
Suasana pagi di kediaman Abrar mendadak heboh. Karena pertanyaan Kimin si tukang kebun yang sebelimnya berniat akan membantu memandikan dan menyuapi makanan pada majikannya. Hanya Kimin yang setia pada Abrar. Sebab hanya Kimin yang masih bertehan bekerja di rumah itu sehaj Abrar pulang dari rumah sakit. Sedangkan para pelayan lainnya, sudah Soraya berhentikan dengan alasan pemangkasan biaya belanja rumah tangga. Demikian juga Kimin. Mengapa harus tukang kebun itu yang mengurus Abrar, tidak lain karena Soraya tidak mau keluar uang banyak untuk membayar jasa perawat untuk mengurus suaminya tersebut.
“Ada apa sih ribut-ribut …?’’ Bayu yang merasa pagi itu terasa lain terutama di area belakang pun merasa perlu untuk tau musabab keramaian tersebut.
“Abrar hilang, Bay. Coba kamu cek CCTV.” Soraya segera memerintahkan anaknya itu untuk memeriksa kamera pengintai yang terpasang hampir di seluruh penjuru rumah itu.
“Cek apanya, bukannya sejak ada pak Handoko di rumah ini. Semua CCTV di non aktifkan. Di samping itu, peralatan itu sudah banyak yang rusak. Karena biaya perawatannya di pangkas.!” Jawab Bayu sinis pada ibunya sendiri.
Bayu memang anak Handoko dan Soraya, tapi jujurly dia tak suka dengan tindakan sang ibu yang semena-mena pada Abrar. Terlepas dari Abrar lebih kaya dari ayah kandungnya. Tetapi Bayu sudah cukup besar untuk bisa menilai dan merasakan sendiri mana cinta yang tulus dan mana yang modus. Walaupun ia juga sejak awal tau jika Handoko adalah ayahnya. Dan sesungguhnya Bayu malu dengan kelakuan sang mama. Hal itu yang membuatnya lebih memilih bergaul akrab dengan narkoba. Sebab hanya saat mengkonsumsi obat itu, Bayu bisa lupa. Jika sang mama itu pelakor, penyihir ulung dan segala bentuk kesadisan dunia, pernah ia lakukan demi uang. Soraya sungguh gila akan harta dunia.
“Jadi gimana dong Bay, bantu mami cari solusi. Ini Abrar kemana?” Soraya agak panik dan hampir tak dapat berpikir dengan benar.
“Kenapa heboh …? Bukankah dengan hilangnya dia itu justru baik?” Bayu dengan santainya bicara sambil mengunyah roti panggangnya yang tersedia.
“Huuh … dasar anak tak berguna.” Soraya kesal, memilih berlalu dari ruangan belakang. Dan tujuan berikutnya ialah kamar Lidiya.
Sudah bulat keyakinnnya, jika Lidya pasti tau kemana pergi dan hilangnya Abrar. Soraya tergoph menuju kamar anak gadisnya.
“Bangun … Lidya. Pemalas sekali siih …!” Bentaknya setelahberhasil masuk tanpa permisi ke dalam kamar anak daranya yang memang masih bergelung dalam selimut. Lidya baru 2 jam yang lalu tertidur karena menonton drakor juga melepas rasa gundahnya, pasca obrolannya bersama Rio yang berpamitan, untuk pergi ke Singapura. Karena orang tuanya mendadak sakit.
Lidya dan Rio memang tidak jadian, hanya Lidya saja yang terlanjur baper akan tingkah laku Rio padanya. Belum 2 minggu dekat saja, Lidya sudah di belikan ini dan itu. Tanpa berpikir panjang. Dan bagi Lidya, Rio lelaki yang sopan. Yang tidak asal memperlakukannya. Rio selalu meminta ijin, termasuk mencium juga melakukan hubungan badan layaknya suami istri.
Lelaki sama saja, tak perlu menghitung hari, kenal dengan wanita. Selama akses itu mudah, dan lampu hijau menyala, gas keun. Bukankankah harga pengaman itu sangat amat terjangkau. Dan di jual bebas, maka. Mereka pun sudah melakukannya, di sebuah kamar hotel. Atas azaz suka sama suka.
Lidya tak merasa rugi, bahkan candu. Yess ... Dia tidak gadis lagi jauh sebelum kenal dengan Rio. Dan Rio tak merasa perlu membayar mahal setelah mencicipi tubuh itu, sebab anak itu memang terlihat ingin di sentuh dengan cara itu. Anak Pelakor, biasa aja kali ga perawan.
"Mami ... Apa siih berisik. Lidya ngantuk." Lidya membalik tubuhnya, menghindar dari suara keras sang ibu.
"Bangun ... Cepat bangun. Cepat tanyakan pada Rio. Kemana dia melarikan Abrar !!!" tanpa narasi apa lagi bukti, tuduhan itu melayang begitu saja kepada Rio.
Hal itu membuat Lidya terperanjat. Secara spontan segera bangun dan mendudukkan tubuhnya.
"Apa ...?"
“Ga mungkin Mam. Ngapain coba Bang Rio nyulik papa Abrar. Apa hubungannya?” Lidya serius.
“Nanti saja bicara soal hubungan. Tetapi dia adalah satu-satunya orang yang bisa masuk dan keluar rumah ini. Kamu taukan, jangankan orang asing. Bahkan Abian pun mami larang ke rumah ini lagi. Agar tidak ada yang kepo dengan keadaan Abrar yang tak layak hidup itu.” Soraya hanya bercashing manusia. Isi hatinya setan semua.
Lidya hanya diam. Memikirkan korelasi antara Rio dan lelaki yang mereka terlantarkan di kamar belakang itu. Bukankah selama ini Rio hanya pernah sekali, bertanya siapa lelaki yang ada di belakang. Yang sempat ia lihat saat pertama kali ke rumah itu, saat dia sakit perut dan di berikan obat pereda sakitnya tersebut.
“Lid … siapa laki-laki yang di kamar belakang. Saat kita ambil obat kemarin?” tanya Rio beberapa hari setelah kejadian pertama.
“Kerabat jauh.” Jawab Lidya dengan nada suara tenang.
“Kok bisa di rumah kalian?”
“Dia itu sakit, sebelah tubuhnya tak bisa bergerak normal. Anak dan istrinya sudah tak sanggup membiayai pengobatannya. Mamiku kasian, makanya mengijinkannya di rawat di rumah.” Bohong Lidya pada Rio.
“Oh …. Baik sekali kalian.” Hanya itu info yang bisa Rio korek dari Lidya. Sehingga Lidya merasa tidak memberikan informasi apa-apa yang berlebihan tentang Abrar. Lalu mengapa kini sang mama mencurigainya.
“Telpon … cepat telpon si Rio itu. Biar mami yang bicara dengannya.” Soraya masih penasaran. Juga sangat percaya diri, bahwa akan semudah itu mendapatkan informasi.
“Udah ga aktif Mam. Mendadak semalam mamanya sakit. Dan mereka sudah terbang ke Singapura, untuk pengobatan.” Jawab Lidya dengan cepat.
“Bercanda kamu. Memangnya ada penerbangan yang bisa dengan sesuka hatinya, kapan mau berangkat?” Soraya meremehkan informasi dari anaknya.
“Pesawat pribadi mam. Beneran, dia VC kok sebelum berangkat.” Waw … nampaknya sandirwara yang Rio atau Tian sungguh rapi dan sempurna. Bahkan Rio mereka setting pergi keluar negeri agar sulit di lacak, jelas ini bagian dari skenari jitu Tian.
Sementara di salah satu kamar sebuah rumah sakit. Abrar nampak berada di atas ranjang pesakitan, dengan segala peralatan medis lengkap. Setelah dilakukan pengecekan secara menyeluruh, selain stroke. Ia juga menderita kekurangan gizi. Tak heran bukan? Tubuhnya mati sebelah, mana bisa beraktivitas normal. Hidupnya hanya bergantung dengan Kimin yang tak tiap hari datang untuk memberinya makan.
"De ... Ini ayahmu. Ayah kalian berdua." Veronia memperkenalkan Denoya pada Abrar yang terlihat masih tidur nyenyak.
Bersambung ...