
Kaniya tidak sadar atau memang tidak perduli akan kehadiran suami yang duduk di sebelahnya, saat ia melakukann panggilan suara dengan Tian mantan tetangganya itu. Bagaimanapun singkatnya kebersamaan mereka, tapi itu cukup berpengaruh besar terutama bagi Kaniya.
Kehadiran Tian di unit sebelah sangat banyak menghibur juga membantu Kaniya dalam segala hal. Termasuk mengungkap hubungan Alice dan Abian. Juga tak lepas dari bantuan Tian yang kadang resek, bermulut tajam namun selalu menggemaskan bagi Kaniya.
Hati Kaniya mendadak mendung saat tau ternyata masakan favoritnya bukan buatan Bi Sitah tapi orang lain. Bagaimana ia bisa mendapatkan makanan itu.
“Itu yang buat Bik Ipeh.” Jawab Tian datar.
“Tapi mereka semua bisa di hubungi kan, tolonglah Tian. Kamu kan baik hati, tidak sombong dan suka menolong.” Kaniya melancarkan rayuan recehnya. Agar Tian luluh dan mau membantunya.
“Sudah ga usah merayu. Sudah ku kirim dua kontak para bibik-bibik itu. Maaf ga bisa bantu banyak, soalnya tidak berada di tempat yang sama.” Kelakar Tian dengan gaya khasnya dengan Kaniya.
“Terbaik … makasih banyak ya. Kalo pulang, jangan lupa mampir ke unitku.” Kaniya ingin mengatakan, jika ia kangen kebersamaan mereka di unit saat ia dan Abian masih perang dingin. Tapi itu jelas tidak mungkin. Menyuarakan itu sama saja dengan menggali kuburannya sendiri bukan. Sebab Abian sudah sepeeti pak Raden mengawasi anaknya pacaran di teras rumah.
“Pasti … aku pasti mampir. Sebab, menu favorit itu hanya modus. Karena Intinya, kamu hanya sedang merindukan aku.” Panggilan suara ini aman, hanya dapat di dengar oleh Kaniya. Berbeda dengan VC yang bisa di dengar orang sekitar.
“Aseeeem.” Panggilan itu akhirnya berakhir. Dan kata itu juga tak luput dari yang ingin Tian dengar dari mulut Kaniya, tetangga sebelah unit. Simpanan Om-Om, yang sudah naik tahta menjadi istri satu-satunya.
“Itu Tian …?” tanya Abian yang sejak tadi memang sudah tak sabar ingin tau.
“Iya … akhirnya ponselnya aktif juga. Dia sedang liburan di daerah pedalaman yang minim signal.” Jawab Kaniya tanpa menatap suaminya. Sebab jarinya cukup sibuk menyimpan nomor kontak yang di kirim Tian untuknya.
“Dadd … coba lihat ini.” Kaniya terperanggah. Saat menyimpan kontak bertulis Bik Ipeh kiriman Tian tadi.
“Ada apa …?” melihat wajah Kaniya yang memucat, Abian juga kehilangan daya ingin cemburu atau sekedar membahas ke akraban obrolan Tian dan Kaniya tadi.
“Kenapa pic pfofil ini mirip mama.” Kaniya menzoom pic yang tertera di ponselnya.
“Hah … ini sangat mirip dengan mbak Vero. Istri mas Abrar kan.” Abian tidak akrab dengan Veronia istri kakaknya. Sebab hanya sesekali saat lebaran saja bisa bertemu kakak iparnya yang cantik itu. Dan Kaniya benar, wajah dalam profil itu mirip dengan Veronia yang ia kenal. Hanya bedanya, dalam pic ini, wajahnya tampak menua, tentu lapuk di makan usia. Tapi garis wajahnya hampir sama. Profil itu adalah foto wanita yang sedang memeluk seorang remaja laki-laki. Tapi, kenapa Abian seakan melihat wajah Abrar di masa muda di wajah itu.
“Dad … apakah bik Ipeh yang Tian maksud ini mama …? Lalu anak laki-laki ini siapa? Mengapa aku seperti melihat garis muka yang mirip dengan papa Abrar?” Kaniya terbata. Tak berani otaknya overthingking. Ia ingat pesan dokter kandungan. Bahwa ia tidak boleh stres. Tapi … kenapa semakin ia pejamkan matanya, semakin foto itu membayang di pelupuk matanya.
Kaniya kembali menghubungi Tian, berharap mendapat informasi seputar bik Ipeh. Setidaknya ia tau nama asli ART Tian lah. Agar malam ini ia bisa tidur nyenyak. Berharap mendapat makanan kidaman, justru menambah beban pikiran yang bergelanyut aneh di dalam otaknya.
Sayangnya, ponsel Tian kembali tidak aktif. Orang itu memang sedikit gaib. Sesukanya saja memati dan menghidupkan ponselnya. Tidak perduli dengan orang yang mungkin berkepentingan dengannya.Tapi begitulah Tian. Yang saat setiap bersama dengan Kaniya memang jarang terlihat memegang ponsel. Tian selalu mengutamakan lawan bicaranya saat tatap muka. Dan tidak melayani panggilan telpon dan chat, kecuali saat genting. Itu pun selalu menjauh saat ngobrol.
Kaniya mencoba menskip urusan terkaannya pada Bik Ipeh. Yang harus ia lakukan adalah melakukan panggilan pada Bi Sitah. Sebab, ia memang pernah kenal dengan Sitah ketimbang Ipeh.
“Iya non Kaniya, apa kabar?”
“Baik Bi. Bibik apa kabarnya sehat? Gimana pasca opersi usus buntunya?” Kaniya ingat kabar terakhir Bi Sitah adalah pasien pasca Operasi usus buntu.
“Ya … bibik sudah sehat Non.” Jawab Sitah sopan.
“Bik … Niya kangen masakan bibik. Bisa ke unit Niya, besok?” Kaniya langsung to the point.
“Wah maaf Non, bibik sedang pulang kampung. Orang tua bibik meninggal.”
“Turut berdukacita ya Bik. Maaf mengganggu.” Jawab Kaniya seketika ikut sedih.
“Iya terima kasih. Kalau teman bibik apa boleh masak untuk Non Niya?” tanya Sitah pelan.
“Niya sedang hamil Bik. Maunya makan masakan yang bias bibik buatkan.” Kaniya memilih jujur, agar mendapatkan makanan kidamannya.
“Wooh … itu sambal goreng hati dan pete kan Non. Itu yang buat ya Ipeh, teman bibik. Besok, bibik suruh dia kerumah non Niya ya, masak buat non Niya.” Bi Sitah paham dengan clue kaniya sedang hamil. Ia tau, itu adalah selera ngidamnya ibu hamil.
“Apa tidak merepotkan Bik …?” tanya Kaniya.
“Tidak … tentu saja tidak. Saya dan Ipeh memang selalu berbagi rejeki, berupa uang dan pekerjaan Non. Apalagi Ipeh sekarang sedang butuh uang untuk persiapan anaknya tahun depan mau masuk perguruan tinggi.” Jelas Bik Sitah pada Kaniya.
“Oh iya deh Bik, tolong sampaikan pada Bik Ipeh. Besok ke apartement Niya ya.” Pinta Kaniya sopan.
Sesekali kaniya melihat lagi pic profil bernama bik Ipeh di ponselnya. Hati kecilnya yang berkata jika wanita itu adalah mama kandungnya. Segera melelapkan diri, agar pagi segera datang adalah hal yang kini harus Kaniya lakukan.
Kaniya tidak mengijinkan Abian pergi ke kantor pagi ini. Ia ingin di temani suaminya bertemu dengan Ipeh yang akan datang pukul 8 pagi ini. Pikiran Kaniya kembali resah akan sebuah kebenaran. Bagaimanapun rupa tua dalam pic itu, tetap tidak mungkin mengikis keyakinan seoarang anak terhadap ibu kandungnya. Waktu ibunya pergi usia Kaniya 10 tahun. Tentu saja masih tersimpan dalam ingatanya, sosok seorng wanita yang melahirkan juga pernah dengan lembut merawat dan menyanyanyinya. Dan anehnya, selama menggantikan Bi Sitah di unit sebelah. Kaniya memang tidak pernah sekalipun berjumpa dengan bik Ipeh ini. Selalu berselisihan.
Ting tong.
Bel pintu unit itu berbunyi, Kaniya setengah berlalri membuka pintu. Mandapati seorang wanita dengan kemeja kembang-kembang dan rok berbentuk huruf A sudah dengan berdiri tegap di hadapan Kaniya.
Bersambung …