
Kaniya sudah melewati hal terpenting dalam tahapan perkuliahannya. Kurang lebih 6 bulan berkutat dengan Tugas Akhir beserta drama percintaan yang sedikit konyol antara dia dan Abian. Lihatlah, seminar Skripsi itu tidak soal satu atau dua hari. Tetapi memakan waktu berbulan bulan. Dan selama itu pula ia di ombang ambing janji palsu Abian.
Ide menceraikan istrinya sudah tercetus bahkan saat Kaniya resmi kehilangan keperawanan. Itu kurang lebih enam bulan yang lalu, saat Kaniya masih libur semester. Dan lihatlah apa yang terjadi ? Sampai kini Abian masih terlihat baik-baik saja bersama wanita bernama Alice itu. Beruntung Tugas Akhir ini sungguh menyita waktu dan pikirannya. Sehingga Kaniya tidak merasa begitu teraniyaya oleh janji yang di kemas Abian dengan sangat manis dan apik.
Belum lagi ada Tian, tetangga baru yang sangat banyak menghibur Kaniya. Walau status mereka hanya sebatas teman terpisah tembok saja. Tetapi, untuk hubungan tanpa status ini cukup aman bagi keduanya. Yang melakukan kontak fisik hanya sekedar bergandengan tangan, saling memukul manja antara satu sama lain. Selebihnya, mereka lebih memilih menyalurkan pada pasangan mereka masing-masing. Jika itu memang sudah seharusnya mereka salurkan.
Mengantar Kaniya ke kampus saat seminar ini, bukanlah yang pertama kalinya di lakukan oleh Tian. Sebelumnya juga sering di lakukannya terlebih dalam rangka menemui dosen yang alamatnya lumayan jauh, kadang Kaniya tak sungkan meminta tolong pada Tian yang memang seperti selalu ada waktu untuk Kaniya di sela kesibukan dan jadwal bercintanya pada wanita-wanita yang datang silih berganti menyambanginya di unit apartementnya.
Dan hari ini, Tian tampak sabar menunggu Kaniya dalam mobilnya. Dengan suasana hati yang meletup-letup ingin segera menunjukkan sesuatu pada Kaniya, wanita simpanan Abian itu. Mata Tian berbinar-binar saat melihat si cantik Kaniya itu sudah berjalan menuju mobil Tian.
“Kenapa?” Heran Tian memandang wajah Kaniya serius.
“Harus di revisi. Tapi hanya beberapa. Dan sudah di jelaskan bagian mananya, juga dipastikan lulus setelah revisi itu, baru di jilid.” Jawab Kaniya tanpa jeda.
“Yess. Selamat ya … itu artinya ACC.” Tian menjabat tangan Kaniya erat.
“Syukurlah.” Kaniya menghembuskan nafas panjang hingga merasa lega.
“Kita kemana dulu nih. Makan atau ke suatu tempat?” tanya Tian memebri pilihan.
“Ini baru pukul 10 lewat, terlalu pagi untuk kita makan siang.” Kaniya melihat angka yang tertera pada jam tangannya.
Sembari Kaniya bicara, Tian sudah mengirimkan beberapa foto ke ponsel Kaniya.
“Foto apa ini …?” Kaniya bingung dengan kiriman dari Tian.
“Itu mobil Om kamu itu bukan?” tanya Tuan agar Kaniya lebih jeli memeperhatikan kirimannya.
“Oh iya … ini di mana?” Kaniya menzoom pic itu dan dapat membaca sendiri alamat di mana pic itu di ambil.
“Klinik kandungan.” Kaniya tadi bertanya, dan kini menjawab sendiri pertanyaannya.
“Iya … Om Abian sedang bersama istrinya di sebuah klinik kandungan." Jawab Tian.
"Mereka ngapai di sana?"
"Servis mobil." Jawab Tian lagi yang di balas delikan dari Kaniya.
"Pilihannya adalah istrinya hamil, istrinya mengalami keguguran atau mereka akan melakukan program kehamilan.” Sesuka hatinya saja Tian menebak dan menerka-nerka.
“Bisa kita ke sana untuk memastikanya?” Kaniya penasaran.
“Let’s go.” Tian menurunkan tuas rem tangan mobilnya. Kemudian segera meninggalkan parkiran kampus menuju klinik yang sudah ia ketahui di mana.
“Sudah ku bilang, detektif pun pernah menjadi klienku. Lalu, apakah aku tak boleh minta bantuan mereka?”Tian berdalih memiliki banyak kolega yang hebat untuk urusan melacak data seseorang.
Jarak Kampus Kaniya dan Kilinik itu sangat jauh, bukankah Kaniya memang bagai di lempar berkuliah di pinggiran kota agar tidak mudah di temui. Sehingga, mobil Tian dan Abian terselisih di pintu gerbang yang berbeda. Mobil Tian di gerbang pintu masuk, di saat yang sama mobil yang di bawa Abian pun sedang berada di gerbang pintu keluar.
“Itu mobil Om Abi.” Tukas Kaniya yang hafal dengan kendaraan roda empat milik kekasihnya, bukankah ia pun sering bercinta di atas jok mobil itu, saat mereka sama-sama tak dapat menahan naafsu biadapnya.
“Kita terlambat … apa menurutmu kita ikuti mobil mereka?” tanya Tian pada Kaniya.
“Menurutmu …?”
“Kita cari tau dulu apa yang mereka lakukan di sini tadi.” Tian sudah memarkirkan mobilnya pada tempat yang nantinya akan mudah untuk keluar.
Informasi tidak semudah pikiran Tian untuk di dapatkan. Tetapi Tian selalu punya trik untuk membuka mulut orang terbuka, demi mendapatkan informasi.
“Oh … pasangan tadi. Tidak, istrinya tidak hamil. Untuk itu mereka sedang melakukan tes kesuburan dan akan melakukan jadwal untuk program kehamilan.” Itu informasi yang Tian dan Kaniya dapatkan dari perawat yang berhasil di mintai keterangan oleh Tian.
“Gimana …?” Tian tau hati Kaniya hancur mendengar informasi itu.
Kaniya itu cinta mati pada Abian. Siap menunggu dudanya. Tetapi kapan ia akan menjadi duda, bahkan kini ia akan melakukan program kehamilan bersama Alice. Artinya mereka sangat menginginkan memiliki anak bukan, lalu janji menceraikan Alice itu apa.
“Kita pulang ke apartement saja. Pikiranku sedang tidak baik-baik saja.” Kaniya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil Tian. Kenyataan ini bahkan di rasakannya lebih pahit daripada Skripsi yang tadi sempat di coret dengan garisan panjang oleh dosen penguji. Atau hari itu memang di ciptakan khusus untuk Kaniya berpatah hati ria.
[Pak Tian, maaf. Tadi yang mau bekerja di rumah bapak datang kerumah. Tapi bapak tidak ada. Dia mengantarkan lauk dan nasi untuk makan siang bapak. Dan katanya di titip di lobby. Tolong di ambil ya pak] pesan itu di kirim oleh Bi Sitah. Pembantu paruh waktu Tian yang sangat memperhatikan makanan untuk Tian.
[Iya bik, nanti saya ambil. Sampaikan terima Kasih saya untuknya. Semoga bibik cepat sembuh] balas Tian untuk Bi Sitah.
“Kita makan di mana?” Tian tau Kaniya sedih, tapi ia tidak mengijinkan Kaniya terjebak dalam rasa lapar yang mungkin akan berujung sakit dan sebagainya.
“Ku mau pulang saja. Dan tidak lapar.” Jawab Kaniya uring-uringan.
“Makan itu ga usah nunggu lapar. Kamu sedang marah dengan Abian, dan marah itu butuh tenaga. Jadi wajib makan, biar kuat marahnmya.” Kekeh Tian mencubit hidung Kaniya.
“Bawel.” Jawab Kaniya menyunggingkan senyumnya. Selanjutnya tidak ada obrolan. Dan sesampai di lobby apartemet, Kaniya tidak menunggu Tian, ia segera masuk, ingin segera menumpahkan kesedihannya di kamar mandi. Selalu begitu, menangis di bawah guyuran shower adalah hal ternyaman bagi Kaniya melepas sedihnya.
Ting Tong
Entah sudah berapa kali bel itu di bunyikan, dan Kaniya terlalu asyik dan lama dalam kamar mandi. Sehingga walau hanya dengan baju mandi dan lilitan handuk di kepalanya, Kaniya segera membuka pintu. Ia tau itu pasti Tian.
Bersambung…