri.
“Siapa yang bilang papa buta …?” Kaniya emosi saat sang ayah tidak membelanya.
“Orang tua sendiri …? Siapa yang berbohong di antara kalian? Katakan Pa … kata wanita ini bahwa Abrar Waluyo bukanlah ayah biologisku.” Kaniya tak berbasa-basi. Bahkan ia tak menunggu waktu untuk berpikir dengan kepala dingin lagi. Ia tak sabar menagih sebuah kebenaran.
“Hah … apppp … pa?” Abrar memegangi jantungnya yang mendadak ngilu. Tak pernah ia menyangka putri tunggalnya berkata kasar, nyaring bahkan menanyakan hal tersebut dalam suasana yang tak ia duga.
Abrar ambruk, tak sanggup jantungnya menerima tuduhan dari Kaniya. Mendadak pingsan di atas lantai, tergeletak begitu saja tak bergerak.
“Puas … puas kamu sekarang melihat suamiku pingsan karena pertanyaan konyolmu?” Soraya tak langsung menolong suaminya. Melainkan lebih memilih mencengkram krah baju yang Kaniya pakai. Menantang gadis berusia hampir 23 tahun di depannya. Menuduh jika keadaan suaminya demikian karena ulah anak tirinya tersebut.
“Papa … papa.” Kaniya mendorong Soraya lalu menunduk untuk mengguncang Abrar yang tersungkur di lantai.
“Tolooooong … tolong.” Teriaknya menarik perhatian siapapun yang ada dalam rumah untuk segera menolong ayahnya.
Para penghuni rumah pun geger, mencari sumber suara yang nyaring meminta tolong. Semetara Soraya terlihat sibuk menangis di sisi tempat tidur mereka agar terlihat linglung karena suaminya pingsan.
Tiga puluh menit adalah waktu tercepat bagi mereka melarikan Abrar kerumah sakit terdekat. Dan papa Kaniya segera mendapatkan penanganan yang tak kalah cepat dari tim mmedis yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat tersebut.
Kaniya tak hentinya memohon pada sang pencipta, agar papanya selamat. Mama tak ada, papa pun kini terbaring dengan alat medis yang sembrawut di atas permukaan kulitnya. Ada yang di tancap di hidung, ada di tangan, ada pula di permukaan dadanya, Kaniya sedih atas pemandangan tersebut. Sementara Soraya tak menampakkan batang hidungnya di sana. Entah syok sungguhan atau memang senang melihgat suaminya tiba-tiba pingsan di dalam kamarnya tadi.
“Keluarga pasien Abrar Waluyo …” Suara dari balik tirai yang menanggani papa Kaniya.
“Saya …” Kaniya maju mendekati bagian itu.
“Saya anaknya.” Kaniya memberi keterangan hubungan kekerabatannya dengan pasien.
“Oh … ayah anda terserang stroke. Tekanan darah beliau sangat tinggi. Dan hal itu menyebabkan pembuluh darahnya kaku di daerah otak dan jantungnya.” Jelas pria berseragam atas jas putih itu di balik masker hijaunya.
“Apakah itu sangat berbahaya dokter?” panic Kaniya.
“Kita perlu pemeriksaan lebih lanjut, dengan CT scan. Agar lebih jelas .” Terang pria itu pada Kaniya.
“Tolong dokter … lakukan apa saja yang terbaik untuk papa saya.” Pinta Kaniya dengan genangan air mata pada netranya.
Tak banyak kata, dokterpun melakukan tugas sesuai porsinya. Segala persyaratan rumah sakit pada umumnya pun Kaniya lakukan untuk sang papa. Dan malam itu sungguh hanya ia sendiri di sana, untuk menunggu hasil dengan perasaan cemas yang amat berlebihan.
Bersambung ….