LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 34 : KECURIGAAN ALICE



Kali ini Abian sungguh menetap di apartementnya bersama Kaniya. Kemarin mereka sudah melakukan pernikahan secara siri. Bahkan Tian di ajak serta sebagai saksi. Sekalian untuk Abian buktikan jika antara Kaniya dan Tian memang tidak ada hubungan spesial yang mungkin meresahkan di kemudian hari.


Tugas akhir Kaniya sudah di seminarkan. Revisian juga sudah ia kerjakan, sehingga tugas itu sudah siap di jilid. Itu artinya perkulihana Kaniya selesai. Hanya menunggu Yudisium dan Wisuda saja. Pernah berandai-andai menjadi istri Abian pun kini sudah menjadi kenyataan, walau hanya sebagai istri siri. Tapi bagi Kaniya itu sudah cukup melepas dahaganya selama ini.


Pergi berlibur setelah halal di jalur agama, juga merupakan impian Kaniya selama ini. Maka tak sulit bagi Abian mewujudkan semua itu untuk Kaniya. Gugatan cerai juga sudah Abian layangkan. Dengan alasan istri tidak mampu memberikan keturunan adalah poin utama yang Abian ajukan. Selanjutnyadi atur dengan apik oleh pengacaranya.


Hati Alice terlonjak kesenangan, saat melihat suaminya pulang. Ia kira Abian sudah berhasil menenangkan dirinya. Pasca pemeriksaan di klinik sepekan lalu. Ternyata ia salah. Abian memasang wajah dingin. Masuk kamar mereka hanya mengemasi pakaian lebih banyak dan mengamankan surat berharga lainnya.


“Mas dinas luar? Kenapa membawa surat penting?” tanya Alice dengan senampan minuman dan makan kecil seperti kebiasan mereka biasanya.


“Alice Hernawan, aku talak kamu. Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi.” Dengan lantang dan penuh kesadaran Abian sudah secara resmi memutuskan hubungan suami istrinya dengan Alice.


“Mas jangan bercanda dengan kata itu Mas, tarik kata-katamu.” Alice tidak terima. Mengapa segampang itu ia menjadi janda. Sependek itu sajakah pikiran seorang Abian perihal ketidakmampuannya memberikan keturunan.


“Aku sudah memikirkannya selama tujuh hari. Aku bukan malaikat yang suci. Masa laluku juga suram, aku juga pernah gila mencintai seseorang. Tapi tidak sampai jadi pembunuh. Bayi itu tidak berdosa Alice, kamu jahat.” Abian beralasan.


“Kita bisa bicara baik-baik dulu Mas. Kamu harus tau alasanku melakukannya.” Alice tetap tidak terima Abian tidak memberi kesempatan untuknya menjelaskan masa lalunya.


“Percuma. Aku tidak mau tau dan tidak mau mendengar apapun. Aku memaafkanmu. Tapi aku tidak bisa bersamamu. Gugatan cerai sudah ku layangkan. Selanjutnya pengacaraku akan menjelaskan perihal harta gono gini yang akan kamu dapatkan dari pernikahan kita.” Tegas Abian yang kemudianpergi meninggalkan Alice yang serta merta di rundung rasa sedih yang sangat luar biasa.


Keesokkan harinya, setelah pagi datang. Alice sudah tak sabar menghubungi seseorang.


“Vinda … apa bapak selama ini menginap di kantor?” Alice segera mencari informasi pada sekretaris Abian. Ia mengira pakaian yang di bawa Vinda sepekan lalu akan di letakan dalam lemari, di ruang an pribadi Abian tepat dalam ruangannya. Ya, di dalam sana ada kamar khusus. Mereka pernah bercinta di sana, saat Alice merasa perlu Abian menyemai benih di masa suburnya.


“Hah … tidak. Bapak selalu pulang cepat. Bahkan setelah meeting terlihat langsung pulang dan tidak kembali ke kantor.” Jawab Vinda apa adanya.


“Tapi bapak sudah sepekan tidak pernah pulang ke rumah Vin. Tepat setelah kamu ambil beberapa pakaiannya. Kamu ingatkan?” Alice mengingatkan Vinda.


“Iya saya ingat. Dan saya juga heran. Kenapa bapak minta saya ambil pakaian ke rumah, nyatanya bapak tetap selalu pulang.” Vinda menemukan lawan bicara perihal kebingungannya selama ini, tentang gerak gerik Abian yang mencurigakan.


“Tidak Vin, mas Abian sudah tujuh hari tidak pulang. Semalam dia datang, membawa pakaiannya lebih banyak lagi. Apa kamu mengetahui sesuatu tentang bos kamu itu?” Alice kehilangan rasa malu, dan memilih jujur resah dengan tindak tanduk suaminya. Eh, sudah jadi mantan suami belum sih.


“Oh … pakaian yang bapak bawa itu. Mungkin karena pagi ini dia melakukan perjalan bisnis ke London.” Itu informasi terbaru bagi Alice.


“Hah … dia ke London. “ Alice mengulang informasi. Sambil berusaha berpikir, jika kepergian suaminya itu sungguh hanya perjalanan bisnis, dan setelahnya akan pulang ke rumah mereka.


“Ada hal lain yang kamu rasa janggal terhadap Mas Abian akhir-akhir ini Vin ?” tanya Alice berusaha ingin tau lebih banyak.


“Oh … maaf bu. Saya tidak begitu memeperhatikan Pak Abian.” Jawab Vinda yang sesungguhnya bingung. Juga tidak puas berbicara lewat alat komunikasi yang kadang timbul tenggelam akibat signal yang tak selalu berpihak dengan penggunanya.


Alice tak puas, ia kemudian melakukan janji temu dengan Vinda. Tepatnya ia yang datang ke kantor Abian, sekalian mengacak-acak isi dalam ruangan suaminya berharap mendapatkan sesuatu di dalam sana yang bisa ia jadikan alat bukti. Bahwa perceraian mereka terjadi tidak hanya bermuara pada kesalahannya.


“Ini jus melonnya bu.”Vinda membawakan minuman pesanan Alice.


“Terima kasih Vin.” Jawab Alice masih duduk di kursi yang biasa Abian gunakan untuk bekerja sebagai pemimpin perusahaan itu.


“Semalam aku di talak mas Abian.” Dengan lantang Alice memberitahukan itu pada Vinda yang seketika melotot.


“Hah … ada apa?” Vinda sampai tidak sempat menyusun kalimat tanya dengan benar karena keterkejutannya.


“Kandunganku tidak sehat, kemungkinan untuk kami mendapatkan keturunan itu kecil sekali. Dan itu menjadi alasan utama Mas Bian menceraikanku.” Vinda menutup mulutnya yang ternga-nga dengan tangannya.


“Kan sekarang ga banyak metode agar bisa hamil dan punya anak bu.” Vinda merespon denganapa yang ada dalam pikirannya.


“Mesrtinya begitu. Tapi kok aku di cerai?” Alice sungguh tak habis pikir.


“Apa mungkin ada alasan lain bu. Jika hanya soal anak, ku kira tidak begitu signifikan.” Vinda memutar otaknya, membayangkan sosok baik Abian. Raranya tidak mungkinbosnya itu mempunyai pikiran sesingkat itu. Dan … dalam pikirannya, Vinda teringat akan gelagat Abian beberapa hari ini.


Abian yang terlihat ceria, lebih ramah juga sering cekakak-cekikik di ruangannya. Terlihat bahagia. Seperti sedang di goda dan menggoda. Tapi, ah… itu kan hanya beberapa hari saja.


“Apa pak Abian punya selingkuhan.” Ini masih dalam pikiran Vinda. Belum berani ia sampaikan pada Alice, sebab belum dapat di buktikan kebenarannya.


“Mas Bian itu baik, pengertian juga tidak mudah emosi. Jika hanya soal anak, ku rasa kami tidak secepat ini bercerai. Apakah mungkin Mas Bian punya selingkuhan …? Bagaimana menurut pantauanmu selama ini Vin ?” Tadi tuduhan itu hanya dalam pikiran Vinda. Namun Alice seolah cenayang dapat membaca pikiran orang lain, main tebak asal saja ia menyeletuk.


“Hah …?” Vinda lagi-lagi kaget atas tebakan istri bosnya itu.


Bersambung ….