LOVE WITH MY HOT UNCLE

LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 29 : SIAL



Abian sadar sudah pernah melayangkan janjinya untuk menceraikan Alice. Dan ternyata tidak segampang itu. Bagaimanapun, Alicia terlalu sayang untuk di buang. Relasi bisnisnya sudah banyak tau betapa piawai istrinya itu melakukan tugasnya. Walau do perusahaan berbeda, namun berita ketenaran sang istri tentu sampai ke telinganya. Istrinya kadang di puja dan puji oleh rekan bisnisnya. Lalu, mengapa Abian tak merasa bangga memiliki istri yang nyatanya di idolakan oleh orang lain. Mau di buang pula, yang benar saja.


Tetapi hati Abian teriris, sat melihat tangisan Kaniya. Ia paham, betapa jalan hidup mantan keponakannya itu pernah suram akibat perceraian orang tuanya. Ia pernah berjanji menjadi orang yang tidak ikut menjadi penjahat dalam hidup Kaniya. Janji itu pernah terucap bahkan sejak usia Kaniya 10 tahun. Masa, Abian kini bagai monster yang mebuat kesayangannya tak lagi merasa nyaman.


Abian cukup frustasi dalam persimpangan ini. Tak dapat melepas yang satu demi membela yang lain. Dan tak dapat meraih yang satu, sebelum meninggalkan yang lain. Intinya Kaniya tak mau menjadi madu. Ia ingin menjadi yang satu-satunya wanita dalam hidup Abian.


“Mas … sepertinya kita sudah tidak dapat menunda lagi untuk segera melakukan pemeriksaan perihal kandunganku, juga kesuburan kita. Ini sudah hampir setahun kita menikah. Dan aku juga sudah siap menjadi seorang ibu. Bahkan aku tidak keberatan untuk resign dari pekerjaanku.” Alice merasa perlu fokus dengan rumah tangga mereka yang hanya terdiri dari dia dan Abian saja. Ia ingin memiliki ikatan lebih lagi dengan suaminya itu.


“Hem … kapan?” tanya Abian tak punya alasan untuk menolak.


“Pukul 10 nanti aku sudah buat janji dengan dokter kandungan. Mas juga akan di periksa, mau ?” tanya Alice hati-hati.


“Tidak masalah. Nanti ku jemput di kantormu. Kita bareng.” Jawab Abian.


Nah, istri mana yang mengira jika suami sedang merencanakan akan menceraikannya. Jika semua kehendak istri di lakukan dengan penuh kesadaran bahkan keikhlasan.


Tes kesuburan baik untuk wanita dan pria itu tidaklah memakan waktu yang lama. Hanya berkisar antara 30-60 menit saja. Kadang yang membuat lama hanyalah antrian jika di Rumah Sakit itu mengalami lonjakan psien yang memiliki kepentingan yang sama dengan pengunjung lainnya. Tetapi Alice sudah melakukan janji temu dengan sang dokter. Juga mereka memilih klinik swasta, bukan rumah sakit yang kemungkinan antrian panjangnya tak terkira. Sehingga mereka dapat menyingkat waktu.


Abian hanya memasang raut datar setelah mereka pulang dari klinik itu. Kalimat dokter kandungan itu terasa nyilu dalam hatinya.


“Bapak sehat dan subur. Hanya maaf, apakah ibu pernah melakukan aborsi atau keguguran sebelumnya? Atau pernah mengkonsumsi obat pencegah kehamilan, sehingga kandungan ibu kering. Perlu beberapa terapi untuk menyehatkan kandungan ibu, agar bisa hamil dan itu memerlukan waktu yang tidak sebentar.” Dengan sangat gamblang dokter itu menjelaskan. Tanpa perduli dengan wajah Alice yang bagai tertampar. Sebab itu di sampaikan di hadapan Abian suaminya.


Alice tak pernah terbuka soal pergaulannya sebelum bertemu Abian. Semua yang dokter kandungan itu sampaikan benar, aborsi dua kali, keguguran satu kali, dan meminum PIL KB itu ia lakukan berkali-kali. Saat hidup bersama kekasihnya di masa lalu. Ada yang ingin bertanggung jawab, tetapi orang tuanya tak setuju. Ada yang sudah di setujui. Tetapi calonnya fake. Begitulah rekam jejak percintaan Alice di masalalu. Dan Abian adalah tempat pelabuhannya yang terakhir, yang ia percaya dapat menerima apa adanya. Juga akan berjanji setia dan tak mengulangi perbuatan salahnya di masalalu. Maka sekuat mungkin ia akan bertahan menjadi istri Abian, itu harapan Alice.


“Mas marah …?” tanya Alice saat mereka di perjalanan pulang.


“Mengapa aku marah ?” tanya Abian dengan nada datar.


“Penjelasan dokter tadi semua benar Mas.” Ungkapnya sambil tertunduk.


“Aku tau kamu tidak perawan saat kita menikah. Tetapi aborsi itu menghilangkan nyawa seseorang Lic.” Jawab Abian kesal.


“Itu sudah berlalu dan aku tidak bisa mengembalikan waktu.” Jawab Alice meminta pengertian Abian.


“Iya … maaf. Itu hanya masa lalu. Aku tak punya hak menghakimimu.” Jawab Abian, yang kemudian menepikan mobilnya. Memilih turun, dan tidak merasa siap pulang bersama Alice.


“Mas kemana?” tanya Alice heran suamimnya turun dari mobil.


“Baiklah … pulanglah jika hati mas sudah tenang. Aku sayang kamu, mas.” Alice turun dan menarik tangan kanan Abian untuk ia cium punggungnya. Pertanda baktinya sebagai istri masih ada.


Hati istri mana tidak merasa bersalah. Akibat pergaulan bebas di masa lalu berakibat fatal di masa kini. Alice sudah mengaku salah, juga tidak menampik betapa buruk prilakunya di masa itu. Untuk itu, ia siap menerima hukuman dari suami. Memberikan waktu untuk Abian menenangkan diri.


Sementara Kaniya, dalam beberapa waktu sebelumnya sudah tidak lagi dalam duka nestapa. Tian si cahrming itu sudah kembali di unit sebelah. Butuh setengah hari bagi mereka berdua bertukar cerita. Bukan bertukar, hanya Tian yang tak hentinya bercerita tentang pengalamanya yang baru datang dari Kalimantan Selatan. Kata Tian, daerah itu banyak tambang, juga melahirkan banyak pengusaha kaya. Yang kerennya ia mendapatkan job dari beberapa teman yang merekomendasikan dia menggambar beberapa rancangan kantor cabang yang akan di bangun di sana.


“Sesibuk itu … sampai ponselmu tak pernah online.” Heemm … kenapa itu terdengar seperti sebuah keluhan manja dari seorang Kaniya yang membutuhkan konfirmasi.


“Taraaa … aku punya dua ponsel.” Kekehnya dengan memasang wajah sedikit lucu. Saat melihat mimik cemberut di wajah Kaniya. Mengangkat dua ponsel di tangannya.


“Huh … jadi ponsel yang biasa kamu pakai chat dengan ku yang mana?” tanya Kaniya.


“Yang ini, yang baru saja ku ambil dari kamar. Ponsel itu ku tinggal saja dalam keadaan mati.” Jawabnya cuek.


“Asem …” kekeh Kaniya merasa seperti orang bod0h.


“Kenapa … kehilangan aku kan? Jangan bilang kamu merindukanku, aku tidak selera denganmu. Simpanan om-om.” Hah… Tian bahkan mengejeknya dengan wajah bahagia.


“Sial-sialnya ku bertemu denganmu …” Kaniya ikut menertawai dirinya sendiri.


“Maaf .. ku cuma bercanda. Gimana Om mu itu, apakah ada menunjukkan kemajuan perihal perceraiannya?” kepo Tian di mulai. Kaniya hanya mengangkat bahunya.


“Gimana ..?”


“Beberapa hari lalu, Om Abi ke sini. Katanya akan tinggal dan menetap bersamaku di sini.”


“Jadi sekarang dia sudah menetap bersamamu …?” cecar Tian. Kaniya menggelang.


“Om Abi ku usir. Aku ga mau dia di sini, sebelum bawa surat cerainya.” Tegas Kaniya pada Tian.


“Hah … yakin mereka akan segera bercerai?” Tian bagai provokator membuat Kaniyta semakin risau.


Bersambung …