LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 59 : TERUNGKAP 3



Sumardi adalah nama seorang yang sudah berhasil di panggil penyidik atas perintah Tian. Lelaki berusia 54 tahun itu sudah di interogasi perihal pemalsuan surat keterangan hasil tes DNA atas nama Kaniya Putri Waluya. Dan sepertinya Sumardi tidak sesakti Soraya, belum apa-apa ia sudah mengaku salah dan mohon perlindungan hukum atas tindakan curangnya. Dari segi administrasi, ia sudah langsung di berhentikan secara tidak hormat oleh pihak rumah sakit. Selanjutnya nasibnya akan tergantung pada hasil keputusan hakim dan jaksa di sebuah pengadilan.


Namun, target Tian bukan Sumardi. Ia ada di dalam kantor polisi hanya di jadikan sebagai saksi yang membenarkan tindakan kriminal yang Soraya lakukan, dan ia sebagai korban. Korban yang di paksa untuk melakukan tindak kejahatan, dan nanti Tian akan tetap membantu Sumardi dengan hukuman seringan-ringannya.


Mata Soraya terbelalak melihat sosok yang tentu saja ia kenal. Sumardi sudah sejak tadi berada di pojokan itu, menunggu kedatangan wanita yang pernah menyuruhnya berbuat kecurangan. Saat itu Sumardi tak punya pilihan, saat ia sedang butuh uang untuk biaya operasi anaknya yang sedang kecelakaan. Tentu saja, itu bukan sesuatu yang di rencanakan dengan matang. Semua tak sengaja. Dan Sumardi tak berpikir panjang, jika perbuatan itu suatu saat akan di usut dan di munculkan ke permukaaan.


“Dengan ini, ibu kami nyatakan sebagai tahanan.” Penyidik dengan tegas menyampikan maksdunya pada Soraya.


“Tidak … itu hanya kekeliruan.” Soraya masih saja berusaha membela diri.


“Tidak. Ini bukan kekeliruan. Tapi kami adalah pihak yang merasa di rugikan atas tindakan anda.” Terdengar suara yang tidak asing dari belakang tubuh Soraya.


Yess, itu suara Abian. Abian dan Kaniya yang juga datang bersama untuk meminta pertanggung jawaban atas kepalsuan yang di buatnya.


“Abian … Kaniya …?” Ucapnya sedikit parau.


“Ini pak … kami juga punya beberapa bukti jika wanita ini melakukan penyelewengan dana, di perusahaan kakak saya. Juga beliau telah berlaku semena-mena terhadap seseorang. Untuk bukti, silahkan geledah rumah yang beliau tempati sekarang.” Abian penuh percaya diri menyerahkan dokumen yang tentu sudah di buat Tian dan TIMnya. Bukankah ia sudah menempatkan seseorang yang kemampuan meretas di atas rata-rata. Maka bukan hal yang sulit baginya untuk mendapatkan segala informasi dalam perusahaan yang ternyata tinggal selangkah lagi akan menjadi hak milik Soraya.


Handoko memang pandai menengadahkan tangannya pada Soraya istrinya. Tetapi bukan berarti otaknya tak pintar untuk memprovkasi Sraya untuk melakukan kejahatan. Handoko adalah dalang kejahatan Soraya sesungguhnya. Dia tidak semampu itu untuk berpikir sekompleks itu.


“Hei … br3ngsek apa yang kalian lakukan terhadapku. Apa salahku dengan kalian. Hah?”Soraya menghardik pasangan yang baru tiba itu.


“Kenapa masih tanya … salah mu apa? Kamu sudah berbohong. Kamu bilang melakukan pengobatan untuk Mas Abrar ke Singapura. Tunjukkan buktinya, minimal tiket pesawat yang kalian gunakan saat berangkat.” Abian berapi-api menuduh Soraya. Bahkan sudah tidak tersemat panggilan ‘mbak’ sebagai perwakilan rasa hormatnya pada wanita itu.


“Oh … itu. Em. Itu … ada . Semua ada ku simpan. Kalian jangan main-main dengan ku.” Masih. Soraya masih tak gentar dengan tantangan Abian. Setelah dia yang paling benar dan kini sebagai korban pelaporan salah sasaran.


“Semoga bukan bukti palsu lagi.” Ucap Abian dengan nada sinis.


“Hah … dasar pasangan b0doh. DNA itu palsu. Itu sungguh hanya rekayasa ku saja, dan lihatlah betapa b0dhnya kalian. Langsung percaya bahkan sampai berani membuang Alice, demi keponakanmu. Sebentar… apakah yang di dalam perut Kaniya sekarang hasil hubungan terlarang kalian …??? Ha … ha …” Soraya merasa bangga dengan jebakan yang di buatnya pada pasangan itu. Namun tanpa ia sadari, perkataannya tersebut justru menguatkan tuduhan jika ia memang memalsukan hasil tes DNA.


“Terima kasih Bu. Kami tidak perlu mengulang untuk bertanya. Dan mencari cara agar anda buka mulut, terkait pembuatan surat keterangahn hasil tes DNA yang membuat anda di panggil ke sini untuk di mintai keterangan. Sehingga kini Selamat, anda resmi kami nyatakan sebagai tersangka.” Tapa pikir panjang Polisi penyidik sudah menskak match, ucapan sekaligus pengakuan dari Soraya. Bukankah awanya ia ingin menyangkal. Namun dengan datangnya Abian dan Kaniya di sana, membuat proses penyelidikan berlangsung cepat.


“Ijin ndan, kami meminta surat resmi untuk penggeledahan rumah tersangka Soraya. Terkait laporan melakukan penganiyaan, penelantaran terhadap seseorang tersebut. Dan korban kini sudah di rawat di salah satu rumah sakit swasta, di tangani dengan intensif.” Datang lagi petugas pengayom masyarakat itu menghadap pimpinannya.


“Siap … akan segera di terbitkan.” Polisi itu membalikkan tubuhnya untuk memneri perintah pada bagian penerbitan surat yang di butuhkan anak buah lainnya.


“Penculik. Jelas kalian yang sudah menculik Mas Abrar. Kalian penjahat.” Soraya tak mau tinggal diam, tetap akan sekuat tenaga membela dirinya.


“Hah … siapa yang sudah di culik Bu?” tanya penyidik pada Soraya dengan nada penuh antusias.


“Eh … suami saya Pak Polisi. Sudah lebih dari sepekan hilang dari rumah.” Suaranya agak terbata, sudah tidak selancar tadi.


“Waah … ada kasus baru lagi ini buk. Kenapa ibu tidak melapor. Apalagi itu adalah suami ibu. Mestinya, jika sudah lebih dari 24 jam. Ibu harus membuat laporan pada kami.” Polisi itu tampak membuka lembaran baru pada buku catatannya, ingin segera membuat catatan jika itu adalah kasus baru.


“Ya … saya kira ia hanya sedang berlibur dan tak ingin di ganggu dahulu.” Soraya sudah mulai kehilangan modal untuk menjawab pertanyaan polisi.


“Apakah ibu sedang bertengkar dengan suami, bahkan sudah lebih satu minggu suami tidak pulang juga tidak di cari. Kalo istri saya, bu. Terlambat dua jam saja saya tidak memberi kabar saya di mana, bisa sudah lapor ke ketua RT lho, saking takutnya kehilangan saya.” Tentu saja Polisi itu sedang berusaha bercanda pada wanita yang menurutnya memiliki nyali petarung ini.


“Tidak … kami tidak sedang bertengkar. Dia itu stroke, kemana-mana harus di bantu. Dan jika dia hilang dari rumah, jelas ada orang yang telah menculiknya dari rumah. Dan itu jelas, Abian ini pelakunya. Segera saja tangkap dia pak.” Oh … Soraya tak mau sendirian di dalam jeruji besi, dia mau di temani oleh Abian di dalam sana. Sebentaaar, author carikan teman dulu buat Soraya di dalam penjara nanti ya.


“Waaah … mau cari teman dalam kurungan ya buk.” Kekeh Polisi itu, sembari menyerahkan surat ijin menggeledah kediaman Abrar. Untuk di cari apapun yang ada kaitannya dengan hilangnya Abrar dan bukti apapun yang bisa di gunakan untuk menguatkan siapa saja ayang akan menjadi kandidat menemani Soraya dalam bui.


Bersambung ….