
Kaniya tidak bisa pergi begitu saja dari perasaan yang sudah lama tumbuh bahkan berakar dalam jiwanya. Perihal perasaannya pada Abian. Sehingga saat sambangi hanya beberap jam, oleh Abian pun. Untuk sementara ia bisa maklum.
Bukankah cinta memang harus berkorban, harus berjuang. Walaupun idealnya yang berjuang itu keduanya, bukan salah satu saja. Seperti Kaniya yang kini lebih mirip seperti pungguk merindukan bulan. Hanya terima saja kapan Abian bisa membagi waktu untuknya. Sisa waktu yang bisa ia luangkan dari pekerjaan dan istri yang katanya mau di ceraikannya demi Kaniya.
Kaniya mulai terbiasa dengan kehidupan barunya. Menjadi mahasiswi yang kesininya makin mandiri, Kaniya cukup trampil mengatur waktu dan semua keperluannya sehari-hari.
Melakukan apa-apa sendiri, membuatnya semakin terlihat manis dan dewasa. Ia menjadi lebih cepat matang dari usianya, tidak lagi menjadi anak manja. Sebab ia memang tak punya tempat untuk bermanja-manja.
"Ke lantai berapa?” suara bariton terdengar ramah di telinga Kaniya saat ia baru masuk lift akan menuju unit apartementnya. Walaupun lelaki itu terlihat harus menurunkan sebuah kotak yang lumayan besar. Agar ia bisa memencet tombol di belakang tubuhnya.
Kaniya agak kikuk, saat hanya dia dan seorang laki-laki saja dalam kotak persegi itu.
"Oh ... 5." Jawabnya cepat, untuk menghindar kontak mata yang lebih lama dengan pria yang memiliki suara bariton tadi.
Suasana jadi sunyi, sepi bagai tak berpenghuni. Seolah lift itu bergerak tanpa orang di dalamnya. Sampai pintu itu terbuka, keduanya sempat saling lempar pandangan untuk memastikan siapa yang lebih dahulu keluar. Agar tidak saling berdesakan.
Tetapi tangan lelaki tadi telah terulur le depan tubuhnya, menyilahkan Kaniya keluar lift itu terlebih dahulu. Dan Kaniya hanya mengangguk tanpa senyum. Melangkahkan kakinya meninggalkan pria yang tidak ia kenal.
Kaniya merasa langkahnya bagai di ikuti seseorang, tapi ia tidak perduli. Toh hanya butuh 10 langkah lagi ia sudah sampai pinty unitnya. Jika ada yang menguntitnya pun, ia hanya tinggal masuk dan mengunci dirinya dalam apartement yang sudah membuatnya nyaman, bahkan terbiasa dalam kesendiriannya.
"Oh ... kita tetanggaan? Boleh kenalan?" lagi lagi suara bariton itu terdengar ramah juga akrab di telinga Kaniya. Ia menoleh, benar saja. Pemilik suara itu adalah orang yang sama dengan yang menyapanya di lift tadi. Dan itu juga orang yang berjalan mengekor di belakangnya.
"Oh ... Di sebelah? Aku Kaniya." Akhirnya Kaniya merespon dengan ramah pada pria yang mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Tian." Jawabnya lebih ramah. Pria itu berpenampilan casual. Sepatu kanvas, celana levis belel, kemeja kotak² terbuka sebab ada kaos hitam polos di dalamnya. Rambutnya agak gondrong acak acakan lalu di ikat ke atas ala ala Messy Ponytail. Yang walau dengan kegondrongan itu, tetap menyisakan sisi kerapian di area dekat telinganya, klimis. Membuat penampilannya terlihat nakal elegant.
Cocok dengan bentuk wajahnya yang di tumbuhi sedikit rambut di sekitar pipi dan dagu. Macho.
"Boleh ikut masuk? Kita tetangga, jangan lupa... Konon kata orang tetangga adalah saudara terdekat." Hanya di awal terdengar seperti kalimat meminta izin, padahal tubuh lelaki bernama Tian tadi sudah lebih dahulu melangkahkan kakinya masuk dalam unit apartemen milik Kaniya, sungguh sok akrab.
Kaniya tidak sempat menolak. Dengan terpaksa ia menerima tamu dadakan di sore itu. Padahal ia merasan tubuhnya cukup Lelah seharian ini, setelah menemui dua dosen yang akan menajadi pembimbing Skripsinya. Ya … mata kuliah Kaniya telah habis. Tugasnya sekarang hanya seputaran pembuatan tugas akhir saja. Sehingga jadwal masuknya memang tidak rutin, tetapi sekali turun cukup menguras otaknya.
“Maaf Tian, aku tidak biasa meminum itu.” Kaniya sungguh jera dengan pengalamannya Bersama Bayu. Apalagi sekarang ia baru saja bertemu dengan orang asing. Walaupun berkedok tetangga, tetapi ia tidakk mengenal Tian sebelumnya, tidak sama sekali.
“Oh … maaf. Bagaimana dengan minuman bersoda ini saja.” Tian kembali mengeluarkan sabotol minuman bersoda yang sering Kaniya minum. Sehingga Kaniya tidak punya alasan untuk menolak pemberian Tian.
“Sepertinya kamu sudah memiliki persiapan untuk merayakan pertemuan perkenalan ini.” Kaniya overthingking. Tidakkah lelaki ini sudah lama mengincarnya, sebab ia terlihat memiliki persiapan matang saat bertrmu dengan Kaniya, bahkan di kali pertama mereka bertemu.
“Maaf … jangan berburuk sangka. Ini tidak sengaja, aku sudah seperti emak-emak yang selalu suka menyetok makanan dan minuman. Sebab jika sudah di dalam unit aku sangat malas keluar, walaupun itun berhubungan dengan kebutuhan perut kosongku.” Jelas Tian menunjukkan kotak yang ia gendong tadi. Iya … benar saja. Sepertinya dalam kotak itu banyak berisi stok makanan.
“Oh … “ Kaniya menjaga jarak pada Tian. Jika Tian memilih duduk di sofa yang biasa ia dan Abian gunakan untuk duduk bertumpuk atau bahkan bercinta. Kali ini Kaniya memilih kursi stole yang letaknya berhadapan berjarak meja dari tempat Tian duduk sekarang.
“Kamu sudah atau masih kuliah?” tanya Tian mulai kepo.
“Iya … tinggal menyusun skripsi.” Jawab Kaniya kaku. Obrolan itu lebih mirip tes wawancara kerja.
“Oh … aku sudah bekerja. Tapi pekerjaanku lebih banyak di rumah. Aku seorang Arsitek, yang lebih banyak mengerjakan pekerjaan ku di rumah saja, di tempat yang tenang, jauh dari hingar binger.” Tanpa di minta Tian sudah menjelaskan profesinya pada Kaniya.
“Oh …” Lagi-lagi Kaniya tidak punya ide untuk mengucap kata lebih dari dua huruf itu.
“Apakah kedatanganku mengganggumu …?” Tian menyadari jika lawann bicaranya tidak merespon dengan hangat pembicaaraan mereka. Itu bukan dialog dua arah, tetapi hanya searah.
“Kalau mengganggu sekali sih tidak. Hanya seharian aku sudah cukup Lelah di luar, dan aku ingin beristirahat.” Jujur Kaniya tanpa bas abasi.
“Tolong simpan nomormu di sini. Jika kedatanganku ini membuatmu tambah Lelah. Maka ku pastikan aku akan dating lagi di saat kamu sedang punya waktu senggang.” Dengan percaya diri Tian menyodorkan ponselnya, untuk meminta nomor ponsel Kaniya.
“Harus ya …?” Kaniya meragu. Merasa canggung dengan ke ssok akrab dan sok dekatnya pria bernama Tian ini.
“Sudah ku bilang, tetangga adalah saudara terdekat. Maaf, aku tidak baru sekali ini melihatmu. Walau aku baru satu bulan tinggal di unit sebelah. Tapi, selama kurang lebih kamu 2 minggu di sini. Aku tidak pernah melihatmu memiliki teman. Kecuali, pria yang datang bersamamu melihat unit ini untuk pertama kali. Dia siapamu …?”
Bersambung ….