
Mata Kaniya membesar, mulutnya tak bisa terkantup dengan rapat. Kulit mukanya tampak kehilangan banyak darah, seketika memucat. Melihat sosok wanita yang berdiri di hadapannya.
“Mama …?” Suaranya masih lantang saat melihat sosok di depannya. Kaniya tentu masih sangat mengenali ibu kandungnya sendiri. Sehingga kini, Kaniya sudah menyambar tubuh kurus itu.
Keduanya saling menangis tersedu, tak menyangka akan pertemuan tak di duga tersebut.
“Kaniya putriku …” tangis mereka menderu deru dalam pelukan yang semakin sesak dan makin erat.
“Mama kemana saja selama ini … apa kabar?” Kaniya melerai pelukannya, demi ingin memandang intens pada wajah wanita yang banyak kehilangan kecantikannya di masa muda, tergerus waktu juga kerasnya kehidupan yang ia hadapi.
“Masuk dulu …” Abian keluar kamar. Sedari tadi melihat dua wanita yang hanya saling berangkulan dan bertangis-tangisan di depan pintu.
“Dek Bian …?” tidak mungkin Veronia tidak mengenali adik iparnya bukan.
“Hah … Mbak Veronia.” Abian menyalimi tangan kakak iparnya dengan penuh hormat. Ia masih sangat ingat, betapa ramah istri kakaknya ini, jika tiap pulang ke desa menjelang lebaran. Mereka selalu membawa banyak makanan yang memang hanya di dapat dari kota. Sehingga itu adalah ajang yang selalu di nantikan Abian.
“Kalian tinggal berdua …?” Veronia agak bingung melihat putrinya tinggal berdua dengan adik iparnya tersebut.
“Mamah … Om Abi ini suaminya Niya.” Jelas Kaniya dengan bangga.
“Apaaa … suami. Ya Tuhan. Hubungan kalian Tabu, Niya. Dek Bian ini saudara papamu. Ya Allah, apa dosa ku di masa lalu, sehingga memiliki keluarga sehancur ini.” Veronia menangis sesungukkan tak sanggup akalnya berpikir dengan benar. Sudah cukup cobaan hidupnya di depak dari rumah suaminya dengan tuduhan selingkuh, padahal jelas-jelas itu tidak pernah ia lakukan. Dan Lihatlah, efek dari kepergiannya. Kini bahkan anaknya telah menikah dan bersettubuh dengan saudara suaminya atau pamannya sendiri.
Veronia mendadak pingsan.
Tak sanggup menyandang akan kenyataan yang sangat menyayat hati. Kaniya ikut panik, mendadak bingung dengan kondisi sang mama yang sungguh shock akan kenyataan ini.
Abian akhirnya memutuskan tidak masuk kerja, tidak bisa ia meninggalkan dua wanita yang kurang lebih hampir 14 tahun terpisah ini. Belum lagi kenyataan membuatnya pingsan. Membuat Abian sendiri bingung. Siapa yang bisa ia percaya. Hasil tes DNA dari Soraya atau keterangan dari Veronia sendiri.
Sejenak Kaniya melupakan makanan yang ia impikan. Baginya menelusuri sebuah kebenaran dari sang mama adalah hal terpenting untuk mereka gali.
Tetapi, bahkan saat Kaniya menyerahkan keperawanannya pada Abian pun, saat mereka memang saling tau jika mereka memiliki silsilah keluarga.
“Apa di dunia ini tidak ada laki-laki lain selain Dek Bian untuk kamu jadikan suami, Niya?” tanya Veronia saat sudah siuman. Kaniya menggeleng dengan tatapan mata bersalah.
“Tapi mengapa sampai menikah, jika kamu sayang. Cukuplah ia kamu sayang dan hormati sebagai pamanmu. Tidak mesti menjadi suamimu juga.” Veronia sangat menyayangkan kejadian ini. Tak sampai pikirannya mengapa putrinya jatuh cinta pada adik suaminya.
“Tidak hanya Niya yang salah Mbak. Tapi memang hubungan kami terlampau dekat sehingga rasa ingin memiliki dan di miliki itu menguat di antara kami. Lagi pula, hasil DNA itu sangat jelas menyatakan bahwa Kaniya bukan anak kandung mas Abrar.” Abian ikut duduk bersama untuk membela hubungannya dengan Kaniya.
“Hasil DNA apa? Siapa yang telah melakukan tes DNA …?” suara Veronia meninggi, merasa aneh dengan yang di katakan oleh Abian.
“Mbak Soraya …” Jawab Abian singkat.
“Astaga … mestinya kalian lebih peka dan bisa membedakan mana wanita sungguhan mana yang siluman. Soraya itu wanita ular. Penuh dengan kelicikan.” Ucap Veronia berapi-api.
“Kamu dulu memang terlalu kecil untuk tau urusan orang tua Niya. Dulu rumah tangga mama dan papa adalah impian semua orang. Mama dan papa itu menikah sungguh karena saling cinta, kami melewati masa penjajakan yang sekarang di sebut pacaran. Yang kemudian berujung di pelaminan. Hubungan kami harmonis, bahkan rejeki pun mengalir bagai air pasang yang tak kenal kata surut. Sebab usaha dan doa kami sangat di ridhoi. Tetapi cobaan itu bukan saja hal yang menyakitkan, sesuatu yang baik pun bisa jadi boomerang. Tidak semua orang suka melihat kesuksesanmu. Baik itu rumah tangga juga karier.” Veronia bicara tanpa jeda, juga dengan tatapan mata penuh mengenang masa lalu. Abian dan Kaniya menjadi pendengar yang baik saja. Memberikan waktu sebebasnya untuk Veronia mengungkapkan kebenaran di masa lalu.
“Hubungan kami baik, sebelum papa mu menjadikan Soraya sekretarisnya di kantor. Sejak itu semua malapetaka terjadi di rumah tangga kami. Namun, mama tetap berusaha sekuat tenaga mempertahankannya. Mama tetap berlaku sebagai istri yang patuh dan melayani papamu dengan tulus. Padahal, walailupun waktu itu dengan rasa jijik dan tak nyaman dalam melayaninya sebagai suami. Kadang terlintas sekelebat bayangan, bahwa tubuh yang berada di atas mama pun. Pasti juga sudah berada di atas tubuh wanita lain. Dan itu sangat menyakiti batin.” Veronia menyeka air matanya sendiri. Dadanya sesak mengenang saat tersulit dalam hidupnya.
“Soraya itu pintar dan licik. Ia mampi membuat segala sesuatu menjadi terlihat benar dan nyata. Mama dulu pernah memiliki kekasih bernama Arka. Dan saat itu kami tak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan, dan berakhir di sebuah meja makan. Sebab waktu telah siang, kami tidak berdua. Arka sudah beristri dan kami ngobrol bertiga waktu itu. Tapi entah bagaimana caranya, hingga Soraya mendapatkan foto kebersamaanku bersama Arka bahkan tanpa ada istrinya di antara kami.” Veronia menggelengkan kepalanya sendiri.
“Soraya sangat lihai memanipulasi, seolah mama yang berselingkuh. Dan dia berhasil merusak rumah tangga kami. Hingga mama di usir papamu. Dan kamu tau, saat mama pergi itu. Mama sedang mengandung 2 bulan. Adikmu laki-laki Kaniya, namanya Denoya Putra Waluya. Sekarang usianya 13 tahun, sedang duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kalian berdua adalah anak kandung mas Abrar. Mama yang paling tau siapa pria yang membuat mama hamil. Mama tidak pernah berselingkuh sebelum dan sesudah menikah dengan ayahmu Abrar Waluya.” Dengan tegas dan jelas Veronia memastikan itu pada Kaniya juga Abrar.
“Apa Denoya itu yang ada di pic profil mama?” Kaniya akhirnya bicara, setelah lumayan tertekan mendengar cerita yang sebenarnya.
“Benar. Itu dia, miripkan dengan papamu. Tidak perlu di tes DNA. Mama yang tau kepada lelaki mana saja pernah menyerahkan diri.” Jawab Veronia tegas.
“Apa mama menikah lagi setelah bercerai dengan papa?” tanya Kaniya ingin tau banyak tentang kisah hidup wanita yang terpisah lama dengannya.
“Iya … mama sempat menikah dengan seorang pria yang baru mama kenal. Tetapi setelah Denoya lahir kami bercerai.” Jawab mama Kaniya sendu.
“Kenapa bercerai …?”
Bersambung …